Berita Penting
Pukul 13.23 Seulgi sudah sampai di apartemen nya. Badannya sedikit pegal pegal akibat tertidur di mobil selama perjalanan Bandung-Jakarta. Karena terbiasa membawa mobil, saat menjadi penumpang rasa kantuknya selalu datang setiap saat. Namun saat kakinya baru menginjakkan lantai lobby, rasa bosan dan kantuk itu berubah menjadi rasa senang. Tentu saja ia sangat senang akhirnya ia dapat bertemu dengan pujaan hatinya. Segera langkahnya menuju lift untuk naik ke lantai 5 dimana unit apartemen nya berada.
Ketika sudah sampai didepan pintu, hatinya begitu berdebar. Bukan karena ia rindu dengan sang pacar, namun ia gelisah karena sebentar lagi akan melamar pujaan hatinya. Lengannya meraba-raba kantong celana belakangnya, untuk memastikan jika kotak cincin yang ia sudah beli tidak terjatuh. Kotak kecil tersebut masih berada di dalam kantong celananya. Ia mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam apartemen.
“I’m home”
Tak ada jawaban. Netra nya kini menelusuri setiap sudut ruangan. Namun ia tidak dapat menemukan pujaan hatinya.
“Sayang?” sebuah suara muncul dari belakangnya. Segera ia berbalik badan dan melihat sosok yang ia rindu kan.
“Aku kira kamu ke…” sebuah pelukan mendarat pada tubuhnya. Irene kini memeluk Seulgi dengan erat.
“Miss you too baby” dengan lembut Seulgi mengusap kepala Irene.
“Kangen ya? Maaf ya bikin kamu sendirian di sini” Irene masih tidak bergeming.
Cukup lama Irene memeluk Seulgi. Kemudian Irene melepaskan pelukan nya dan menatap kedua mata Seulgi. Terlihat mata Irene yang sembab. “Hey kok nangis hm? Kan aku udah pulang, udah di sini sayang”
“Aku punya berita penting…” ucap Irene lirih.
“Aku juga punya berita penting…”
“Yaudah kamu dulu”
“Engga engga, kamu dulu aja aku nanti terakhir” Seulgi tersenyum lebar.
“Ini” Irene memberikan sebuah kartu undangan pada Seulgi.
“Apa ini? Siapa yang nikah?” Irene menundukkan kepalanya tak menjawab pertanyaan Seulgi. Pada undangan tersebut terdapat nama yang tidak asing bagi Seulgi.
“Maksudnya apa ini? Siapa Suho? Kenapa nama kamu ada disini?” Seketika raut wajah Seulgi berubah.
“…aku bakal nikah sama dia…” Irene masih tidak berani menatap Seulgi.
“Haha kamu pasti bercanda ini, kamu pasti bohongkan? Hm? Bilang sama aku ini cuma prank?” Seulgi sedikit menundukkan tubuhnya untuk menatap wajah Irene.
“Maafin aku…” lirih Irene yang tak kuasa menahan tangis nya.
“Pasti kamu bercanda ini haha… nggak mungkin… aku sayang kamu Irene…” Seulgi masih tak percaya dengan semua ini, pipinya kini sudah basah dengan air matanya.
“Aku juga sayang kamu…” Irene memberanikan untuk menatap Seulgi dan tangannya yang bergetar mengusap perlahan pipi Seulgi.
“Kenapa…” ucap Seulgi begitu lirih.
“Mari kita akhiri hubungan ini…” Irene mengecup pipi Seulgi begitu lama. Seulgi hanya diam tak bergeming. Ia tidak tau harus bagaimana. Hatinya begitu hancur. Seharusnya bukan ini yang ia inginkan.
“Aku pamit…”