<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>noubieau</title>
    <link>https://noubieau.writeas.com/</link>
    <description>Welcome to noubie universe.</description>
    <pubDate>Sun, 05 Apr 2026 07:42:56 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>Fourteen : Unexpected</title>
      <link>https://noubieau.writeas.com/fourteen-unexpected?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Semenjak kedatangan Keira pertama kali ke Woody&#39;s Brew, dia hampir setiap hari datang untuk menulis novel terbarunya. Allan selalu memperhatikan Keira dari jauh, mengagumi kecantikan dan keanggunannya. Keira, yang terlalu asyik dengan pekerjaannya, tidak menyadari bahwa dia menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung lain yang juga terpesona oleh aura menawannya.&#xA;&#xA;Hari ini, Allan melihat Keira tampak frustasi. Wajahnya pucat, matanya sayu. Sepertinya dia sedang mengalami kesulitan dalam menulis.&#xA;&#xA;&#34;Kak, itu temannya jadi sering ke sini, apa nggak bosen?&#34; celetuk salah satu karyawan Allan.&#xA;&#xA;Allan menoleh, menatap karyawannya. &#34;Dia lagi butuh suasana baru, biasanya dia selalu nulis di rumahnya,&#34; jawab Allan.&#xA;&#xA;&#34;Kayaknya lagi bingung dia, Kak. Nggak ditawarin menu lain aja?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Iya ya, kenapa nggak kepikiran,&#34; gumam Allan.&#xA;&#xA;Dengan spontan, Allan memberanikan diri menghampiri meja Keira dengan membawa secangkir cokelat hangat yang sengaja dia buat untuknya.&#xA;&#xA;&#34;Ini cokelat hangat buat Kak Kei, siapa tau bisa mencerahkan pikiran.&#34;&#xA;&#xA;Keira mendongak, terkejut melihat Allan berdiri di sampingnya. Dia menerima cokelat hangat dengan senyum tipis. &#34;Makasih, Allan.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Stuck lagi ya, Kak?&#34; tanya Allan dengan lembut.&#xA;&#xA;Keira menghela napas panjang. &#34;Ya gitu deh, padahal kemarin-kemarin lancar banget, sekarang aku bener-bener buntu.&#34;&#xA;&#xA;Allan mendengarkan dengan penuh perhatian. &#34;Kalau boleh tau bagian mana yang bikin Kak Kei kesulitan? Mungkin aku bisa bantu kasih saran dari intonasi? Atau gerakan mungkin?&#34;&#xA;&#xA;Keira terdiam sejenak, menyesap cokelat hangatnya. &#34;Aku lagi nulis adegan romantis, tapi kayanya kaku banget. Aku pengen adegannya terasa nyata, tapi nggak tau gimana caranya.&#34;&#xA;&#xA;Allan tersenyum. &#34;Mungkin Kak Kei butuh inspirasi dari pengalaman nyata?&#34;&#xA;Keira mengangkat alisnya. &#34;Maksudnya?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Mungkin Kak Kei bisa coba praktekin adegan itu sama seseorang. Jadi, Kak Kei bisa ngerasain emosi yang sesungguhnya dan gampang menuangkannya ke tulisan.&#34;&#xA;&#xA;Tiba-tiba, sebuah ide gila muncul di benak Keira. Dia sangat ragu untuk mengungkapkannya, tapi dia harus segera menyelesaikan novelnya. Keira mendongak menatap Allan dengan raut wajah yang sulit dibaca. &#34;Kamu mau nggak bantu aku?&#34;&#xA;&#xA;Allan terkejut, dia tidak menyangka akan mendapat tawaran dari seorang Keira. &#34;Bantu apa, Kak?&#34;&#xA;&#xA;Keira menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberaniannya. &#34;Kamu mau nggak jadi lawan main aku dalam adegan itu? Aku janji, ini cuma akting.&#34;&#xA;&#xA;Allan tertegun, jantungnya berdebar kencang. Dia tidak pernah membayangkan akan berada dalam situasi seperti ini. Namun, melihat Keira yang tampak putus asa, dia tidak tega menolaknya.&#xA;&#xA;&#34;Bo―leh, aku bantu,&#34; jawab Allan sedikit ragu.&#xA;&#xA;Keira tersenyum lega. &#34;Makasih, Allan. Aku nggak tau harus gimana kalau nggak ada kamu.&#34;&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Semenjak kedatangan Keira pertama kali ke Woody&#39;s Brew, dia hampir setiap hari datang untuk menulis novel terbarunya. Allan selalu memperhatikan Keira dari jauh, mengagumi kecantikan dan keanggunannya. Keira, yang terlalu asyik dengan pekerjaannya, tidak menyadari bahwa dia menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung lain yang juga terpesona oleh aura menawannya.</p>

<p>Hari ini, Allan melihat Keira tampak frustasi. Wajahnya pucat, matanya sayu. Sepertinya dia sedang mengalami kesulitan dalam menulis.</p>

<p>“Kak, itu temannya jadi sering ke sini, apa nggak bosen?” celetuk salah satu karyawan Allan.</p>

<p>Allan menoleh, menatap karyawannya. “Dia lagi butuh suasana baru, biasanya dia selalu nulis di rumahnya,” jawab Allan.</p>

<p>“Kayaknya lagi bingung dia, Kak. Nggak ditawarin menu lain aja?”</p>

<p>“Iya ya, kenapa nggak kepikiran,” gumam Allan.</p>

<p>Dengan spontan, Allan memberanikan diri menghampiri meja Keira dengan membawa secangkir cokelat hangat yang sengaja dia buat untuknya.</p>

<p>“Ini cokelat hangat buat Kak Kei, siapa tau bisa mencerahkan pikiran.”</p>

<p>Keira mendongak, terkejut melihat Allan berdiri di sampingnya. Dia menerima cokelat hangat dengan senyum tipis. “Makasih, Allan.”</p>

<p>“<em>Stuck</em> lagi ya, Kak?” tanya Allan dengan lembut.</p>

<p>Keira menghela napas panjang. “Ya gitu deh, padahal kemarin-kemarin lancar banget, sekarang aku bener-bener buntu.”</p>

<p>Allan mendengarkan dengan penuh perhatian. “Kalau boleh tau bagian mana yang bikin Kak Kei kesulitan? Mungkin aku bisa bantu kasih saran dari intonasi? Atau gerakan mungkin?”</p>

<p>Keira terdiam sejenak, menyesap cokelat hangatnya. “Aku lagi nulis adegan romantis, tapi kayanya kaku banget. Aku pengen adegannya terasa nyata, tapi nggak tau gimana caranya.”</p>

<p>Allan tersenyum. “Mungkin Kak Kei butuh inspirasi dari pengalaman nyata?”
Keira mengangkat alisnya. “Maksudnya?”</p>

<p>“Mungkin Kak Kei bisa coba praktekin adegan itu sama seseorang. Jadi, Kak Kei bisa ngerasain emosi yang sesungguhnya dan gampang menuangkannya ke tulisan.”</p>

<p>Tiba-tiba, sebuah ide gila muncul di benak Keira. Dia sangat ragu untuk mengungkapkannya, tapi dia harus segera menyelesaikan novelnya. Keira mendongak menatap Allan dengan raut wajah yang sulit dibaca. “Kamu mau nggak bantu aku?”</p>

<p>Allan terkejut, dia tidak menyangka akan mendapat tawaran dari seorang Keira. “Bantu apa, Kak?”</p>

<p>Keira menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberaniannya. “Kamu mau nggak jadi lawan main aku dalam adegan itu? Aku janji, ini cuma akting.”</p>

<p>Allan tertegun, jantungnya berdebar kencang. Dia tidak pernah membayangkan akan berada dalam situasi seperti ini. Namun, melihat Keira yang tampak putus asa, dia tidak tega menolaknya.</p>

