FATE — TWO
“Ish nyebelin banget!” celetuk Alice yang berhasil memecahkan lamunan Alora.
“Kenapa?” tanya Alora.
“Sumpah ya dua boss gue tuh bener-bener,” jelas Alice dengan nada kesal.
“Kenapa lagi mereka? Ngasih kerjaan? Setau gue lo kerjanya enak deh,” ujar Alora.
“Kerjaanya sih enak, gue bisa handle semua, tapi kelakuan mereka itu loh yang bikin gue jijik,” Alice mengidikan bahunya.
“Kenapa sih emangnya?” tanya Alora yang semakin penasaran dengan kedua boss sahabatnya.
“Kan tadi gue post foto lo kan, nah boss gue tuh yang… gimana ya jelasinya…,” Alice menggaruk kepalanya.
“Ish sumpah ya lo sering banget ngegantungin cerita!” Alora memukul lengan Alice.
“Ah! Iya iya! Jadi tuh boss gue ada dua nih, nah mereka itu adik kakak, yang sering ada dikantor itu adiknya, pahamkan?” Alice menatap Alora.
“Iya gue paham, terus?” Alora melipat kedua tangannya didada dan fokus mendengarkan cerita Alice.
“Nah gue tuh paling males sama adiknya ini, karena dia tuh gila banget, hampir setiap hari tuh dia ngelakuin sex di ruangannya,” jelas Alice.
“SUMPAH LO?!” mata Alora membulat terkejut mendengar cerita boss sahabatnya yang gila.
“Sumpah! Awalnya ya gue kaget dong dia sering begitu, tapi ya gue udah mulai hirauin dia kalo lagi begitu, tapi kadang suka gue jailin hahaha,” Alora menatap Alice dengan penuh curiga, mengetahui maksud tatapan sang sahabat, Alice mendorong muka Alora.
“Kaga ya! Jangan mikir yang engga engga lo,” ketus Alice.
“Ya kan siapa tau,” ucap Alora.
“Ogah sih gue sama manusia macam modelan begitu,” Alice memutar matanya.
“Terus kakaknya gimana? Sama aja? Terus lo tadi kesel kenapa?” tanya Alora.
“Kakaknya sih ya baik sih, cuma ya gitu deh sering di kibulin adiknya, mau dibilang polos tapi bukan, tau deh gue jarang ketemu juga sama dia… tadi tuh mereka ngechat gue, nah yang adiknya itu nanyain lo,” jelas Alice yang mendapatkan pukulan keras di lengannya oleh Alora.
“TUH KAN! MAKANYA JANGAN SUKA POST FOTO GUE!!” Alora menatao Alice dengan tatapan membunuh.
“Ya mana gue tau tuh orang nanyain lo, tapi ada untungnya juga sih, gue di transfer lagi sama dia hehe,” Alice menyengir.
“Sumpah bisa bisanya gue di jual…,” Alora memijat keningnya yang terasa nyeri melihat kelakuan sahabatnya.
“Tenang kok, dia cuma nanya lo udah punya pacar apa belom, gue jawab belom, terus sempet nanya gue dimana, langsung gue matiin hpnya hehe sorry,” Alice memeluk erat Alora yang masih diam menatapnya.
“Bener bener ya lo… mana sini uangnya!” ucap Alora.
“Iya nanti gue transfer….”
“Berat ish…,” Alora melepaskan pelukan Alice lalu membenarkan pakaiannya yang sedikit berantakan.
“Maaf, apa benar atas nama miss Alice Scout?” tanya seorang staff NYX pada Alice dan Alora.
“Iya benar saya, gimana? Ada yang kosong?” tanya Alice
“Mohon maaf sekali, untuk malam ini sudah penuh,” jawab sang staff NYX.
“Tuh kan, yaudah deh makasih ya,” ucap Alora yang kecewa karena tidak dapat melihat Rita Ora tampil lalu menarik Alice keluar dari barisan.
“Ish sebel banget, gue udah totalitas tapi penuh huaaaaa,” Alice merengek sedikit kencang membuat orang-orang sekitar menatap kearah Alice dan Alora.
“Ish kan udah gue bilang bakalan penuh! Ayo cari tempat lain!” Alora menarik tangan Alice menuju tempat parkir mobil.
“Alice!” baru saja beberapa langkah meninggalkan pintu masuk club, seseorang memanggil nama Alice dari belakang membuat Alice dan Alora berbalik badan untuk melihat siapa yang memanggilnya.
“Oh shit…,” ucap Alice dengan pelan namun dapat terdengar oleh Alora.
“Siapa?” bisik Alora.
“Boss gue!” bisik Alice.
“Eh ada boss,” ucap Alice yang menyengir kaku.
“Kamu mau kemana?” Seth menatap Alice dan Alora.
“Eung… mau… ke tempat lain boss hehe,” jawab Alice.
“Boss… kuncinya boss…,” salah satu staff valey parking menghampiri Seth dan meminta kunci mobil yang masih di genggam olehnya.
“Oh lupa…,” Seth memberikan kunci mobilnya pada staff valey parking, “Ayo masuk bareng saya.”
Alice dan Alora saling menatap satu sama lain dengan ragu. Melihat mereka hanya diam, Seth mejentikan jarinya di hadapan wajah mereka agar tersadar dari lamunan. “Hey, mau nggak? Kalau nggak mau juga nggak apa apa,” Seth berbalik badan lalu berjalan menuju pintu masuk melewati jalur vip.
“Boss ih tunggu mauuu, ayo Ra kapan lagi liat rita oraaaa,” Alice menarik tangan Alora lalu mengejar Seth yang tengah berbincang dengan beberapa staff club disana.
“Mereka…,” Seth menunjuk kedua wajah Alice san Alora, “Sekretaris gue, namanya Alice dan satu lagi…,” Seth berhenti berbicara dan menatap ke arah Alora.
“Maaf nama kamu siapa?” tanya Seth dengan lembut.
“A-alora…,” jawab Alora sedikit terbata karena terpesona dengan wajah Seth.
“Nama yang cantik, kaya orangnya…,” Seth tersenyum pada Alice dan kembali fokus ke para staff club, “Alice, Alora, sekretaris gue, kalo mereka kesini langsung suruh masuk,” ucap Seth.
“Baik boss,” para staff menjawab kompak, dan mempersilakan Seth, Alice, dan Alora masuk.
