The Devils : Amarah


Matahari kini sudah bersembunyi, kegelapan datang menyelimuti Seoul. Kota yang tak pernah mati, akan selalu ramai dengan manusia dan kendaraan yang berlalu lalang. Rasanya ingin sekali Seulgi pindah ke pulau Jeju, pulau di mana ia di besarkan oleh seseorang yang sangat berjasa bagi hidupnya begitu pula dengan adiknya, Kang Hojung. Keasrian pulau Jeju masih bertahan dari dulu hingga sekarang. Sungguh ia ingin sekali kembali tinggal di sana.

Seulgi yang sedang menikmati segelas whiskey sembari menatap ke arah pemandangan kota Seoul mendengar teriakan dari dua orang yang ia sangat kenal. Sudah pasti itu suara dari Sohee dan Yoonjung. Mereka sama sekali tidak pernah berubah dari ia mengenal mereka pertama kali.

“Aaaaa Soheeeeee.”

“Yoonjuuuuuung.”

“Seulgi mana?”

“Di ruangan nya.”

“Wah gila udah lama banget lo nggak ke sini.”

Begitulah kira-kira suara yang di tangkap oleh kuping Seulgi. Sekedap apapun ruang kerjanya, tetap saja ia dapat mendengar suara sekitarnya dari jarak yang cukup jauh. Tidak normal? Ya memang ia tidak normal. Tak lama pintu ruangan terbuka, menampilkan sosok adiknya, Kang Hojung.

“Di mana cewe si CEO baru?”

“Di rumahnya,” Kini Seulgi membalikkan badannya mengarah pada Hojung yang sudah duduk di sofa dengan kakinya di atas meja. Seulgi menawarkan whiskey pada Hojung.

“Nah! Gelasnya aja sini,” tak butuh waktu lama, Seulgi melempar gelas kosong ke arah Hojung. Gelas tersebut mendarat dengan sempurna di tangan Hojung.

“Gimana di sana? Aman?” tanya Seulgi yang sudah duduk di hadapan Hojung seraya meneguk whiskey.

“Sedikit mebosankan,” Hojung mengeluarkan sebuah kantung darah dari jaket nya, lalu menuangkannya ke dalam gelas. ”Mau?”

Dengan cepat Seulgi menggelengkan kepalanya “No thanks, whiskey is better.”

Sebenarnya Hojung sudah tau kalau Seulgi akan menolak tawarannya. Ia akan berusaha untuk tidak meminum darah manusia lagi, walau ia harus menusukan kayu pada jantungnya agar dapat menahan nafsunya. Bukan ia tidak suka, dahulu ia sangat tergila-gila terhadap darah manusia. Ada satu hal yang membuatnya berhenti, ketika orang yang ia sayangi mati karena ulahnya sendiri.

“Apa lo nggak mau cobain dia?” tanya Hojung yang menyeringai ke arah Seulgi.

“Tidak akan pernah.”

“Biar gue yang cobain dia, kebetulan stock gue habis,” Seulgi langsung melompat ke arah Hojung dan mendorongnya ke lemari buku hanya menggunakan satu tangan. Lemari buku seketika hancur karena hantaman keras dari tubuh Hojung. Tak hanya itu, kini Seulgi mencekik leher Hojung dan mengangkat tubuhnya membuat Hojung sulit bernapas.

“Don’t you dare to touch her!!” selaput mata Seulgi kini berubah warna menjadi hitam pekat. Menandakan monster pada dirinya sedang mengambil alih tubuhnya.

“Haha... why?” Hojung menatap mata Seulgi seraya tangannya memegangi lengan Seulgi. Sudah sangat jelas jika Seulgi seperti ini, maka wanita tersebut sangat special baginya.

“SHE’S MINE!!!” Seulgi semakin memperkuat cengkraman tangannya pada leher Hojung, membuat adiknya semakin sulit untuk bernapas.

“Owh... kay… okay… you won… lepasin… oksigen…,” Hojung menyerah sembari menepuk-nepuk lengan Seulgi, ia tak mungkin dapat mengalahkan kekuatan kakaknya.

Setelah mendengar permohonan Hojung, Seulgi melepaskan cengkraman tangannya, membuat Hojung terjatuh lemas di lantai. “Uhuk! Uhuk! Uhuk!” tak tega melihat adiknya tersungkur lemas, Seulgi membantu adiknya untuk berdiri. Hojung menarik napas dalam sambil memegangi lehernya yang merah akibat cekikan Seulgi.

“Wuuuuuuhuuuu! Damn girl! So hurt…,” Hojung menggelengkan kepalanya untuk menormalkan rasa nyeri pada lehernya.

“Rapihin lagi buku bukunya,” Seulgi meninggalkan ruang kerja lalu menuju kamarnya. Hojung baru menyadari lemari buku milik kakaknya sudah hancur, menyebabkan banyak buku-buku yang berserakan di lantai.

“Oh... shit… banyak banget bukunya… Aw… Aw… Aw... Massage enak kayanya... Aw....”