BIFAMS: Beginnings One
“Duh dek mami sakit perut lagi,” ucap Tiffany pada Sarang yang tengah asik mengunyah bubur bayi.
“Bwaaa bwaa bwaaaa,” Sarang mengoceh tidak jelas sembari matanya menatap pada mangkuk bubur miliknya.
Tiffany masih menyuapi Sarang sambil menahan rasa sembelit, Winter turun dari lantai dua menuju dapur untuk mengambil botol minum yang ada di kulkas. “Kak, tolong suapinin adek dulu, mami sakit perut ini,” Tiffany memberikan mangkuk Sarang pada Winter begitu saja dan berlari menuju kamar mandi.
“Ih kok jadi aku sih mih! Mih! Argh!” kesal Winter.
“Maaaa maaaaam!” Sarang menatap Winter sembari menepuk-nepuk meja baby chair.
“Apa lo liat-liat?!” Winter melototi Sarang dengan tujuan agar Sarang takut padanya, namun Sarang ketawa melihat raut wajah kakaknya yang menurut Winter itu seram.
“Dih malah ketawa lo, mau ini? Diet lo makan mulu,” dengan sengaja Winter memakan bubur bayi milik Sarang hingga kandas.
“Enak juga njir…,” Sarang yang melihat buburnya di makan oleh Winter langsung menangis.
“Dih gitu aja nangis, cengeng lo,” ucap Winter yang tidak peduli Sarang masih menangis.
Jeongyeon yang baru pulang, melihat Sarang menangis langsung berlari menghampirinya, “Kok nangis cantiknya Kakje,” Jeongyeon menggendong Sarang untuk menenangkan adiknya.
“Lebay banget dah,” ucap Winter.
“Lo apain Sarang?!” Jeongyeon mendorong badan Winter sedikit keras.
“Biasa aja dong anjeng! Adek lo tuh lebay buburnya abis aja nangis, cengeng!” protes Winter.
“Lo yang abisin? Maksudnya apa? Ngajak berantem?” Jeongyeon yang tersulut emosi mendekati Winter sembari menggendong Sarang yang semakin menangis keras karena melihat kakak-kakanya adu mulut.
“Nggak takut gue sama lo, siapa lo emang?” ucap Winter yang menantang Jeongyeon untuk berkelahi.
“Anjing emang kelakuan!”
“JEONGYEON!!” Jeongyeon yang ingin memukul Winter tidak jadi karena teriakan Tiffany.
“Apa-apaan sih kalian?!!” bentak Tiffany lalu mengambil alih Sarang dari gendongan Jeongyeon.
“Minggir lo,” Winter pergi begitu saja melewati Jeongyeon dan Tiffany.
“Kenapa sih kalian?!”
“Nggak apa-apa mih, maaf ya Sarang Kakje khilaf,” Jeongyeon mengecup pipi Sarang dan Tiffany, “Aku ke kamar dulu ya mih, dadah Sarang.”