Asing
Sesuai dengan janjinya, Seulgi mengantarkan Irene pulang. Bukan hanya sekedar mengantar nya pulang, namun Seulgi ingin tahu di mana Irene tinggal. Suasana di mobil terasa canggung, bagaimana tidak, baru saja di terima kerja sekarang sudah di antarkan pulang oleh atasannya, lebih tepatnya pemilik perusahaan ia bekerja. Namun Irene tidak diam saja, ia mengarahkan jalan menuju rumahnya pada Seulgi.
“Di depan kanan atau kiri?”
“Ke kiri”
“Okay…” Seulgi mengikuti arahan dari Irene.
”Nanti berhenti di belakang mobil putih itu aja” Seulgi memarkirkan mobilnya di pinggir jalan sesuai yang di minta Irene.
”Sampai, di mana rumahmu?” Seulgi menatap Irene.
”Rumah saya masuk ke dalam gang itu, mobil nggak bisa masuk bu, gi, aish… maksud saya Seulgi…”
”Hahaha santai aja Irene, di panggil apapun saya tidak masalah, asal jangan ibu, saya memang tua tapi saya tidak suka”
”Baik… Seulgi… hehe, kalau gitu saya duluan, terima kasih atas tumpangan nya” Irene menundukkan kepalanya lalu segera keluar dari mobil. Seulgi segera mengambil paper bag di jok belakang dan turun untuk mengejar Irene.
”Saya antar sampai depan rumah mu”
Irene membalikkan badannya melihat Seulgi yang mengikuti dirinya. ”Eh jangan, nanti kamu kelelahan, karena jalanan nya nanjak”
”I’m fine, don’t worry. Sekalian saya ingin tahu di mana rumah mu” Seulgi membalikkan badan Irene agar segera jalan, Irene pasrah hanya menuruti keinginan atasannya. Kini Seulgi mengikuti langkah Irene seraya pandangannya menelusuri lingkungan tempat tinggal Irene.
”Ibu, maaf Seulgi apa tidak sibuk sampai mengantarkan saya pulang?” Irene melirik Seulgi yang berada di sebelah nya.
”Saya ownernya, mengapa harus sibuk, sudah ada kamu, boneka saya” mendengar kata boneka dari mulut Seulgi membuat Irene merinding ngeri.
”Haha tenang aja selagi kamu tidak macam-macam saya tidak akan melukai mu, saya janji” Irene harus extra berhati-hati, bisa-bisa salah sedikit dirinya akan tamat.
Setelah berjalan cukup jauh, Irene menghentikan langkahnya, di ikuti dengan Seulgi. Seulgi menatap Irene heran. ”Sudah sampai, ini rumah saya” mata Seulgi langsung tertuju pada rumah Irene yang terbilang sangat kecil.
”Kecil tapi rasanya sangat nyaman”
”Ini satu-satunya rumah peninggalan orang tua saya, walau kecil tapi nyaman”
”Apa kamu pelihara hewan? Anjing misalnya?”
”Dulu memang saya pelihara anjing, tapi sudah lama mati”
”Ah seperti itu, baik, sepertinya saya harus segera pergi, ini buat kamu” Seulgi memberikan paper bag pada Irene.
”Apa ini?” Irene mengambil paper bag pemberian Seulgi.
”Itu buku tentang bagaimana menjadi seorang CEO. Saya mau kamu harus sudah baca sampai tuntas malam ini” Irene mengambil buku yang di maksud Seulgi, matanya membulat terkejut saat melihat tebalnya buku itu mengalahkan tebal kamus bahasa inggris.
”Tapi…”
”Jangan menolak, ini tugas pertama kamu” Irene menghela napas panjang, bagaimana ia dapat menyelesaikan buku ini dalam waktu semalam. Karena ini adalah tugas pertamanya, mau tak mau ia harus menerimanya.
”Baik saya akan baca sampai tuntas malam ini”
”Good, sekarang kamu masuk”
”Iya, terima kasih sudah mau mengantarkan saya dan memberikan buku ini” Irene membukukan badannya. ”Saya masuk dulu” segera Irene masuk ke dalam rumahnya.
Seulgi masih berdiri di depan rumah Irene, memastikan kalau Irene sudah masuk ke dalam rumahnya. Setelah itu Seulgi berjalan memutar untuk menelusuri lingkungan sekitar rumah Irene. Sangat sepi. Bahaya sekali jika Irene berjalan seorang diri di malam hari. Bisa saja ada yang ingin berniat jahat padanya. Langkah kakinya kini membawa Seulgi pada gang yang lebih sempit dan sangat gelap.
Seulgi terus berjalan, namun dirinya merasakan ada yang mengikutinya di belakang. Seulgi mempercepat langkahnya, dan segera bersembunyi. Benar saja seorang laki-laki mengikuti dirinya dan mencari keberadaanya. ‘Wolf…’ batinnya. Tak mau mencari masalah, Seulgi segera menuju mobilnya dan meninggalkan daerah tersebut.