FATE — PART TWO : ONE


Silas berhasil membawa tubuh Seth menuju kediamannya. Ia segera meletakkan tubuh Seth pada ranjang kamarnya. Tangannya segera merobek pakaian Seth untuk memeriksa lukanya dan terlihat tak ada satupun luka pada dadanya. Silas merasa kebingungan.

“Bagaimana bisa?” gumamnya.

“HHHHAAAAAHHHH!!” Seth terbangun sembari meraba-raba dadanya.

Seth merasa linglung lalu menatap Silas sedikit lama. “What… did you do… TO ME?!!!” mata Seth berubah menjadi merah membara dan ia menendang tubuh Silas hingga menghantam tembok kamarnya.

“Ahhhh…,” Silas meringis kesakitan.

Seth bangkit dari kasur, lalu menghampiri Silas yang masih meringis kesakitan dilantai, “Seth… please listen… wwooaahhh aarghh!!” Seth mengangkat tubuh Silas dan membanting nya dengan keras pada lantai.

Seth melayangkan tinjunya pada wajah Silas. Namun Silas berhasil menahan tangannya. “SETH! LITSEN! I DIDN’T DO ANYTHING! CELESTE TOO!”

Seth menatap kedua mata Silas. Tak lama warna matanya kembali normal. Ia segera bangkit dan membantu Silas berdiri. “Kalau bukan lo, udah jelas ini perbuatan daddy!” Seth melepaskan pakaiannya yang sudah sobek lalu menuju walking closet sembari menyari pakaian yang cocok untuknya.

Silas melihat sebuah luka besar pada punggung sang adik, ia mengernyitkan dahinya, “Sayap lo….”

“Gue buang,” Seth memutuskan untuk mengenakan hoodie hitam milik Silas.

“Are you insane?!!” Silas menghampiri Seth dan berdiri di hadapannya.

“Maybe…,” Seth mengangkat bahunya santai, ia berjalan begitu saja melewati Silas keluar kamar dan menuju dapur.

“Seth sekarang neraka jadi kacau semenjak lo nggak ada disana…,” ucap Silas sembari mengikuti Seth dibelakang.

“I don’t care~” celetuk Seth.

“Mau sampai kapan lo disini?” tanya Silas.

“Mau sampai kapan lo maksa gue buat balik? Kenapa nggak lo aja yang jaga neraka? Lo bisa utus Celeste gantiin tugas gue, selesai,” jelas Seth sembari mengambil pisau dapur lalu ia menebaskan pisau tersebut pada lengannya. Pisau dapur milik Silas patah begitu saja setelah mengenai lengan Seth, ia tersenyum.

“Nggak semudah itu Seth… lo….”

“Ssttt udah malem, gue ngantuk kita lanjut besok okay?” potong Seth yang berjalan menuju lemari kunci, ia mengambil salah satu kunci mobil milik Silas, “Gue minjem ini okay? Lo tau kan gue udah nggak punya sayap, good night Silas,” jelas Seth tersenyum pada Silas dan pergi begitu saja meninggalkan Silas yang terpana dengan kelakuan sang adik.

“Oh dad…,” Silas memijat kening nya yang terasa pening.