<p>“Bo―leh, aku bantu,” jawab Allan sedikit ragu.</p>

<p>Keira tersenyum lega. “Makasih, Allan. Aku nggak tau harus gimana kalau nggak ada kamu.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://noubieau.writeas.com/fourteen-unexpected</guid>
      <pubDate>Mon, 29 Jul 2024 10:30:31 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Eight : Unexpected</title>
      <link>https://noubieau.writeas.com/eight-unexpected?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Udara musim gugur yang menusuk tak menyurutkan semangat Allan. Jemarinya dengan cekatan meracik kopi pesanan pelanggan, uap hangat mengepul dari cangkir porselen. Kedai kopinya, &#34;Woody&#39;s Brew&#34;, baru saja dibuka beberapa bulan lalu, namun pesonanya tak terbantahkan. Aroma kopi yang menggugah selera dan suasana nyaman berhasil memikat para penikmat kopi, meski lokasinya terpencil di pinggiran kota.&#xA;&#xA;Hari itu, Allan sibuk melayani pelanggan yang mengantre. Matanya tiba-tiba menangkap sosok yang tak asing memasuki kedai. Seorang wanita cantik dengan rambut panjang terurai, mengenakan mantel wol berwarna pink. Keira, penulis novel terkenal, melangkah anggun menyatu dengan antrean menuju Allan.&#xA;&#xA;Jantung Allan berdegup kencang. Dia telah lama mengagumi karya-karya Keira. Setiap novel yang terbit selalu menjadi koleksi berharganya. Bahkan, Allan pernah rela merogoh kocek dalam hanya untuk mendapatkan novel edisi terbatas bertanda tangan Keira.&#xA;&#xA;&#34;Selamat datang di Woody&#39;s Brew, Kak Kei,&#34; sapa Allan dengan nada gugup saat Keira sudah berada di hadapannya.&#xA;&#xA;Keira terkejut saat Allan menyebutkan namanya. &#34;Loh, kamu Al kan? Al yang di X?&#34;&#xA;&#xA;Allan terkekeh malu, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. &#34;Iya, Kak. Kak Kei lagi nyari suasana tempat baru buat nulis ya?&#34; tanyanya.&#xA;&#xA;&#34;Astaga, dunia X ternyata sempit ya.&#34; Keira tergelak kecil. &#34;Iya nih, aku lagi mau bangun mood nulis. Oh ya, aku mau pesan, umm,&#34; matanya membaca satu per satu daftar menu yang ada di depannya. &#34;Green tea latte satu, sama Cheese Cakenya satu,&#34; pesannya.&#xA;&#xA;&#34;Baik, Green tea latte satu, Cheese Cake satu ya, Kak.&#34; Jari Allan bergerak cepat di layar kasir, membuat bill pesanan Keira. &#34;Ada lagi nggak, Kak?&#34; tanya Allan.&#xA;&#xA;Keira sedari tadi melihat-lihat interior kedai milik Allan, dikejutkan oleh suara wanita berambut pendek di hadapannya. &#34;Umm, ya?&#34;&#xA;&#xA;Allan menyunggingkan senyuman. &#34;Ada pesanan lagi nggak? Atau ini aja?&#34; tanyanya.&#xA;&#xA;&#34;Oh iya, itu aja. Jadi berapa?&#34; tanya Keira, dia mengambil ponselnya dari saku celana, bersiap untuk membayar pesanannya.&#xA;&#xA;&#34;Nggak usah bayar, Kak. Kali ini saya yang traktir,&#34; ucap Allan.&#xA;&#xA;&#34;Ih! Nggak ah! Aku bayar. Jadi berapa?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak apa-apa, Kak. Udah langsung duduk aja, nanti pesannanya diantar.&#34; Allan segera membuang bill milik Keira, lalu membuatkan pesanan wanita berambut panjang yang masih terdiam menatapnya bingung.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>Udara musim gugur yang menusuk tak menyurutkan semangat Allan. Jemarinya dengan cekatan meracik kopi pesanan pelanggan, uap hangat mengepul dari cangkir porselen. Kedai kopinya, “Woody&#39;s Brew”, baru saja dibuka beberapa bulan lalu, namun pesonanya tak terbantahkan. Aroma kopi yang menggugah selera dan suasana nyaman berhasil memikat para penikmat kopi, meski lokasinya terpencil di pinggiran kota.</p>

<p>Hari itu, Allan sibuk melayani pelanggan yang mengantre. Matanya tiba-tiba menangkap sosok yang tak asing memasuki kedai. Seorang wanita cantik dengan rambut panjang terurai, mengenakan mantel wol berwarna pink. Keira, penulis novel terkenal, melangkah anggun menyatu dengan antrean menuju Allan.</p>

<p>Jantung Allan berdegup kencang. Dia telah lama mengagumi karya-karya Keira. Setiap novel yang terbit selalu menjadi koleksi berharganya. Bahkan, Allan pernah rela merogoh kocek dalam hanya untuk mendapatkan novel edisi terbatas bertanda tangan Keira.</p>

<p>“Selamat datang di Woody&#39;s Brew, Kak Kei,” sapa Allan dengan nada gugup saat Keira sudah berada di hadapannya.</p>

<p>Keira terkejut saat Allan menyebutkan namanya. “Loh, kamu Al kan? Al yang di X?”</p>

<p>Allan terkekeh malu, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Iya, Kak. Kak Kei lagi nyari suasana tempat baru buat nulis ya?” tanyanya.</p>

<p>“Astaga, dunia X ternyata sempit ya.” Keira tergelak kecil. “Iya nih, aku lagi mau bangun mood nulis. Oh ya, aku mau pesan, umm,” matanya membaca satu per satu daftar menu yang ada di depannya. “Green tea latte satu, sama Cheese Cakenya satu,” pesannya.</p>

<p>“Baik, Green tea latte satu, Cheese Cake satu ya, Kak.” Jari Allan bergerak cepat di layar kasir, membuat bill pesanan Keira. “Ada lagi nggak, Kak?” tanya Allan.</p>

<p>Keira sedari tadi melihat-lihat interior kedai milik Allan, dikejutkan oleh suara wanita berambut pendek di hadapannya. “Umm, ya?”</p>

<p>Allan menyunggingkan senyuman. “Ada pesanan lagi nggak? Atau ini aja?” tanyanya.</p>

<p>“Oh iya, itu aja. Jadi berapa?” tanya Keira, dia mengambil ponselnya dari saku celana, bersiap untuk membayar pesanannya.</p>

<p>“Nggak usah bayar, Kak. Kali ini saya yang traktir,” ucap Allan.</p>

<p>“Ih! Nggak ah! Aku bayar. Jadi berapa?”</p>

<p>“Nggak apa-apa, Kak. Udah langsung duduk aja, nanti pesannanya diantar.” Allan segera membuang bill milik Keira, lalu membuatkan pesanan wanita berambut panjang yang masih terdiam menatapnya bingung.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://noubieau.writeas.com/eight-unexpected</guid>
      <pubDate>Mon, 29 Jul 2024 08:02:27 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>PROMPT JENSEUL</title>
      <link>https://noubieau.writeas.com/prompt-jenseul?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Seulgi dan Irene berada dalam sebuah grup duo, bertahun-tahun bersama, membuat Seulgi jatuh cinta pada Irene. Suatu hari Seulgi menyatakan cintanya kepada Irene, namun Irene menolaknya. Irene melakukan hal-hal romantis dan intim hanya untuk para penggemar. Seulgi merasa bodoh, ekspektasi akan perasaannya terhadap Irene begitu tinggi.&#xA;&#xA;Seulgi semakin bingung ketika Irene memutuskan untuk keluar dari grup dan memilih untuk menikah dengan seorang pengusaha besar di Jepang. &#xA;Seulgi enggan datang ke pernikahan Irene, rasa sakitnya masih membanjiri dirinya. Namun ia tidak ingin terlihat buruk, dan memutuskan untuk datang. &#xA;&#xA;Saat Seulgi sudah berada di pernikahan Irene, ia bertemu dengan teman lama Irene yang sudah jarang terlihat, Jennie. Seulgi mengajak Jennie yang datang seorang diri untuk menjadi One Plus-nya. &#xA;&#xA;Sejak pertemuan itu, Seulgi dan Jennie semakin dekat.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Seulgi dan Irene berada dalam sebuah grup duo, bertahun-tahun bersama, membuat Seulgi jatuh cinta pada Irene. Suatu hari Seulgi menyatakan cintanya kepada Irene, namun Irene menolaknya. Irene melakukan hal-hal romantis dan intim hanya untuk para penggemar. Seulgi merasa bodoh, ekspektasi akan perasaannya terhadap Irene begitu tinggi.</p>

