BIFAMS : Missing One
“Winter!” ucap Taeyeon dengan nada tinggi.
“Sayang…,” Tiffany menggenggam erat tangan Taeyeon.
“Udah kamu ke kamar aja, temenin Sarang,” ucap Taeyeon.
“Iya tapi jangan marah-marah…,” ucap Tiffany.
Tak lama Winter pun turun dari lantai dua, menghampiri Taeyeon yang tengah berdiri didepan tangga sembari melipat tangannya dan menatap tajam wajah Winter, “Kamu masuk kamar,” Tiffany mengangguk patuh dan meninggalkan Taeyeon dan Winter.
Taeyeon berjalan menuju ruang tamu lalu Winter mengikutinya dari belakang sembari kepala menunduk tak berani menatap wajah sang Mama. Taeyeon duduk pada sofa lalu mengeluarkan ponsel miliknya. Winter hanya bisa menelan ludah ketika melihat aura Taeyeon saat ini. Menyeramkan.
“Jelasin kenapa kamu bisa nabrak kakak kamu Jeongyeon,” mata Taeyeon masih fokus pada ponsel nya, ia melihat rekaman cctv yang memperlihatkan kejadian dimana Winter dan Jeongyeon adu mulut hingga insiden penabrakan.
Winter tidak dapat berkata-kata, lidahnya terasa sangat kelu, Taeyeon menaruh ponsel nya pada meja lalu menatap Winter yang masih saja diam, “Nggak punya mulut? Atau emang nggak punya rasa bersalah?”
Tangis Winter pecah saat ia membuka mulutnya, “Ma-ma-maaf…,”
“For what?” tanya Taeyeon.
“Ma-ma-maaf… udah nabrak… kak Jeongyeon…,” ucap Winter sedikit sesegukan.
“Sebenci itukah kamu ke Sarang sampe Jeongyeon tega kamu tabrak? Tingkah kamu makin sini makin keterlaluan Minjeong!” ucap Taeyeon.
“Mulai besok kamu pergi diantar pak Jono, nggak ada keluar keluar main atau pacaran sama Karina selama pemulihan Jeongyeon, paham?” Winter hanya mengangguk pasrah dengan keputusan Taeyeon.
“Minta maaf sana sama mami!” ucap Taeyeon.
“Yeeee yeeee yeeee,” oceh Sarang ketika melihat Jeongyeon sudah pulang lalu merentangkan tangannya pada Jeongyeon.
“Halo cantik long time no see…,” Jeongyeon mencoba untuk menggendong Sarang namun kekuatan tangannya masih belum pulih.
“Udah ah ngilu mami liatnya,” Tiffany mendudukkan Sarang pada paha Jeongyeon.
Merasa sangat rindu dengan adiknya, Jeongyeon memeluk erat Sarang hingga Sarang menjerit girang, “Hehehe kangen nggak sama Kakje hum? Kangen nggak?” Jeongyeon menciumi pipi Sarang.
“Yang ish! Nanti jaitanya lepas!” oceh Nayeon.
“Kenapa sih pada sirik banget, aku kan kangen sama pacar cilik aku,” Jeongyeon memanyunkan bibirnya membuat Sarang ketawa.
“Gua tabok ya lu yang!” ucap Nayeon.
“Udah ya Sarang sama mami lagi, biarin Kakje nya istirahat dulu, nanti main lagi,” Tiffany menggendong Sarang.
“Kamu tidur dibawah aja, udah dipindahin beberapa barang kamu ke kamar bawah,” Jelas Taeyeon yang dibalas anggukan Jeongyeon.
“Yuk bobo yuk,” ucap Nayeon yang mendorong kursi roda yang Jeongyeon duduki menuju kamar sementara Jeongyeon.
“Yang nanti usap usap punggung aku,” ucap Jeongyeon dengan nada manja.
“Uuuuu manja banget ini bayi aku,” ucap Nayeon yang menahan gemas melihat wajah manja Jeongyeon.
“Cama nen…,” ucap Jeongyeon sedikit pelan lalu mendapat hadiah pukulan dari Nayeon di kepalanya.
“Ah anying…,” Jeongyeon meringis kesakitan.
“Kalo ngomong kadang suka ngadi ngadi, kalo gua digorok emak lu gimana!” oceh Nayeon yang sedikit pelan agar tidak terdengar oleh Taeyeon dan Tiffany.
“Hehe canda ayang,” jawab Jeongyeon cengengesan.
“Ngeselin lu yang!” ucap Nayeon.
“Ah ayang mukulnya niat banget, pusing tau!” protes Jeongyeon.
“Atit ya? Mana yang atit? Uuuu maap ayang,” Nayeon mengusap-usap kepala Jeongyeon.
Sementara Taeyeon dan Tiffany hanya diam mengamati drama yang dilakukan anaknya Jeongyeon dan calon menantunya Nayeon, “Mau heran tapi itu Jeongyeon sama Nayeon,” ucap Tiffany sembari menghela napas panjang.