Eight : Unexpected
Udara musim gugur yang menusuk tak menyurutkan semangat Allan. Jemarinya dengan cekatan meracik kopi pesanan pelanggan, uap hangat mengepul dari cangkir porselen. Kedai kopinya, “Woody's Brew”, baru saja dibuka beberapa bulan lalu, namun pesonanya tak terbantahkan. Aroma kopi yang menggugah selera dan suasana nyaman berhasil memikat para penikmat kopi, meski lokasinya terpencil di pinggiran kota.
Hari itu, Allan sibuk melayani pelanggan yang mengantre. Matanya tiba-tiba menangkap sosok yang tak asing memasuki kedai. Seorang wanita cantik dengan rambut panjang terurai, mengenakan mantel wol berwarna pink. Keira, penulis novel terkenal, melangkah anggun menyatu dengan antrean menuju Allan.
Jantung Allan berdegup kencang. Dia telah lama mengagumi karya-karya Keira. Setiap novel yang terbit selalu menjadi koleksi berharganya. Bahkan, Allan pernah rela merogoh kocek dalam hanya untuk mendapatkan novel edisi terbatas bertanda tangan Keira.
“Selamat datang di Woody's Brew, Kak Kei,” sapa Allan dengan nada gugup saat Keira sudah berada di hadapannya.
Keira terkejut saat Allan menyebutkan namanya. “Loh, kamu Al kan? Al yang di X?”
Allan terkekeh malu, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Iya, Kak. Kak Kei lagi nyari suasana tempat baru buat nulis ya?” tanyanya.
“Astaga, dunia X ternyata sempit ya.” Keira tergelak kecil. “Iya nih, aku lagi mau bangun mood nulis. Oh ya, aku mau pesan, umm,” matanya membaca satu per satu daftar menu yang ada di depannya. “Green tea latte satu, sama Cheese Cakenya satu,” pesannya.
“Baik, Green tea latte satu, Cheese Cake satu ya, Kak.” Jari Allan bergerak cepat di layar kasir, membuat bill pesanan Keira. “Ada lagi nggak, Kak?” tanya Allan.
Keira sedari tadi melihat-lihat interior kedai milik Allan, dikejutkan oleh suara wanita berambut pendek di hadapannya. “Umm, ya?”
Allan menyunggingkan senyuman. “Ada pesanan lagi nggak? Atau ini aja?” tanyanya.
“Oh iya, itu aja. Jadi berapa?” tanya Keira, dia mengambil ponselnya dari saku celana, bersiap untuk membayar pesanannya.
“Nggak usah bayar, Kak. Kali ini saya yang traktir,” ucap Allan.
“Ih! Nggak ah! Aku bayar. Jadi berapa?”
“Nggak apa-apa, Kak. Udah langsung duduk aja, nanti pesannanya diantar.” Allan segera membuang bill milik Keira, lalu membuatkan pesanan wanita berambut panjang yang masih terdiam menatapnya bingung.