FATE — THREE


TW: Blood

“Kalian nggak turun lagi?” Seth menatap kedua orang yang berada di hadapannya sedang menikmati minuman mereka.

“Rita Ora nya udah beres, jadi mager kebawah lagi,” jawab Alice sembari mengunyah makanan.

Seth ketawa mendengar jawaban Alice, “Jadi kalian kesini cuma mau liat Rita Ora?” Alice dan Alora mengangguk kompak.

“Tapi engga juga sih, emang dari awal mau minum kebetulan ada Rita Ora disini,” jelas Alice.

“Tapi kok boss bisa masuk sih? Udah booking sebelumnya?” tanya Alice.

“Ngapain booking kalo saya yang punya,” jawaban Seth membuat Alice dan Alora tersedak makanan. Refleks Seth memberikan segelas air mineral pada Alora.

Alora menerima gelas pemberian dari Seth lalu ia meneguk nya hingga kandas, “Are you okay?” tanya Seth.

“I’m fine,” jawab Alice.

“Not you, but her,” timpal Seth membuat Alice memutar kedua bola matanya jengah.

“I-I’m fine,” Alora tersenyum kaku karena gugup saat di tatap oleh Seth.

Seth terus saja menatap kedua mata hazel Alora sampai ia tersadar ada waitress yang datang menaruh piring kosong pada meja mereka. Seth, Alice, dan Alora kebingungan.

“Siapa yang mesen piring kosong?” Seth melihat piring kosong tersebut lalu menenggakan kepalanya untuk menatap sang waitress. Matanya membulat terkejut.

“Long time no see, Seth Vier,” ucap sang waitress menyeringai menatap Seth.

“Celeste…,” gumam Seth.

Watress yang bernama Celeste merogoh saku celana belakangnya dan mengeluarkan dua buah pisau karambit berwarna hitam.

“Oh my dad…,” Celeste mengarahkan pisaunya pada wajah Seth.

Dengan cepat Seth menunduk dan mendorong tubuh Celeste agar menjauh dari Alice dan Alora. Ia membenturkan tubuh Celeste pada dinding. Semua orang yang berada disana terkejut dan menjauhi Seth dan Celeste saat melihat pisau yang di genggam oleh Celeste.

“Gimana caranya lo kesini?! Siapa yang ngirim lo?!!” teriak Seth yang mencekik Celeste.

“Gue!!” teriak seseorang yang baru saja datang menghampirinya.

Seth tertawa keras, “Udah gue bilang, gue nggak mau bahas ternyata lo udah sejauh ini, Silas,” raut wajah Seth menjadi serius seketika sembari menatap Silas kesal.

Ketika Seth tengah serius menatap Silas, Celeste mendorong tubuh Seth dengan keras hingga tubuhnya terlempar jauh dan mendarat pada meja di hadapan Alice dan Alora. Tentunya Alice dan Alora menjerit ketakutan. Silas baru menyadari Alice sedang berada di dalam pertempuran Celeste dengan Seth.

Celeste menghampiri Seth sedang meringis kesakitan di atas meja yang hancur. Ia menindih tubuh Seth dan menghajar berkali-kali wajah Seth hingga wajahnya babak belur. Dengan sekuat tenaga Seth menggenggam lengan Celeste agar berhenti memukulinya.

“Enough!!!” Seth membenturkan kepalanya pada kepalanya Celeste dengan keras dan mendorongnya agar tidak berada di atas tubuhnya.

Celeste meringis kesakitan. Segera Seth bangkit lalu menatap Celeste dan Silas bergantian, “Hah!” Seth menghela napas kasar.

“Seharusnya udah gue hancurin ini pisau,” ucap Seth sembari menatap kedua pisau milik Celeste yang ia genggam.

“What?!” Celeste baru menyadari bahwa pisau nya telah di curi oleh Seth.

“Bawa dia pulang Silas, sebelum masalah semakin rumit,” ucap Seth.

“Gue bakal bawa dia balik tapi lo juga,” ucap Silas.

“UDAH GUE BILANG DADDY NGGAK MENGINGINKAN GUE ADA DISANA!!! SETELAH GUE DIBUANG, LO SEENAKNYA BERTINGKAH PEDULI SAMA GUE DAN MINTA GUE BALIK!!!” Seth berteriak pada Silas sembari menunjuk nya menggunakan pisau milik Celeste.

“Kata siapa? Daddy bilang ke gue, dia butuh lo Seth,” ucap Silas.

“BULLSHIT!!!” hendak menghampiri Silas, tiba-tiba saja Celeste menusukan sebuah pisau makan tepat pada dadanya.

“Aw!” Seth melihat sebuah pisau tertancap di dadanya lalu ia menatap Celeste dengan bingung, “For what?!”

“Pengen aja, abis muka lo ngeselin,” jawab Celeste dengan santai.

Alice dan Alora berteriak panik saat melihat sebuah pisau tertancap di dada Seth. Seth menoleh ke arah Alice dan Alora, “It’s okay, I’m fine,” ucap Seth tersenyum sembari mencabut pisau yang berada di dadanya.

Bukannya tenang, namun Alora semakin panik karena melihat darah segar bercucuran keluar dari luka di dadanya. Entah apa yang ia pikirkan, Alora menghampiri Seth dan menutup lukanya menggunakan tangannya.

“PLEASE CALL 911!!!” ucap Alora pada semua orang disekitarnya.

Seth hanya terdiam menatap wajah Alora dari dekat. Begitu cantik. Pikirnya. Tangan kanannya menyentuh pipi Alora, dan mengusapnya dengan lembut.

“Tolong jangan bergerak!” Alora semakin menekan luka di dada Seth.

Lama kelamaan Seth merasa sesak di dadanya. Kakinya menjadi lemas sampai ia tidak dapat menahan badannya dan terjatuh lemas. Semua orang semakin panik begitu juga dengan Alora, Alice, dan Silas.

“Impossible…,” ucap Silas pelan dan ia menjentikan jarinya membuat seluruh manusia yang berada di dalam club berhenti seketika. Terkecuali Celeste, Seth dan dirinya.

“Lo pergi dari sini, biar Seth gue yang urus,” Celeste mengangguk dan pergi begitu saja meninggalkan Seth yang terkapar lemas dilantai.

Dengan cepat Silas membopong tubuh Seth. Ia menarik napas panjang, lalu mengeluarkan sayap berwarna putih keluar dari tubuhnya. Silas menggendong tubuh Seth dan membawa Seth pergi jauh dengan cepat

‘Entah apa yang terjadi, yang jelas ada yang salah ditubuh lo Seth.’

Setelah jauh dari jangkauan club. Semua orang yang berada di dalam club kembali normal. Namun Alice dan Alora terkejut bukan main saat mengetahui bahwa Seth sudah tidak ada di hadapannya.