<p>Seulgi semakin bingung ketika Irene memutuskan untuk keluar dari grup dan memilih untuk menikah dengan seorang pengusaha besar di Jepang.
Seulgi enggan datang ke pernikahan Irene, rasa sakitnya masih membanjiri dirinya. Namun ia tidak ingin terlihat buruk, dan memutuskan untuk datang.</p>

<p>Saat Seulgi sudah berada di pernikahan Irene, ia bertemu dengan teman lama Irene yang sudah jarang terlihat, Jennie. Seulgi mengajak Jennie yang datang seorang diri untuk menjadi <em>One Plus</em>-nya.</p>

<p>Sejak pertemuan itu, Seulgi dan Jennie semakin dekat.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://noubieau.writeas.com/prompt-jenseul</guid>
      <pubDate>Sat, 02 Mar 2024 05:48:36 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Wila Kinsley : Two</title>
      <link>https://noubieau.writeas.com/wila-kinsley-two?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;Aku menghela napas. Sepertinya Noura sudah pergi dari raga penjaga sekolah. Tapi aku dapat bernapas lega karena ia sudah tidak merasuki tubuh manusia disekitarku saat ini.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;Dengan jalan gontai diriku menghampiri loker dimana semua buku pelajaran kusimpan disana. Setelah gembok terlepas. Aku segera mengambil buku Sejarah dan Sains. Aku tidak suka dengan kedua pelajaran ini. Membuatku cepat mengantuk karena terlalu banyak teori. Berbeda dengan Fisika dan Matematika. Kalian dapat mengeksplor luas hanya menggunakan satu rumus saja. Menurutku sangatlah keren. Tentunya tidak membosankan.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;Saat aku menutup loker. Aku dikejutkan oleh seorang laki-laki tengah bersandar tepat pada loker sebelah dan menatap tajam ke arahku. &#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“A-ada apa Brian?” ucapku sedikit terbata karena Brian mendekat ke arahku. Perlahan aku mundur untuk menjaga jarak.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Berhentilah menyamakanku dengan hantu busuk itu atau kau akan habis ditanganku,” ucap Brian.&#xA;&#xA;Deg!&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“No-Noura?”&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Ya, itu aku,” tatapan Brian semakin mengerikan.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Oh tidak.”&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Oh ya.”&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;Aku mematung. Aku menelan saliva yang sudah memenuhi mulutku. Sebaiknya aku lari sekarang. Pikirku. Tak perlu basa-basi. Aku lari melesat cepat untuk menjauh dari Brian. Tidak itu Noura.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Run run run Wila Wila run run! Haha! Kau tidak bisa kabur dariku Wila Kinsley!!” pekik Brian sembari mengejarku.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Maafkan aku Brian! Aku tidak akan mengejekmu lagi!” Aku semakin percepat gerakan kaki. Kepalaku monoleh untuk melihat seberapa jauh jarak antara diriku dan Brian.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Boo!”&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;Sial! Hanya satu meter jarak antara kita. Aku lupa jika Brian merupakan atlet bola di sekolah. Habislah riwayatku menjadi tontonan para siswa-siswi Kwangya.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Kau tidak bisa kabur Willa!”&#xA;&#xA;Bug!&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;Wajahku menghantam kuat pada salah satu pintu janitor yang terbuka mendadak. Tubuhku terasa ringan. Sampai pandanganku menghitam. Mungkin saat ini waktunya aku mati konyol menabrak pintu karena berlari sepanjang koridor kelas.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>        Aku menghela napas. Sepertinya Noura sudah pergi dari raga penjaga sekolah. Tapi aku dapat bernapas lega karena ia sudah tidak merasuki tubuh manusia disekitarku saat ini.</p>

<p>        Dengan jalan gontai diriku menghampiri loker dimana semua buku pelajaran kusimpan disana. Setelah gembok terlepas. Aku segera mengambil buku Sejarah dan Sains. Aku tidak suka dengan kedua pelajaran ini. Membuatku cepat mengantuk karena terlalu banyak teori. Berbeda dengan Fisika dan Matematika. Kalian dapat mengeksplor luas hanya menggunakan satu rumus saja. Menurutku sangatlah keren. Tentunya tidak membosankan.</p>

<p>        Saat aku menutup loker. Aku dikejutkan oleh seorang laki-laki tengah bersandar tepat pada loker sebelah dan menatap tajam ke arahku.</p>

<p>        “A-ada apa Brian?” ucapku sedikit terbata karena Brian mendekat ke arahku. Perlahan aku mundur untuk menjaga jarak.</p>

<p>        “Berhentilah menyamakanku dengan hantu busuk itu atau kau akan habis ditanganku,” ucap Brian.</p>

<p>Deg!</p>

<p>        “No-Noura?”</p>

<p>        “Ya, itu aku,” tatapan Brian semakin mengerikan.</p>

<p>        “Oh tidak.”</p>

<p>        “Oh ya.”</p>

<p>        Aku mematung. Aku menelan saliva yang sudah memenuhi mulutku. <em>Sebaiknya aku lari sekarang</em>. Pikirku. Tak perlu basa-basi. Aku lari melesat cepat untuk menjauh dari Brian. Tidak itu Noura.</p>

<p>        “<em>Run run run</em> Wila Wila <em>run run</em>! Haha! Kau tidak bisa kabur dariku Wila Kinsley!!” pekik Brian sembari mengejarku.</p>

<p>        “Maafkan aku Brian! Aku tidak akan mengejekmu lagi!” Aku semakin percepat gerakan kaki. Kepalaku monoleh untuk melihat seberapa jauh jarak antara diriku dan Brian.</p>

<p>        “Boo!”</p>

<p>        Sial! Hanya satu meter jarak antara kita. Aku lupa jika Brian merupakan atlet bola di sekolah. Habislah riwayatku menjadi tontonan para siswa-siswi Kwangya.</p>

<p>        “Kau tidak bisa kabur Willa!”</p>

<p>Bug!</p>

<p>        Wajahku menghantam kuat pada salah satu pintu janitor yang terbuka mendadak. Tubuhku terasa ringan. Sampai pandanganku menghitam. Mungkin saat ini waktunya aku mati konyol menabrak pintu karena berlari sepanjang koridor kelas.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://noubieau.writeas.com/wila-kinsley-two</guid>
      <pubDate>Mon, 07 Aug 2023 15:52:04 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Wila Kinsley : One</title>
      <link>https://noubieau.writeas.com/wila-kinsley-one?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;Langit tampak cerah pada hari ini. Terdengar kicauan burung saling sahut merasuk dalam indera pendengaranku. Tak hanya itu. Banyak orang sudah keluar dari sarangnya. Melakukan aktivitas membosankan. Seperti sekolah dan bekerja. Ya walau bosan tapi kita membutuhkannya bukan?&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;Hari ini aku bangun lebih pagi dari sebelumnya. Bukan karena aku ingin sampai lebih dahulu di sekolah. Melainkan temanku sedari malam mengganggu tidurku. Leherku terasa berat karena porsi tidurku berkurang.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Mengapa kau menggunakan itu? Kau sedang tidak mendengarkan lagu,” ucap temanku. Kakinya bergerak mengikuti ritme langkahku.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Sudahku bilang jangan mengikutiku saat sekolah,” ucapku pelan agar tidak terdengar oleh orang lain.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Kenapa? Sekolahmu kali ini seru tau, banyak perempuan cantik dan laki-laki tampan, tak hanya itu merekapun sangat kaya raya!” jelasnya dengan penuh semangat.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Terserah, asal jangan ajak diriku bicara,” ucapku.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Kalau ingat.”&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Noura Hellen!” ucapku penuh penekanan.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Baiklah! Tapi nanti sore pinjamkan aku ponselmu, aku ingin melihat baju-baju baru,” jelas Noura.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Ya.” Gerbang sekolah sudah terlihat didepan. Kupercepat langkah kaki agar Noura tidak berada disampingku. Kepalaku sedikit menunduk melihat jalan agar tidak tersandung.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Wila tunggu!” Noura mengejarku. Aku menghiraukannya.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Wila!”&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Tidak.”&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Wila didepanmu!”&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Ti–”&#xA;&#xA;Bruk!&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;Sial. Aku menabrak seseorang. Tubuhku sedikit terhempas. Hampir terjatuh. Tapi tidak. Kurasakan sebuah lengan melingkar pada pinggulku. Aku tersadar saat ini posisi diriku dengan orang yang kutabrak saling melekat tanpa ada jarak sedikitpun. Bahkan aku dapat merasakan hembusan napasnya menerpa poniku.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;Aku menenggakkan kepala. Menatap wajah korban tabrakku. Mata kami saling bertemu. Aku mengerjapkan mata untuk memastikan manusia di hadapanku begitu tampan. Walau wujudnya seorang wanita.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Bisakah kau jalan dengan mata menghadap ke depan?” ucapnya dengan suara husky.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Ah–” kesadaranku kembali. Dengan cepat aku menarik tubuhku menjauh membuat lengannya terlepas dari pinggulku. &#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Maafkan aku! Aku tidak melihat kehadiranmu! Sekali lagi aku minta maaf!” berkali-kali aku membungkuk padanya. Minta maaf karena telah menabraknya. Sungguh ceroboh diriku.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;“Jangan diulangi kembali,” ucapnya. Perlahan ia meninggalkanku masuk ke dalam sekolah.&#xA;&#xA;&#x9;&#x9;Aku termenung menatap punggungnya yang lambat laun hilang dari penglihatanku. Sontak aku tersadar. Aku tidak dapat melihat perginya Noura. Kemana anak itu? Awas saja jika bertemu nanti! Batinku.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p>        Langit tampak cerah pada hari ini. Terdengar kicauan burung saling sahut merasuk dalam indera pendengaranku. Tak hanya itu. Banyak orang sudah keluar dari sarangnya. Melakukan aktivitas membosankan. Seperti sekolah dan bekerja. Ya walau bosan tapi kita membutuhkannya bukan?</p>

