Dua Dunia


Hujan masih saja terus mengguyur seluruh kota. Bau air hujan membuat beberapa orang akan merasa tenang, termasuk Seulgi. Kini dirinya sedang berada di balkon rumah Wendy. Menatap langit yang begitu gelap hanya dapat terlihat kilatan-kilatan petir. Hembusan angin yang begitu dingin menerpa kulitnya, namun dirinya tidak merasa kedinginan. Seharusnya ia sudah menggigil. Aneh bukan? Tentu saja.

Wendy datang menghampiri Seulgi dengan membawa dua gelas teh hangat, lalu Wendy memberikan pada Seulgi dan duduk di sebelah sahabatnya itu. Seulgi sangat senang dapat melihat Wendy kembali. Sudah lama ia merindukan sahabatnya.

“Udah lama banget ya kita nggak ketemu Gi?” Wendy tersenyum dengan tatapan nya menuju pada langit yang begitu gelap.

“Tega lo Wen,” dapat terdengar oleh Wendy hembusan napas Seulgi yang begitu kasar.

“Maafin gua Gi, tapi semua ini udah rencana tuhan, gua nggak bisa berbuat apa-apa,” kini Wendy menatap Seulgi lalu tersenyum.

“Tapi Wen cuma lo sahabat gua satu satunya,” Seulgi tidak dapat menahan air matanya lagi. Ia membiarkan air matanya jatuh satu persatu.

“Don’t cry…,” Wendy menghapus air mata Seulgi.

“Walau gua udah gak ada di dunia lo, tapi gua bisa liat lo dari sini, gua selalu ada di sisi lo Gi, gua tau lo lagi berjuang mencari siapa dalang semua ini, gua tau Gi,” tangan Wendy kini merapihkan rambut Seulgi yang sedikit berantakan akibat hembusan angin yang sedikit kencang.

“Lo masih inget kan pesan terakhir gua? Find your happiness…,” ucap Wendy yang di anggukan oleh Seulgi.

“Gua rasa lo udah menemukannya Gi, cuma lo masih belum sadar,” Wendy terkekeh pelan.

“Maksud lo?” Seulgi masih tak mengerti apa yang di maksud Wendy.

“Masih aja ya lo gak berubah Gi, masih lemot hahaha,” ledek Wendy yang di hadiahkan sebuah jitakan di kepalanya.

“Asli ya lo gak di sana gak di sini roasting gua mulu,” kesal Seulgi.

“Haha chill brou… Maksud gua adalah ada seseorang yang mencintai lo sangat tulus, cuma lo nya belum sadar,” jelas Wendy membuat Seulgi berpikir lama.

“Siapa Wen?” tanya Seulgi.

“Nanti juga lo tau setelah lo bangun,” Wendy mengusap kepala Seulgi dengan lembut.

“Enggak Wen gua nggak mau bangun, gua mau disini sama lo, sama bokap nyokap gua Wen…,” Seulgi menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Disini bukan tempat lo Gi, lo harus bangun, takdir lo masih berlanjut,” Wendy beranjak dari kursi dan hendak pergi. Namun Seulgi menahan lengan Wendy dengan kuat.

“Wen please Wen jangan pergi… Gua nggak mau kehilangan lo lagi Wen…,” Seulgi memohon mohon agar dirinya dapat bertahan lama di dunia tersebut. Seketika muncul sebuah tangan memegang bahu Seulgi. Sontak Seulgi langsung melihat kebelakang. Dan kini Seulgi berpindah tempat berada di sebuah halaman rumah tepi pantai.

“Seulgi…,” panggil seseorang. Seulgi mengenali suara tersebut. Pandangannya mencari asal sumber suara tersebut dan menangkap sosok wanita paruh baya yang sedang berjalan menghampirinya.

“Mama?” tanya Seulgi agar memastikan jika yang ia lihat adalah mamanya.

“Iya sayang ini mama, lihat anak mama sudah besar sekarang,” mama Kang menangkup pipi Seulgi dan mengusap lembut pipi Seulgi.

“Ma aku kangen…,” Seulgi langsung memeluk tubuh sang mama dengan erat dan menangis dalam pelukan sang mama.

“Mama juga kangen kamu sayang, anak mama yang paling mama sayang,” ucap mama Kang.

“Biarin aku disini ma… Aku nggak mau mama pergi lagi…,” pinta Seulgi namun mama Kang langsung melepaskan pelukan Seulgi dan menatap wajahnya.

“Dengar sayang, disini bukan tempat kamu, kamu masih harus menjalankan takdir kamu, masih ada seseorang yang menunggu kamu disana sayang, temui dia,” Seulgi menggelengkan kepalanya cepat.

