Different – Four
Deruan ombak yang tenang di pagi hari mampu membuat siapapun tidak ingin bangkit dari tidurnya, termasuk Rose. Ia sangat menikmati tidurnya kali ini, karena biasanya ia harus bangun dan pergi ke kantor. Ia semakin erat memeluk Jennie yang sedari tadi sudah bangun menatapnya dan menikmati sentuhan lembut dari sang istri pada pipinya.
“Sayang,” ucap Jennie.
“Hm?” Rose masih memejamkan matanya.
“Ayo bangun kita sarapan,” Jennie mencoba untuk membangunkan Rose dengan mencubit-cubit pelan pipinya.
“Hmmm,” Rose mendusalkan wajahnya pada dada Jennie dan kembali tidur.
“Kamu mau makan apa? Aku masakin,” Jennie memeluk kepala Rose lalu mengecupi kepalanya dengan gemas.
“Makan kamu,” ucap Rose.
“Yang bener sayang, aku laper banget ini, aku lagi pengen dada ayam, ada nggak ya di kulkas,” ucap Jennie seraya berpikir menu sarapan yang enak.
“Kamu tinggal minta aja ke chef di sini, nanti di masakin,” jelas Rose.
“Gimana aku mau panggil chef kalo kamu masih manja begini,” Jennie melirik Rose.
“5 menit okay?” Rose semakin mendusalkan wajahnya gemas pada dada Jennie.
“Haha geli yang, remote TV mana sih?” Jennie mencoba untuk mencari remote TV, seingatnya ia taruh di bawah bantal semalam.
“Ish susah banget! Nah!” setelah mendapat remote TV, Jennie langsung menyalakan TV kamar.
Jennie mencari-cari channel yang seru untuk di tonton pagi hari, sampai ia berhenti pada channel gosip. Bukan ia ingin menonton gosip, namun ia melihat foto Rose yang berada di berita gosip tersebut.
“Yang! Yang bangun!” Jennie membangunkan Rose yang tengah asik tidur dalam pelukannya.
“Hm apa?” Rose dengan terpaksa membuka matanya dan menatap Jennie yang tengah membesarkan suara TV.
“Itu beneran?!” tanya Jennie.
“Apa sih?” Rose yang penasaran melihat ke arah TV yang tengah menampilkan wajahnya.
“Di kabarkan nih kalau CEO muda yang bernama Rose membeli sebuah pulau dan membangun rumah untuk istri dan anaknya.” “Betul sekali! Kabarnya rumah tersebut sudah jadi dan sudah mulai di tempati oleh Rose dan Jennie tadi malam loh.” “Waaah beruntung sekali ya Jennie, memiliki istri seperti Rose….”
Jennie mematikan TV dan menatap Rose dengan wajah butuh penjelasan, “Bener kok, itu hadiah nya buat kamu hehe,” jelas Rose.
“Dari kapan kamu beli dan bangun rumah ini?” tanya Jennie.
“Dari 4 bulan yang lalu kalau nggak salah, emang cita-cita aku mau beli pulau dan bangun rumah buat kamu, jadi kalau kita mau liburan tinggal kesini aja dan baru tercapai hari ini, kamu suka nggak?” Rose menatap Jennie yang tersenyum lebar.
“Orang gila yang nggak suka di kasih hadiah ini dari kamu, makasih sayaaaaang,” Jennie mengecup bibir Rose berkali-kali.
“Sama-sama sayangku.”