<p>        Hari ini aku bangun lebih pagi dari sebelumnya. Bukan karena aku ingin sampai lebih dahulu di sekolah. Melainkan temanku sedari malam mengganggu tidurku. Leherku terasa berat karena porsi tidurku berkurang.</p>

<p>        “Mengapa kau menggunakan itu? Kau sedang tidak mendengarkan lagu,” ucap temanku. Kakinya bergerak mengikuti ritme langkahku.</p>

<p>        “Sudahku bilang jangan mengikutiku saat sekolah,” ucapku pelan agar tidak terdengar oleh orang lain.</p>

<p>        “Kenapa? Sekolahmu kali ini seru tau, banyak perempuan cantik dan laki-laki tampan, tak hanya itu merekapun sangat kaya raya!” jelasnya dengan penuh semangat.</p>

<p>        “Terserah, asal jangan ajak diriku bicara,” ucapku.</p>

<p>        “Kalau ingat.”</p>

<p>        “Noura Hellen!” ucapku penuh penekanan.</p>

<p>        “Baiklah! Tapi nanti sore pinjamkan aku ponselmu, aku ingin melihat baju-baju baru,” jelas Noura.</p>

<p>        “Ya.” Gerbang sekolah sudah terlihat didepan. Kupercepat langkah kaki agar Noura tidak berada disampingku. Kepalaku sedikit menunduk melihat jalan agar tidak tersandung.</p>

<p>        “Wila tunggu!” Noura mengejarku. Aku menghiraukannya.</p>

<p>        “Wila!”</p>

<p>        “Tidak.”</p>

<p>        “Wila didepanmu!”</p>

<p>        “Ti–”</p>

<p>Bruk!</p>

<p>        Sial. Aku menabrak seseorang. Tubuhku sedikit terhempas. Hampir terjatuh. Tapi tidak. Kurasakan sebuah lengan melingkar pada pinggulku. Aku tersadar saat ini posisi diriku dengan orang yang kutabrak saling melekat tanpa ada jarak sedikitpun. Bahkan aku dapat merasakan hembusan napasnya menerpa poniku.</p>

<p>        Aku menenggakkan kepala. Menatap wajah korban tabrakku. Mata kami saling bertemu. Aku mengerjapkan mata untuk memastikan manusia di hadapanku begitu tampan. Walau wujudnya seorang wanita.</p>

<p>        “Bisakah kau jalan dengan mata menghadap ke depan?” ucapnya dengan suara <em>husky</em>.</p>

<p>        “Ah–” kesadaranku kembali. Dengan cepat aku menarik tubuhku menjauh membuat lengannya terlepas dari pinggulku.</p>

<p>        “Maafkan aku! Aku tidak melihat kehadiranmu! Sekali lagi aku minta maaf!” berkali-kali aku membungkuk padanya. Minta maaf karena telah menabraknya. Sungguh ceroboh diriku.</p>

<p>        “Jangan diulangi kembali,” ucapnya. Perlahan ia meninggalkanku masuk ke dalam sekolah.</p>

<p>        Aku termenung menatap punggungnya yang lambat laun hilang dari penglihatanku. Sontak aku tersadar. Aku tidak dapat melihat perginya Noura. <em>Kemana anak itu? Awas saja jika bertemu nanti!</em> Batinku.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://noubieau.writeas.com/wila-kinsley-one</guid>
      <pubDate>Sun, 06 Aug 2023 16:24:22 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Roses : Liburan 2</title>
      <link>https://noubieau.writeas.com/roses-liburan-2?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Few Days Later&#xA;&#xA;“Sayang tolong tanyain dong ke Coco pulang kapan? Kok gini hari anak-anak nggak kasih kabar mau pulang,” ucap Kellin sembari membuat kopi untuk Wira yang tengah asik menonton kartun di televisi.&#xA;&#xA;Wira melirik sekilas pada Kellin. Kemudian ia beranjak dari sofa untuk menghampiri sang istri. Tangannya melingkar erat pada pinggang ramping Kellin. Tak lupa ia memberikan kecupan lembut pada bahu membuat Kellin tersenyum senang atas aksi yang diberikan oleh Wira.&#xA;&#xA;“Biarin aja mereka liburan bareng keluarga daddynya, selama ini kan mereka sama kita terus, gantian lah,” ucap Wira.&#xA;&#xA;“Iya sih tapi— aahh sayang,” mata Kellin terpenjam saat Wira mengecupi lehernya yang menimbulkan sensasi geli dan nikmat menjadi satu.&#xA;&#xA;“Honeymoon yuk?” bisik Wira.&#xA;&#xA;Kellin membuka matanya lalu menoleh menatap wajah Wira, “Kemana?”&#xA;&#xA;“Kamu maunya kemana?” tanya Wira.&#xA;&#xA;“Umm kemana ya, Maldives?” ucap Kellin.&#xA;&#xA;“Boleh tuh, ayo malem ini berangkat,” ucap Wira.&#xA;&#xA;“Emangnya besok kamu nggak kerja?” tanya Kellin.&#xA;&#xA;“Bisa remote tenang aja, mau nggak? Mumpung anak-anak ada di bapaknya,” jelas Wira.&#xA;&#xA;“Ih tapi kan aku masih mens tau,” ucap Kellin.&#xA;&#xA;Wira perlahan memutar tubuh Kellin kemudian ia manaikan tubuhnya untuk duduk pada kitchen set. Ia menatapnya begitu dekat. “Udah sisa sisa terakhir kan?” tanyanya hanya di jawab anggukan kecil dari sang istri.&#xA;&#xA;Wira menyeringai, “Nyampe sana juga udah beres.”&#xA;&#xA;“ISH MESUM!” Kellin memukul pelan mulut Wira.&#xA;&#xA;“Mesum sama istri sendiri emang dilarang?” tanya Wira.&#xA;&#xA;“Enggak sih hehe, yaudah packing dulu sekarang,” ucap Kellin.&#xA;&#xA;“Iya nanti sorean aja, sekarang aku mau makan dulu,” ucap Wira membuat Kellin menatap bingung.&#xA;&#xA;Beberapa detik kemudian, “Aahhh sshh sayang.”&#xA;&#xA;Kellin mendesah nikmat ketika Wira menjilati leher jenjangnya. Sesekali ia meninggalkan jejak kepemilikan pada lehernya. Kellin pun pasrah akan aksi sang istri terasa begitu lapar. Ia memejamkan matanya dan menjambak kuat rambut Wira.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p><strong><em>Few Days Later</em></strong></p>

