Different – Three
Hanya membutuhkan 10 menit kini helikopter sudah mendarat di sebuah halaman rumah yang begitu besar. Jennie merasa asing dengan tempat ini. Sang pilot kini membukakan pintu penumpang dan membantu Rose dan Jennie turun dari helikopter.
“Ngapain kita kesini?” tanya Jennie heran.
“Nanti juga kamu tau, ayo,” Rose menarik perlahan tangan Jennie untuk masuk kedalam rumah.
Jennie menikmati pemandangan indah dari interior rumah tersebut. Dapat dibilang rumah tersebut sangat sesuai dengan selera nya. Tapi rumah ini milik siapa? Batinnya. Saking asyiknya menikmati interior rumah, Rose membuka pintu belakang rumah tersebut dan menampilkan pemandangan pantai yang indah di malam hari. Tak jauh dari pintu, terdapat meja makan yang sudah di atur sedemikian rupa agar terlihat indah dan romantis.
“Kamu nyiapin ini semua?” tanya Jennie yang menatap Rose.
“You like it? Come on~” Rose mengajak Jennie untuk mendekat ke arah meja makan.
Rose menarik kursi untuk Jennie duduk dan membantu Jennie duduk dengan nyaman. Jennie menatap Rose dengan tatapan tidak mengerti. Jujur saja ia memang merindukan sosok Rose yang dulu. Penuh dengan perhatian. Apapun yang diinginkannya pasti akan dikabulkan dengan cepat. Tapi itu sudah lama sekali hilang, Rose selalu sibuk dengan urusan kantornya.
“Tumben banget kamu siapin ini?” tanya Jennie.
“Loh emangnya nggak boleh?” tanya Rose balik.
“Boleh aja, tapi agak aneh aja seorang Rose yang workaholic sempet-sempetnya nyiapin hal yang receh kaya begini,” sindir Jennie.
“Astaga, aku kerja juga kan buat kamu sayang, buat masa depan anak kita nanti,” jelas Rose.
“Alesan klasik, basi,” Jennie menatap ke arah laut.
Ia sedang malas berdebat dengan Rose. Ia sudah tau hasil perdebatan ini akan merembet ke semua hal. Lebih baik ia diam. Tak lama seorang maid yang membawa boquet bunga datang menghampiri Jennie dan Rose. Rose mengambil bunga tersebut dan menghampiri Jennie yang masih menatap ke arah laut. Rose berlutut di hadapannya dan memberikan boquet bunga yang sudah ia siapkan pada Jennie.
“Sayang, aku tau kamu masih marah sama aku, aku sadar selama ini aku hanya bisa bikin kamu marah dan nangis, maaf bagi kamu emang nggak cukup, tapi biarkan aku memperbaikinya, selama ini aku kerja keras untuk ngebahagiain kamu, tapi ternyata aku salah, yang kamu butuhin itu hanya waktu untuk berdua sama aku, aku mau jadi istri yang baik untuk kamu dan orang tua yang baik untuk anak kita, kamu mau kan maafin aku?” jelas Rose yang membuat mata Jennie berkaca-kaca.
Jennie tidak tau harus menjawab apa, tangannya sudah ingin menampar pipi Rose, namun satu sisi ia senang mendengar Rose akan berubah dan di sisi lain ia ragu apakah Rose akan benar-benar berubah. Ia mengurung kan niatnya untuk menampar Rose dan berkahir mengusap lembut pipi Rose.
“Kalau kamu ingin berubah, kamu cukup luangin waktu untuk aku dan baby, itu aja udah cukup buat aku,” air mata Jennie jatuh sudah tak tertahan.
“Iya sayang akan aku coba, untuk sekarang dan kedepannya kamu dan baby bakal jadi nomer satu, maafin aku ya sayang, aku sayang kamu,” Rose menaruh bunga di atas meja dan berdiri untuk mengecup bibir Jennie.
Jennie membalas kecupan Rose dan mendorong perlahan badan Rose, “Aku juga sayang kamu,” ucap Jennie lirih sembari menatap kedua mata Rose.
“Happy anniverasry wedding yang ke 5 sayang, maafin aku kalau hampir telat ucapinnya, karena sengaja hehe,” Rose mengecup kening Jennie.
“Emang kamu kan pelupa,” Jennie memutar kedua matanya.
“Hehe maaf sayang,” Rose cengengesan.
“Terus hadiah buat aku mana?” tanya Jennie.
“Hadiahnya baru ada besok sabar ya,” Rose kembali mengecup kening Jennie.
“Ih kok besok sih?! Pasti belom beli!” protes Jennie.
“Udah loh sayang, lagi dalam perjalanan, baru adanya besok, sabar ya sayangku,” jelas Rose.