BIFAMS : Missing Five
Sekian lama Winter mengikuti mobil penculik tersebut, kini ia berhenti di sebuah daerah pabrik tua yang sudah terbengkalai lama. Disana terdapat beberapa gedung yang berjejer. Winter tidak mengetahui dimana penculik tersebut bersembunyi. Tak ingin buang waktu, ia berkeliling menggunakan motor untuk mencari Sarang.
Ketika hendak menuju gedung ketiga, ia dikejutkan oleh bongkahan batu sedang melayang mengenai kepalanya dan membuatnya terjatuh dari motor. Kepalanya terasa pening dan nyeri akibat lemparan batu yang entah berasal dari mana. Ia mencoba bangkit dan menetralkan pandangannya yang sedikit kabur, kini di hadapannya ada tiga preman menatapnya sembari memegang balok kayu. Matanya menatap satu persatu sembari memegangi kepalanya, dan melihat tangannya yang hampir penuh dengan darah segar.
“Shit! Dimana adek gue?!” ucap Winter.
“Adek lo? Hahaha” ucap salah Satu preman.
“Adek lo udah mati! Hahaha,” mendengar omong kosong preman tersebut membuat amarah Winter meningkat.
“Gue bilang sekali lagi, dimana, adek, gue, sekarang?” Winter menatap tajam preman preman di hadapannya.
“Lo budek apa gimane? Dibilang adek lo mati! Eh apa udah dijual ya? Hahaha… Aakhh!!” seketika sebuah pisau besar menancap di kening preman tersebut hingga tewas seketika dan membuat preman lainnya terkejut.
“Woy anjing lo!”
“Cewek perek!”
Winter berlari menuju dua preman yang masih hidup dan menghajar nya tanpa ampun. Ia sangat bersyukur ilmu bela diri yang ia lakukan setiap minggu akhirnya berguna juga untuknya. Namun ia lengah ketika mendengar suara tangis Sarang yang berasal dari dalam gedung. Ia terkena pukulan keras di punggung dan wajahnya membuat ia terkapar ditanah.
“Harus di kasih pelajaran nih bocah!”
“Bawa ke dalem!”
“BANGUN WOY!!” teriak salah satu penculik sembari menyiram air pada wajah Winter agar ia tersadar.
Winter membuka perlahan matanya dan menatap beberapa preman yang tengah menatapnya, ia terkejut saat tangannya diikat pada tiang yang membuat dirinya sulit bergerak.
“Brengsek emang nih bocah berani nya bacok temen kita,”
Winter melihat Sarang yang masih saja menangis di gendongan salah satu preman perempuan, “Lo butuh uang berapa? Satu miliar? Dua? Satu triliun?”
“Gue mau sepuluh triliun atau adek lo mati ditangan gue,” ancam salah satu preman yang diduga boss nya mereka.
“Deal! Asal lo lepasin gue sama adek gue, gue bakal kasih uang yang lo mau,” ucap Winter.
“Hahahaha!” preman tersebut menampar pipi Winter dengan keras lalu mejambak rambutnya, “Gue nggak sebodoh yang lo kira!”
“Oh pinter ternyata, di atm gue ada duit 100M, DP dulu gimana? Lo bisa cek saldo di m-banking gue sih,” ucap Winter.
Preman tersebut langsung memeriksa ponsel Winter yang ia sita lalu minta password ponsel nya dan m-baking, tanpa ragu Winter memberi tahu password kepada mereka dengan tangannya bergerak mencoba untuk lepas dari ikatan tali. Winter masih memantau situasi untuk siap menyerang mereka. Ketika para preman tengah fokus pada isi saldo bank milik Winter, ia segera mengambil balok kayu yang tak jauh dari tempat ia diikat lalu menghajar satu persatu preman yang tengah lengah.
Sudah beberapa preman Winter taklukkan, kini ia sedang berduel dengan salah satu preman dengan berbadan kekar. Sudah beberapa kali wajah dan perutnya terkena pukulan keras, namun ia tetap bangkit untuk menyelamatkan Sarang. Hingga beberapa menit, akhirnya ia menaklukkan preman besar tersebut lalu ia berjalan menuju boss dan perempuan yang tengah menggendong Sarang.
Terdengar suara sirine polisi dan suara helikopter yang mendekat membuat preman yang masih sadar panik dan mencoba kabur untuk segera meninggalkan tempat tersebut. Hendak mengejar, Winter terkejut ketika sebuah pisau menancap di pinggangnya. Pelakunya ternyata preman yang berbadan besar. Setelah menusuk Winter menggunakan pisau lipat, preman tersebut kabur meninggalkan Winter yang terkapar lemas sembari memegangi pisau yang menancap di pinggangnya.
“KALIAN SUDAH KAMI KEPUNG!!”
“JATUHKAN SENJATA DAN ANGKAT TANGAN KALIAN!!”
“Aaah fuck…,” Winter mencoba mengatur napasnya menahan rasa sakit di pinggangnya.
“Winter….”
“Winter!”
“WINTER!”
Winter tak mengetahui siapa yang memanggil dirinya. Ia sudah tak kuat bahkan untuk menoleh sekali pun. Pendengaran nya menangkap derap kaki yang mendekat kearah nya. Ia melihat Tiffany dan beberapa polisi menghampirinya. Begitu riuh suara yang ia dengar hingga ia tidak dapat mendengar dengan jelas apa saja yang dibicarakan oleh Tiffany.
“Hi mami,” Winter tersenyum saat Tiffany mengangkat tubuh Winter untuk disandarkan pada tubuhnya.
“Hei sayang mami disini sayang, jangan tidur ya mami mohon! PAK CEPET BANTUIN ANAK SAYA!!” ucap Tiffany sembari memegangi wajah Winter agar ia tetap sadar.
“Mih,” ucap Winter dengan pelan.
“Ya sayang? Kenapa hm?” Tiffany mengusap wajah dengan lembut.
“Maafin Winter ya…,” terlihat wajah Winter semakin pucat.
“It’s okay sayang, mami udah maafin kamu, tapi mami mohon tetap sadar ya? Hm?” Tiffany menatap wajah Winter dengan mata berkaca-kaca, Winter mencoba perlahan untuk meraih wajah Tiffany lalu mengusap nya perlahan.
“Jangan nangis mih, nanti cantik nya ilang,” Winter tersenyum lalu ia memejamkan matanya.
“Kamu lagi kaya gini masih aja bercanda! Jangan merem Winter… Winter… Winter...,” Tiffany menepuk-nepuk wajah Winter berkali-kali namun tak ada respon dari Winter, Tiffany menjerit panik.
“Winter!! Sayang please bangun!! Pak cepet anak saya tolongin!!! Winter? Please jangan ninggalin mami!!! WINTER!!!!” Tiffany menangis sembari mendekap kepala Winter dengan erat.