<p><em>“Sayang tolong tanyain dong ke Coco pulang kapan? Kok gini hari anak-anak nggak kasih kabar mau pulang,”</em> ucap Kellin sembari membuat kopi untuk Wira yang tengah asik menonton kartun di televisi.</p>

<p>Wira melirik sekilas pada Kellin. Kemudian ia beranjak dari sofa untuk menghampiri sang istri. Tangannya melingkar erat pada pinggang ramping Kellin. Tak lupa ia memberikan kecupan lembut pada bahu membuat Kellin tersenyum senang atas aksi yang diberikan oleh Wira.</p>

<p><em>“Biarin aja mereka liburan bareng keluarga daddynya, selama ini kan mereka sama kita terus, gantian lah,”</em> ucap Wira.</p>

<p><em>“Iya sih tapi— aahh sayang,”</em> mata Kellin terpenjam saat Wira mengecupi lehernya yang menimbulkan sensasi geli dan nikmat menjadi satu.</p>

<p><em>“Honeymoon yuk?”</em> bisik Wira.</p>

<p>Kellin membuka matanya lalu menoleh menatap wajah Wira, <em>“Kemana?”</em></p>

<p><em>“Kamu maunya kemana?”</em> tanya Wira.</p>

<p><em>“Umm kemana ya, Maldives?”</em> ucap Kellin.</p>

<p><em>“Boleh tuh, ayo malem ini berangkat,”</em> ucap Wira.</p>

<p><em>“Emangnya besok kamu nggak kerja?”</em> tanya Kellin.</p>

<p><em>“Bisa remote tenang aja, mau nggak? Mumpung anak-anak ada di bapaknya,”</em> jelas Wira.</p>

<p><em>“Ih tapi kan aku masih mens tau,”</em> ucap Kellin.</p>

<p>Wira perlahan memutar tubuh Kellin kemudian ia manaikan tubuhnya untuk duduk pada kitchen set. Ia menatapnya begitu dekat. “Udah sisa sisa terakhir kan?” tanyanya hanya di jawab anggukan kecil dari sang istri.</p>

<p>Wira menyeringai, <em>“Nyampe sana juga udah beres.”</em></p>

<p><em>“ISH MESUM!”</em> Kellin memukul pelan mulut Wira.</p>

<p><em>“Mesum sama istri sendiri emang dilarang?”</em> tanya Wira.</p>

<p><em>“Enggak sih hehe, yaudah packing dulu sekarang,”</em> ucap Kellin.</p>

<p><em>“Iya nanti sorean aja, sekarang aku mau makan dulu,”</em> ucap Wira membuat Kellin menatap bingung.</p>

<p>Beberapa detik kemudian, <em>“Aahhh sshh sayang.”</em></p>

<p>Kellin mendesah nikmat ketika Wira menjilati leher jenjangnya. Sesekali ia meninggalkan jejak kepemilikan pada lehernya. Kellin pun pasrah akan aksi sang istri terasa begitu lapar. Ia memejamkan matanya dan menjambak kuat rambut Wira.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://noubieau.writeas.com/roses-liburan-2</guid>
      <pubDate>Sun, 18 Jun 2023 08:08:36 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Roses : Liburan 1</title>
      <link>https://noubieau.writeas.com/roses-liburan-1?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;“Kalian nggak mau ketemu sama daddy?” Kellin tengah menatap kedua anaknya yang tengah asik bermain game konsol tanpa menoleh padanya.&#xA;&#xA;“Males,” ucap sang adik. Kenzie.&#xA;&#xA;“Jangan gitu dong, daddy kalian kan kemarin kerja, sekarang udah luangin waktu loh buat kalian,” bujuk Kellin.&#xA;&#xA;“Siapa suruh ngejanjiin kalau emang sibuk,” oceh sang kakak. Evane.&#xA;&#xA;“Yakin nggak mau ikut sama mommy?” ucap seseorang yang muncul dari belakang Kellin. Yuki.&#xA;&#xA;Mendengar suara Yuki, si kembar menoleh ke arah Yuki berada. Muka mereka seketika berubah sumringah ketika melihat kedatangan Yuki.&#xA;&#xA;“MOMMY!” ucap Kenzie dan Evane berbarengan kemudian mereka segera menghampiri Yuki dan memeluknya.&#xA;&#xA;“Kalian kok belum siap?” tanya Yuki sembari mengusap kedua kepala si kembar.&#xA;&#xA;“Lagi males sama daddy,” ucap Evane.&#xA;&#xA;“Emang sih daddy kalian ngeselin, mending sekarang kalian packing baju,” ucap Yuki membuat Kenzie dan Evane menatapnya bingung.&#xA;&#xA;“Ngapain packing baju?” tanya Kenzie.&#xA;&#xA;“Kita kan mau ke Bali, ada kung kung sama popo disana,” ucap Yuki.&#xA;&#xA;“Ish mommy kenapa nggak bilang, tau gitu udah prepare dari tadi!” Kenzie segera melepaskan pelukan lalu berlari menuju kamarnya dan di ikuti oleh Evane.&#xA;&#xA;Sebelum mereka menuju kamar, mereka melihat Jerico sedang menikmati secangkir teh diruang tamu. Jerico tersenyum melihat mereka menghampiri dirinya. “Ayo packing, Jayden udah nung– AKH!”&#xA;&#xA;Jerico meringis kesakitan akibat kedua kakinya di tendang oleh Kenzie dan Evane. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Si kembar kembali menuju kamar mereka.&#xA;&#xA;“Kenapa lo?” tanya Wira yang baru keluar dari kamar.&#xA;&#xA;“Anak lo noh! Anying sakit bat,” Jerico masih mengusap kedua kakinya.&#xA;&#xA;“Gimana ya mau bilang anak gue, tapi mereka anak kandung lo, jadi salah sendiri punya bibit bangor,” ucap Wira.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p><em>“Kalian nggak mau ketemu sama daddy?”</em> Kellin tengah menatap kedua anaknya yang tengah asik bermain game konsol tanpa menoleh padanya.</p>

<p><em>“Males,”</em> ucap sang adik. Kenzie.</p>

<p><em>“Jangan gitu dong, daddy kalian kan kemarin kerja, sekarang udah luangin waktu loh buat kalian,”</em> bujuk Kellin.</p>

<p><em>“Siapa suruh ngejanjiin kalau emang sibuk,”</em> oceh sang kakak. Evane.</p>

<p><em>“Yakin nggak mau ikut sama mommy?”</em> ucap seseorang yang muncul dari belakang Kellin. Yuki.</p>

<p>Mendengar suara Yuki, si kembar menoleh ke arah Yuki berada. Muka mereka seketika berubah sumringah ketika melihat kedatangan Yuki.</p>

<p><em>“MOMMY!”</em> ucap Kenzie dan Evane berbarengan kemudian mereka segera menghampiri Yuki dan memeluknya.</p>

<p><em>“Kalian kok belum siap?”</em> tanya Yuki sembari mengusap kedua kepala si kembar.</p>

<p><em>“Lagi males sama daddy,”</em> ucap Evane.</p>

<p><em>“Emang sih daddy kalian ngeselin, mending sekarang kalian packing baju,”</em> ucap Yuki membuat Kenzie dan Evane menatapnya bingung.</p>

<p><em>“Ngapain packing baju?”</em> tanya Kenzie.</p>

<p><em>“Kita kan mau ke Bali, ada kung kung sama popo disana,”</em> ucap Yuki.</p>

<p><em>“Ish mommy kenapa nggak bilang, tau gitu udah prepare dari tadi!”</em> Kenzie segera melepaskan pelukan lalu berlari menuju kamarnya dan di ikuti oleh Evane.</p>

<p>Sebelum mereka menuju kamar, mereka melihat Jerico sedang menikmati secangkir teh diruang tamu. Jerico tersenyum melihat mereka menghampiri dirinya. <em>“Ayo packing, Jayden udah nung– AKH!”</em></p>

<p>Jerico meringis kesakitan akibat kedua kakinya di tendang oleh Kenzie dan Evane. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Si kembar kembali menuju kamar mereka.</p>

<p><em>“Kenapa lo?”</em> tanya Wira yang baru keluar dari kamar.</p>

<p><em>“Anak lo noh! Anying sakit bat,”</em> Jerico masih mengusap kedua kakinya.</p>

