BIFAMS : Missing Three
“Mbim mbim mbim!” oceh Sarang sembari menarik-narik baju Winter.
“Hm? Apaan?” Winter membuka matanya dan menatap Sarang sudah berada di sebelah nya dan masih menarik-narik baju Winter.
“Mbim! Mbim! Mbim!” Winter mengernyitkan dahi.
“Apa sih ah mau apa? Elah nyusahin bat bocah,” Winter mengambil ponsel nya lalu mencari nomor Tiffany dan menghubungi nya.
“Halo mih, ini Sarang ngomong apa sih?” tanya Winter sembari mendekatkan ponsel nya pada Sarang yang masih saja mongoceh.
“Mbim! Mbim! Mbim!!”
“Tuh mih! Ngomong apa dia?” Winter mendengarkan penjelasan Tiffany seraya menjauhkan Sarang dari badannya hingga Sarang terjengkang kebelakang.
“Naik mobil? Mobil mana? Di halaman belakang? Yaudah iya, jelas, bye mih,” Winter segera mematikan sambungan telepon lalu bangkit dari kasur dan menggendong Sarang menuju halaman belakang.
“Eh udah bangun non Sarang, non Sarang udah dikasih minum?” tanya mbak Iyem yang sedang masak di dapur.
“Emang harus minum?” tanya Winter.
“Harus lah non, kasian nanti Sarang seret mulutnya, bentar non mbak ambilin gelasnya,” ucap mbak Iyem.
“Nyusahin lo,” Winter menatap Sarang yang tengah menguap lalu mendusalkan wajahnya pada leher Winter.
“Nih non minum dulu yuk,” mbak Iyem menyodorkan sedotan pada mulut Sarang, lalu Sarang meneguk air di gelas hingga kandas.
“Wih aus ya non haha,” Sarang menepuk tangannya senang sehabis minum.
“Dah ayo ke mobil deh, lo berat banget, makanya jangan makan mulu,” oceh Winter menuju halaman belakang lalu mendudukkan Sarang pada mobil maiannya.
Dengan malas Winter mengajak Sarang berkeliling halaman belakang dengan mengendalikan mobil Sarang menggunakan remote control. Merasa lelah, Winter duduk di salah satu kursi dekat kolam renang.
‘Drrrttt… Drrrtttt…’
Winter mengambil ponselnya didalam saku dan melihat Karina menghubungi dirinya, tak butuh waktu lama Winter menjawab panggilan tersebut. “Halo yang.”
Merasa kesusahan, ia menjepit ponsel nya menggunakan bahu agar dapat mendengar suara Karina sembari mengontrol mobil Sarang, “Hm? Aku lagi di halaman belakang, lagi mainin mobilnya Sarang.”
“Hah? Yang bener kamu?! Aku belom liat yang, bentar-bentar!” Winter menaruh remote control di pahanya lalu ia fokus pada ponsel nya sembari meloudspeaker suara Karina.
“Udah liat?”
“Ih iya! Hahaha akhirnya lulus juga! Makasih ya ayang! Muah muah muah!” ucap Winter sembari mengecupkan ponsel nya.
“Cieeee yang lulus sertif cieeeeee.”
“Hehehe kan berkat bantuan ayang,” ucap Winter.
“Selamat ya sayang, eh kamu lagi mainin mobil Sarang bukan?”
“Iya kenapa emang?”
“Terus Sarangnya mana? Aku mau liat ayang, switch video call yang.”
“Bentar… Dah, eh ini kamera depan, wait….”
“Ih malah muka kamu yang diliatin sih.”
“Ya sabar dong… Tuh… Keliatan nggak?”
“Mana ayang Sarangnya?”
“Itu loh diatas mobilnya dia.”
“Mana ih ayang nggak ada!”
“Masa sih?” Winter yang merasa curiga lalu ia menurunkan ponsel nya dan melihat Sarang tidak ada di mobil mainan nya, matanya menangkap seseorang tengah berlari membawa Sarang pergi dari pembatas halaman belakang rumah.
“FUCK! WOY!!” tanpa pikir panjang Winter mengejar orang tersebut, namun jarak antara Winter dan penculik tersebut sangat jauh.
“YANG! KENAPA?!!”
“Aku matiin dulu ya, nanti aku jelasin!” sambungan video call terputus.
Winter dengan cepat masuk kedalam rumah dan mengambil pisau dapur yang tengah dipakai mbak Iyem, “Astaga! Non! Kenapa non?!” tanya mbak Iyem yang terkejut.
Winter tak punya banyak waktu untuk menjelaskan pada mbak Iyem, kini ia mengambil kunci motor Jeongyeon dan segera mengejar penculik tersebut.