“Enggak ma… Enggak… Aku nggak mau kesana... Aku mohon ma….”

“Seulgi!” seorang pria paruh baya datang menghampirinya.

Seulgi menoleh pada pria tersebut. “Papa?”

“Kamu harus bangun! Kamu nggak boleh berada disni!”

“Relakan kami nak.”

“Gi relain kita.”

“Papa selalu dukung kamu dari sini.”

“Kita semua ada di sisi kamu nak.”

“Pulang Gi.”

Seketika semua berubah menjadi gelap. “Wen? Ma? Pa?” Seulgi mencari sosok mereka yang tiba tiba saja menghilang. Tangis nya semakin pecah. Dirinya masih tidak rela untuk kembali ke tubuhnya. Ia masih merindukan mereka. Orang yang ia sayangi.

“WENDY?!!!”

“MAMA?!!!”

“PAPA?!!!

“Jangan tinggalin aku....”

Seulgi masih saja terus mencari mereka dengan meneriaki nama mereka satu per satu, namun tidak ada jawaban satu pun yang terdengar olehnya. Dadanya begitu sesak dan sulit untuk bernapas. Badannya semakin lemas dan kakinya kini sudah tidak kuat untuk menopang badannya. Ia terjatuh. Tak berdaya. Mungkin ini akhir bagi segalanya. Dan ia rela dengan takdir nya.


Cuaca semakin dingin. Walau dalam ruangan namun Irene dapat merasakan dingin nya bertambah akibat hujan yang masih saja deras di luar sana. Dengan cepat Irene menambahkan selimut pada Seulgi agar tidak kedinginan. Dengan penuh hati-hati Irene membenarkan posisi Seulgi agar tetap hangat.

Ketika Irene sedang membenarkan selimut Seulgi, tiba-tiba saja tubuh Seulgi kejang-kejang membuat Irene sangat ketakutan. Dengan cepat Irene menekan tombol bell darurat dan segera keluar kamar meneriaki perawat dan dokter untuk segera memeriksa Seulgi. Terdengar suara monitor berbunyi sangat kencang hingga keluar ruangan.

Beberapa perawat dan dokter berlari masuk menghampiri Seulgi yang masih saja kejang. Dokter mulai memeriksa keadaan Seulgi dengan hati-hati. Beberapa perawat memegangi tubuh Seulgi.

“Dok detak jantungnya semakin melemah,” ucap salah satu perawat yang sedang membaca grafis detak jantung Seulgi pada monitor.

Dokter masih terus mencoba untuk menormalkan kembali detak jantung Seulgi. Irene hanya bisa menangis melihat Seulgi yang sedang sekarat. “Ayo Gi kamu bisa berjuang… Aku mohon….”

Detak jantung Seulgi semakin melemah membuat dokter harus memberikan Defibrilator pada Seulgi, “Siapkan Defibrilator.”

Salah satu perawat mempersiapkan alat kejut jantung dengan cepat. Perawat lainnya membuka pakaian Seulgi. Dokter langsung melakukan kejut jantung pada dada Seulgi. Percobaan pertama tidak berhasil. Dokter menambahkan daya kejut untuk percobaan kedua. Tetap tidak membuat detak jantung Seulgi meningkat. Tetapi membuat semakin melemah. Dokter kembali mencoba dengan daya kejut yang sudah di tambahkan. Namun sama saja. Hingga suara monitor yang terdengar begitu nyaring. Menandakan sudah tidak ada detak pada jantung Seulgi.

“Maaf nyonya, kami sudah berusaha sebaik mungkin,” ucap sang Dokter.

“Enggak… Nggak mungkin… Dia masih bisa dok… Coba lagi…,” Irene melangkah mendekat pada ranjang dimana tubuh Seulgi terbaring dengan jantung yang tidak berdetak lagi.

“Maaf nyonya… Kami harus mengumumkan ini… Nama Kim Seulgi, umur 24 tahun, meninggal pada pukul 10.25 malam…,” ucap Dokter.

Irene memeluk erat kepala Seulgi yang masih terpasang Ventilator pada mulutnya, “Seulgi ayo bangun Gi… Aku tau kamu masih bisa dengar… Please Gi… Aku mohon bangun…,” tangis Irene semakin pecah. Ia masih percaya jika Seulgi akan bangun kembali.

“Dokter saya mohon… saya mohon… bantu Seulgi… saya mohon…,” ucap lirih Irene pada Dokter.

Irene menatap wajah Seulgi dengan lekat. Tangannya mengusap pipi Seulgi dengan lembut. “Seulgi aku mohon kembali….”

.

.

.

.

‘bip!’