<p><em>“Gimana ya mau bilang anak gue, tapi mereka anak kandung lo, jadi salah sendiri punya bibit bangor,”</em> ucap Wira.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://noubieau.writeas.com/roses-liburan-1</guid>
      <pubDate>Sat, 17 Jun 2023 06:13:57 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Hatred : Twenty Nine</title>
      <link>https://noubieau.writeas.com/hatred-twenty-nine?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;“ARINE! APA LO UDAH GILA?! BISA-BISANYA LO NGELEPASIN WILLMA!!” teriak Selene.&#xA;&#xA;Arine sudah malas berdebat, ia mendekati Selene lalu memegang kedua kepalanya untuk mempersilakan Selene melihat apa yang sudah ia lihat dalam memori Willma dan Kateryn. Arine melepaskan kedua tangannya lalu menatap Selene dengan malas.&#xA;&#xA;“Semua gara-gara gue, kalau lo mau nangkap gue, silahkan,” ucap Arine.&#xA;&#xA;“Kenapa lo baru kasih tau sekarang? Kalau dari awal lo kasih tau, semuanya nggak akan begini!” bentak Selene.&#xA;&#xA;“Hukum gue,” ucap Arine.&#xA;&#xA;“Sayang, kita bisa bicarakan baik-baik,” ucap Shalgie.&#xA;&#xA;Selene mengambil sebuah belati silver kemudian ia menusukannya tepat di jantung Arine, “Lo gue hukum dua puluh tahun di peti mati,” ucap Selene.&#xA;&#xA;Warna tubuh Arine pun berubah menjadi abu-abu. Dengan sigap Shalgie memeluk tubuhnya yang sudah mulai kaku. “Sampai bertemu nanti sayang,” bisik Arine sebelum ia benar-benar mati.&#xA;&#xA;“Sayang…,” Shalgie menangis menatap wajah Arine begitu sangat pucat. Kemudian beberapa Hunter membawa tubuh Arine untuk diletakkan pada peti mati yang akan dikunci oleh Selene.&#xA;&#xA;“Gue harap lo dapat belajar bertanggung jawab atas perbuatan lo sendiri, Griselda akan menggantikan posisi lo untuk ke depannya, selama lo pensiun gunakan waktu untuk bermeditasi sampai istri lo bebas, jangan coba-coba buat bawa kabur Arine atau lo akan berakhir seperti dia,” jelas Selene sebelum meninggalkan Shalgie di ruangannya.&#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;Setelah perang usai. Beberapa Hunter yang tersisa membantu mengurusi mayat dari vampire liar maupun anggota Hunter yang telah gugur. Adapun sebagian membantu menyembuhkan anggota pack Dalton yang terluka. Bersyukurnya tidak ada korban jiwa dari anggota werewolf. Kalau tidak semua akan rumit dan akan terjadi perang selanjutnya anatara vampire liar dengan werewolf.&#xA;&#xA;“Minum dulu,” ucap Bebe sembari memberikan botol minuman pada Ji yang ia temukan dari kantin.&#xA;&#xA;“Thanks,” Ji menerima botol minum tersebut lalu meneguknya hingga kandas.&#xA;&#xA;“Easy girl, nggak akan direbut kok, masih banyak,” Bebe terkekeh.&#xA;&#xA;“Haus tau!” dumal Ji.&#xA;&#xA;“Eh? Kamu luka? Sini aku obatin,” ucap Ji ketika melihat luka sayatan cukup dalam pada pergelangan tangan Bebe.&#xA;&#xA;“Nggak perlu, nggak seberapa kok ini,” ucap Bebe.&#xA;&#xA;“Nggak usah ngeyel! Werewolf healingnya cukup lama!” Ji mengambil perban darurat pada saku celananya. Ia menarik tangan Bebe yang terluka perlahan lalu melilitkan perban untuk menutupi lukanya.&#xA;&#xA;Bebe hanya diam menatap wajah Ji dari dekat. Mendadak ia mengecup bibirnya membuat Ji terpaku. “You’re so cute, what’s your name?” tanya Bebe.&#xA;&#xA;“Ji–Ji Kylie Halstead…,” ucap Ji.&#xA;&#xA;“I’m Bebe Dalton, alpha of Dalton’s pack, you scent is intoxicating,” ucap Bebe.&#xA;&#xA;“Okay nice info, urus sendiri ya perbannya, a-aku mau ke toilet, bye!” Ji segera bergegas pergi.&#xA;&#xA;“Haha cute.”&#xA;&#xA;“Woy Ji! Lo mau kemana?! Anjrit bukannya bantuin gue ngurusin vampire bau!” dumal Marfel.&#xA;&#xA;“Sini gue bantuin,” Bebe segera membantu Marfel memindahkan tubuh vampire pada tumpukan mayat vampire yang akan siap dibakar nantinya.&#xA;&#xA;“Ada yang ngeliat Dain kaga? Jangan bilang dia gugur?!” tanya Byanata.&#xA;&#xA;“Dain? Ada di desa gue, dia yang jagain pack gue selama gue sama yang lain disini,” jelas Bebe.&#xA;&#xA;“Ah anjrit tuh anak kapan matinya?! Peti mati yang gue pesen udah berdebu!” omel Velo.&#xA;&#xA;“Jual lagi aja ke admin, kayanya sekarang lagi butuh banyak peti mati,” ucap Byanata.&#xA;&#xA;“Ide bagus!” Velo segera mengambil ponselnya lalu menghubungi admin base SDA untuk menjual kembali peti mati yang sudah ia beli untuk Dain.&#xA;&#xA;“Heh! Bantuin dong jangan main ponsel aja lo,” protes Marfel.&#xA;&#xA;“Apa?! Lo?! Lo gue sekarang?!” Velo menatap tajam pada Marfel.&#xA;&#xA;“Eh iya maaf sayang keceplosan!” Marfel yang sedang membawa mayat vampire dilepas begitu saja membuat Bebe hampir tersungkur karena terbawa oleh berat mayat.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p><em>“ARINE! APA LO UDAH GILA?! BISA-BISANYA LO NGELEPASIN WILLMA!!”</em> teriak Selene.</p>

<p>Arine sudah malas berdebat, ia mendekati Selene lalu memegang kedua kepalanya untuk mempersilakan Selene melihat apa yang sudah ia lihat dalam memori Willma dan Kateryn. Arine melepaskan kedua tangannya lalu menatap Selene dengan malas.</p>

<p><em>“Semua gara-gara gue, kalau lo mau nangkap gue, silahkan,”</em> ucap Arine.</p>

<p><em>“Kenapa lo baru kasih tau sekarang? Kalau dari awal lo kasih tau, semuanya nggak akan begini!”</em> bentak Selene.</p>

<p><em>“Hukum gue,”</em> ucap Arine.</p>

<p><em>“Sayang, kita bisa bicarakan baik-baik,”</em> ucap Shalgie.</p>

<p>Selene mengambil sebuah belati silver kemudian ia menusukannya tepat di jantung Arine, <em>“Lo gue hukum dua puluh tahun di peti mati,”</em> ucap Selene.</p>

<p>Warna tubuh Arine pun berubah menjadi abu-abu. Dengan sigap Shalgie memeluk tubuhnya yang sudah mulai kaku. <em>“Sampai bertemu nanti sayang,”</em> bisik Arine sebelum ia benar-benar mati.</p>

<p><em>“Sayang…,”</em> Shalgie menangis menatap wajah Arine begitu sangat pucat. Kemudian beberapa Hunter membawa tubuh Arine untuk diletakkan pada peti mati yang akan dikunci oleh Selene.</p>

<p><em>“Gue harap lo dapat belajar bertanggung jawab atas perbuatan lo sendiri, Griselda akan menggantikan posisi lo untuk ke depannya, selama lo pensiun gunakan waktu untuk bermeditasi sampai istri lo bebas, jangan coba-coba buat bawa kabur Arine atau lo akan berakhir seperti dia,”</em> jelas Selene sebelum meninggalkan Shalgie di ruangannya.</p>

