FATE — ONE


“Aahhh sshhh bossshhh.”

“Enak hm?”

“Yeaaahhh aahhh! There!”

“Ohh yeah baby.”

Erangan seorang wanita terdengar jelas berasal dari belakang pintu ruangan yang tertuliskan CEO. Sudah sejam suara itu muncul sedari jam makan siang selesai. Didepan ruangan terdapat sekretaris yang tengah sibuk menyiapkan berkas untuk atasannya. Ya sudah pasti ia mendengarkan antasannya itu sedang bercinta dengan salah satu karyawan perusahaannya. Saat awal bekerja ia sangat terkejut melihat kelakuan atasannya yang sangat gila, namun saat ini ia sudah terbiasa dan terkadang ia menutup kuping nya dengan earpods.

Tok tok tok

Sekretaris itu mengetuk pintu ruangan sang atasan. Tidak ada jawaban melainkan hanya suara desahan yang tak kunjung berhenti. Ia menghela napas lalu membuka pintu tersebut. Terlihat dengan jelas sang atasan sedang bercumbu mesra karyawan nya yang terbaring di atas meja kerja.

BRUK!

Sang sekretaris menjatuhkan setumpuk laporan di meja sebelah tubuh karyawan yang tengah disantap oleh atasannya. Mendengar suara keras, keduanya terkejut melihat kemunculan sekretaris yang sedang menatap datar kearah mereka.

“Oh hi Alice! Mau join?” tanya sang atasan yang menyengir menatapnya.

“Waktu sudah habis, keluar, boss lagi nggak bisa diganggu gugat,” ucap Alice datar.

“Okaaay~ Bye boss~,” ucap sang karyawan wanita sedikit centil sembari membenarkan pakaiannya dan berlalu keluar dari ruangan.

Sang atasan hanya menatap tak percaya apa yang dilakukan Alice padanya, “Beraninya....” Saat sang atasan menunjuk Alice dan hendak bangun dari kursi, Alice menahan bahu sang atasan agar tetap berada duduk diatas kursinya.

Ia mengambil ballpoint dan memberikannya pada sang atasan, “Ini laporan dari seluruh cabang, dan mereka minta persetujuan anda.”

“Kenapa kamu nggak pakai tanda tangan digital saya?!” tanya sang atasan dengan kesal.

“Nggak bisa, komputer saya lemot dan juga tanda tangan basah anda menandakan kalau anda masih hidup,” ucap Alice.

Sang atasan tidak bisa berkata-kata dengan kelakuan sekretarisnya, ia hanya bisa pasrah, dan melakukan apa yang diminta oleh sekretarisnya. Ketika ia membuka satu laporan, matanya melihat sosok yang ia kenal masuk ke dalam ruangan, ia menyeringai kecil.

“Seth! Ada yang mau gue omongin!”

“Silas! Saudarakuuuu~ Welcome welcome!” Seketika Seth berdiri lalu menghampiri Silas saudara kembarnya yang baru saja datang.

Seth mendorong Silas menuju kursinya dan mendudukannya. Silas kebingungan dengan tingkah saudaranya yang begitu aneh, “Pasti lo capek kan berdiri lama di lift dari lobby ke ruangan gue.”

“Kata siapa? Orang gue....”

“Sstttt ssttt sstttt,” Seth mencubit bibir Silas.

“Iya gue tau lo capek, makanya duduk dulu sebentar rasakan sensasi kursi import yang baru gue beli dari Italy, hand, made,” ucap Seth sembari mendorong badan Silas agar menyandar pada kursinya. Tentu mebuat Silas semakin kebingungan.

“Gimana? Enakan?” tanya Seth sembari menatap Silas.

“Eh iya enak juga, beliin gue satu dong buat dirumah,” ucap Silas.

“Gampang tapi pertama-tama lo pegang ini dulu,” Seth memberikan ballpoint miliknya pada Silas.

“Buat apa?” tanya Silas.

“Buat ngisi formulir order kursi yang lo dudukin itu, dan ini formulirnya yang harus lo tanda tangan, baca dulu okay? Kalo udah baca lo tanda tangan ya, gue sakit perut mau ke toilet dulu ookay?” Seth menyodorkan map pada Silas.

“Yaudah sana lo, asik punya kursi baru,” ketika Silas membuka map tersebut, Seth langsung keluar dari ruangannya dan masuk ke dalam lift untuk kabur.

Saat melihat halaman pertama yang menampilkan laporan perusahaan, Silas baru menyadari bahwa ia tengah di tipu oleh saudaranya. Alice yang sedari tadi menyaksikan kebodohan Silas hanya bisa menahan tawa.

“Bajingan! Gue di tipu! SEEEEEEETH!!!!” teriak Silas.

“Boss bisa di percepat?” tanya Alice.

“Apanya?” tanya Silas kembali.

“Tanda tangan laporannya, mereka sudah menunggu dari tadi,” jelas Alice.

Silas melihat begitu banyak laporan yang menumpuk di atas meja, membuat ia menunduk kesal dengan perlakuan saudaranya. “Ini nggak bisa pake tanda tangan digital dia?” Silas menenggakan kepalanya dan menatap Alice.

“Nggak bisa.”

Silas menghela napas panjang, ia hanya bisa pasrah mengerjakan pekerjaan Seth yang begitu banyak.