<hr/>

<p>Setelah perang usai. Beberapa Hunter yang tersisa membantu mengurusi mayat dari vampire liar maupun anggota Hunter yang telah gugur. Adapun sebagian membantu menyembuhkan anggota pack Dalton yang terluka. Bersyukurnya tidak ada korban jiwa dari anggota werewolf. Kalau tidak semua akan rumit dan akan terjadi perang selanjutnya anatara vampire liar dengan werewolf.</p>

<p><em>“Minum dulu,”</em> ucap Bebe sembari memberikan botol minuman pada Ji yang ia temukan dari kantin.</p>

<p><em>“Thanks,”</em> Ji menerima botol minum tersebut lalu meneguknya hingga kandas.</p>

<p><em>“Easy girl, nggak akan direbut kok, masih banyak,”</em> Bebe terkekeh.</p>

<p><em>“Haus tau!”</em> dumal Ji.</p>

<p><em>“Eh? Kamu luka? Sini aku obatin,”</em> ucap Ji ketika melihat luka sayatan cukup dalam pada pergelangan tangan Bebe.</p>

<p><em>“Nggak perlu, nggak seberapa kok ini,”</em> ucap Bebe.</p>

<p><em>“Nggak usah ngeyel! Werewolf healingnya cukup lama!”</em> Ji mengambil perban darurat pada saku celananya. Ia menarik tangan Bebe yang terluka perlahan lalu melilitkan perban untuk menutupi lukanya.</p>

<p>Bebe hanya diam menatap wajah Ji dari dekat. Mendadak ia mengecup bibirnya membuat Ji terpaku. <em>“You’re so cute, what’s your name?”</em> tanya Bebe.</p>

<p><em>“Ji–Ji Kylie Halstead…,”</em> ucap Ji.</p>

<p><em>“I’m Bebe Dalton, alpha of Dalton’s pack, you scent is intoxicating,”</em> ucap Bebe.</p>

<p><em>“Okay nice info, urus sendiri ya perbannya, a-aku mau ke toilet, bye!”</em> Ji segera bergegas pergi.</p>

<p><em>“Haha cute.”</em></p>

<p><em>“Woy Ji! Lo mau kemana?! Anjrit bukannya bantuin gue ngurusin vampire bau!”</em> dumal Marfel.</p>

<p><em>“Sini gue bantuin,”</em> Bebe segera membantu Marfel memindahkan tubuh vampire pada tumpukan mayat vampire yang akan siap dibakar nantinya.</p>

<p><em>“Ada yang ngeliat Dain kaga? Jangan bilang dia gugur?!”</em> tanya Byanata.</p>

<p><em>“Dain? Ada di desa gue, dia yang jagain pack gue selama gue sama yang lain disini,”</em> jelas Bebe.</p>

<p><em>“Ah anjrit tuh anak kapan matinya?! Peti mati yang gue pesen udah berdebu!”</em> omel Velo.</p>

<p><em>“Jual lagi aja ke admin, kayanya sekarang lagi butuh banyak peti mati,”</em> ucap Byanata.</p>

<p><em>“Ide bagus!”</em> Velo segera mengambil ponselnya lalu menghubungi admin base SDA untuk menjual kembali peti mati yang sudah ia beli untuk Dain.</p>

<p><em>“Heh! Bantuin dong jangan main ponsel aja lo,”</em> protes Marfel.</p>

<p><em>“Apa?! Lo?! Lo gue sekarang?!”</em> Velo menatap tajam pada Marfel.</p>

<p><em>“Eh iya maaf sayang keceplosan!”</em> Marfel yang sedang membawa mayat vampire dilepas begitu saja membuat Bebe hampir tersungkur karena terbawa oleh berat mayat.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://noubieau.writeas.com/hatred-twenty-nine</guid>
      <pubDate>Fri, 09 Jun 2023 15:57:08 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Hatred : Twenty Eight</title>
      <link>https://noubieau.writeas.com/hatred-twenty-eight?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;Berlin&#xA;&#xA;BYUR!&#xA;&#xA;Kateryn terbangun ketika ia merasakan dinginnya air membasahi seluruh tubuhnya. Kedua tangannya diikat ke atas membuatnya sulit bergerak. Ditambah kantung infus berisikan vervain disalurkan menuju tubuhnya. Rasa terbakar menjulur keseluruh tubuh membuat tubuhnya tidak berdaya.&#xA;&#xA;BUK!&#xA;&#xA;Pukulan keras mendarat di wajah Kateryn. Yuri memukulnya menggunakan pipa besi membuat wajah Kateryn babak belur. “Dimana Willma lo sembunyiin?!” tanya Yuri.&#xA;&#xA;“Lo nggak bisa menemukannya,” Kateryn terkekeh membuat Yuri semakin marah.&#xA;&#xA;Bertubi-tubi Yuri melayangkan pipa besi mengenai wajahnya. Darah segar mengalir darah dari mulut Kateryn. Bukannya merasakan sakit melainkan ia tertawa membuat Yuri kebingungan.&#xA;&#xA;“Why you so obsess with her?” tanya Kateryn.&#xA;&#xA;“I don’t know, I just like her,” ucap Yuri. Kateryn tertawa mendengar jawabannya.&#xA;&#xA;“Dimana Willma sekarang bajingan!!” Yuri sudah melayangkan pipa besi untuk memukul Kateryn kembali. Namun besi tersebut tertahan kuat membuat Yuri kebingungan.&#xA;&#xA;“I’m here,” ucap Willma membuat Yuri terkejut.&#xA;&#xA;“Mom! Where are you–”&#xA;&#xA;Willma merebut pipa besi dari genggaman Yuri. Kemudian ia manancapkannya pada dada Yuri hingga menembus punggungnya.&#xA;&#xA;“Akh!”&#xA;&#xA;Yuri terjatuh lemas. Ia menahan rasa sakit luar biasa akibat pipa besi menusuk mengenai jantungnya.&#xA;&#xA;“Beraninya kamu melukai istriku,” Willma menatap Yuri dengan penuh amarah.&#xA;&#xA;Yuri berusaha untuk melepaskan besi yang tertancap di dadanya. Namun semua itu sia-sia, karena Willma menarik kepala Yuri hingga terputus dari tubuhnya. Seluruh vampire yang berada disekitar menatap takut pada Willma.&#xA;&#xA;“Ada lagi yang berani menyentuh istri saya?! JAWAB!!!” teriak Willma membuat para vampire liar tunduk.&#xA;&#xA;Jason sang asisten pun berlutut di hadapannya, “Maafkan kami ma’am, kami hanya mengikuti perintahnya saja dan kami tidak mengetahuinya.”&#xA;&#xA;“Sampai dari kalian ada yang berani menyentuh istri saya, habis kalian semua, PAHAM?!!” teriak Willma.&#xA;&#xA;“Paham ma’am!!” ucap seluruh vampire serempak.&#xA;&#xA;Willma melemparkan kepala Yuri pada Jason, “Urusi dia.”&#xA;&#xA;“Baik ma’am,” ucap Jason.&#xA;&#xA;Kini Willma melepaskan ikatan pada tangan Kateryn. Segera ia menopang tubuhnya agar tidak terjatuh lalu membawanya pergi menuju rumahnya. “Kamu terlihat seksi saat marah,” bisik Kateryn.&#xA;&#xA;“Kamu lagi begini bisa-bisanya ngegombal,” dumal Willma.&#xA;&#xA;Kateryn tersenyum, “Maaf.”&#xA;&#xA;“Maaf untuk apa?” tanya Willma.&#xA;&#xA;“Maaf karena telah meninggalkan mu saat itu,” ucap Kateryn sebelum ia tidak sadarkan diri.&#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;1670&#xA;&#xA;“Kateryn tolong aku…,” lirihnya sembari memeluk kedua kakinya bersembunyi dibawah meja.&#xA;&#xA;Ia sangat ketakutan akan amarah dari penduduk kota yang mencoba membunuh dirinya. Namun beberapa detik kemudian para penduduk melempari bom molotov sehingga timbulnya kobaran api begitu besar melahap rumah yang dibangun oleh Kateryn untuk Willma.&#xA;&#xA;Willma berteriak ketakutan dan menangis, “Kateryn tolong aku!”&#xA;&#xA;“WILLMA!!”&#xA;&#xA;Ia mendengar suara yang ia tunggu-tunggu. Kateryn. Seperti mendapat kekuatan hanya mendengar suara sang kekasih membuat keberanian Willma muncul. Ia bergegas keluar dari rumah walau sesekali terbentur oleh reruntuhan kayu namun ia berhasil keluar melalui pintu belakang.&#xA;&#xA;“…KALIAN AKAN TERIMA AKIBATNYA!!!” Willma terkejut melihat Kateryn menyerang penduduk kota dengan brutal.&#xA;&#xA;“Kateryn…,” hendak menahannya namun ia sangat takut melihat amarah Kateryn sebegitu besar sampai seisi kota ia lenyapkan dalam sekejap.&#xA;&#xA;Willma terus saja mengikuti kemana Kateryn pergi dari kejauhan. Sampai dimana Kateryn berhenti ketika menatap seorang wanita yang baru saja datang ke kota Toulouse. Entah apa yang mereka bicarakan ia sangat sulit fokus untuk mendengar lebih jauh. Matanya pun membulat terkejut melihat Kateryn ditikam oleh wanita tersebut lalu membawanya pergi begitu saja.&#xA;&#xA;“Sayang?”&#xA;&#xA;Willma terbangun dengan wajah dipenuhi oleh keringat. Napasnya tersengal-sengal. &#xA;&#xA;“Mimpi buruk hm?” tanya Kateryn sembari mengusap lembut kepalanya.&#xA;&#xA;“Mimpi sialan…,” gumamnya.&#xA;&#xA;“Kamu kok udah bangun? Vervainnya udah hilang?” tanya Willma sembari memeriksa setiap inci tubuh Kateryn yang sudah duduk bersandar pada kepala kasur.&#xA;&#xA;“Aku udah bangun dari sejam yang lalu, tapi kamu lagi tidur nyenyak jadi nggak aku bangunin,” jelas Kateryn.&#xA;&#xA;Benar saja, bisa-bisanya ia tertidur disebelahnya ketika sedang menjaga Kateryn. Ia pun menghela napas. “Kamu lapar? Atau haus? Mau aku ambilin kantung darah lagi?” &#xA;&#xA;“Nggak perlu, yang aku butuhin sekarang istri aku,” Kateryn menarik tangan Willma agar berpindah duduk di pangkuannya. &#xA;&#xA;Willma pun pindah pada pangkuan Kateryn lalu menaruh kedua tangan pada pundaknya, “By the way kita belum nikah tau,” ucap Willma.&#xA;&#xA;“Secepatnya kita akan nikah,” ucap Kateryn.&#xA;&#xA;“Kenapa sih kamu dari dulu selalu bikin aku malu,” protes Willma.&#xA;&#xA;“Loh bikin malu kenapa?” tanya Kateryn penasaran.&#xA;&#xA;“Nggak tau!” Willma menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Kateryn. &#xA;&#xA;Kateryn pun terkekeh melihat tingkah lucu Willma. Kemudian ia memeluk tubuhnya dengan erat.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p><strong><em>Berlin</em></strong></p>

<p><strong><em>BYUR!</em></strong></p>

<p>Kateryn terbangun ketika ia merasakan dinginnya air membasahi seluruh tubuhnya. Kedua tangannya diikat ke atas membuatnya sulit bergerak. Ditambah kantung infus berisikan vervain disalurkan menuju tubuhnya. Rasa terbakar menjulur keseluruh tubuh membuat tubuhnya tidak berdaya.</p>

<p><strong><em>BUK!</em></strong></p>

<p>Pukulan keras mendarat di wajah Kateryn. Yuri memukulnya menggunakan pipa besi membuat wajah Kateryn babak belur. <em>“Dimana Willma lo sembunyiin?!”</em> tanya Yuri.</p>

<p><em>“Lo nggak bisa menemukannya,”</em> Kateryn terkekeh membuat Yuri semakin marah.</p>

<p>Bertubi-tubi Yuri melayangkan pipa besi mengenai wajahnya. Darah segar mengalir darah dari mulut Kateryn. Bukannya merasakan sakit melainkan ia tertawa membuat Yuri kebingungan.</p>

<p><em>“Why you so obsess with her?”</em> tanya Kateryn.</p>

<p><em>“I don’t know, I just like her,”</em> ucap Yuri. Kateryn tertawa mendengar jawabannya.</p>

<p><em>“Dimana Willma sekarang bajingan!!”</em> Yuri sudah melayangkan pipa besi untuk memukul Kateryn kembali. Namun besi tersebut tertahan kuat membuat Yuri kebingungan.</p>

<p><em>“I’m here,”</em> ucap Willma membuat Yuri terkejut.</p>

<p><em>“Mom! Where are you–”</em></p>

<p>Willma merebut pipa besi dari genggaman Yuri. Kemudian ia manancapkannya pada dada Yuri hingga menembus punggungnya.</p>

<p><em>“Akh!”</em></p>

<p>Yuri terjatuh lemas. Ia menahan rasa sakit luar biasa akibat pipa besi menusuk mengenai jantungnya.</p>

<p><em>“Beraninya kamu melukai istriku,”</em> Willma menatap Yuri dengan penuh amarah.</p>

<p>Yuri berusaha untuk melepaskan besi yang tertancap di dadanya. Namun semua itu sia-sia, karena Willma menarik kepala Yuri hingga terputus dari tubuhnya. Seluruh vampire yang berada disekitar menatap takut pada Willma.</p>

<p><em>“Ada lagi yang berani menyentuh istri saya?! JAWAB!!!”</em> teriak Willma membuat para vampire liar tunduk.</p>

<p>Jason sang asisten pun berlutut di hadapannya, <em>“Maafkan kami ma’am, kami hanya mengikuti perintahnya saja dan kami tidak mengetahuinya.”</em></p>

<p><em>“Sampai dari kalian ada yang berani menyentuh istri saya, habis kalian semua, PAHAM?!!”</em> teriak Willma.</p>

<p><em>“Paham ma’am!!”</em> ucap seluruh vampire serempak.</p>

<p>Willma melemparkan kepala Yuri pada Jason, <em>“Urusi dia.”</em></p>

<p><em>“Baik ma’am,”</em> ucap Jason.</p>

<p>Kini Willma melepaskan ikatan pada tangan Kateryn. Segera ia menopang tubuhnya agar tidak terjatuh lalu membawanya pergi menuju rumahnya. <em>“Kamu terlihat seksi saat marah,”</em> bisik Kateryn.</p>

<p><em>“Kamu lagi begini bisa-bisanya ngegombal,”</em> dumal Willma.</p>

<p>Kateryn tersenyum, <em>“Maaf.”</em></p>

<p><em>“Maaf untuk apa?”</em> tanya Willma.</p>

<p><em>“Maaf karena telah meninggalkan mu saat itu,”</em> ucap Kateryn sebelum ia tidak sadarkan diri.</p>

<hr/>

<p><strong><em>1670</em></strong></p>

<p><em>“Kateryn tolong aku…,”</em> lirihnya sembari memeluk kedua kakinya bersembunyi dibawah meja.</p>

<p>Ia sangat ketakutan akan amarah dari penduduk kota yang mencoba membunuh dirinya. Namun beberapa detik kemudian para penduduk melempari bom molotov sehingga timbulnya kobaran api begitu besar melahap rumah yang dibangun oleh Kateryn untuk Willma.</p>

<p>Willma berteriak ketakutan dan menangis, <em>“Kateryn tolong aku!”</em></p>

<p><em>“WILLMA!!”</em></p>

<p>Ia mendengar suara yang ia tunggu-tunggu. Kateryn. Seperti mendapat kekuatan hanya mendengar suara sang kekasih membuat keberanian Willma muncul. Ia bergegas keluar dari rumah walau sesekali terbentur oleh reruntuhan kayu namun ia berhasil keluar melalui pintu belakang.</p>

<p><em>“…KALIAN AKAN TERIMA AKIBATNYA!!!”</em> Willma terkejut melihat Kateryn menyerang penduduk kota dengan brutal.</p>

<p><em>“Kateryn…,”</em> hendak menahannya namun ia sangat takut melihat amarah Kateryn sebegitu besar sampai seisi kota ia lenyapkan dalam sekejap.</p>

<p>Willma terus saja mengikuti kemana Kateryn pergi dari kejauhan. Sampai dimana Kateryn berhenti ketika menatap seorang wanita yang baru saja datang ke kota Toulouse. Entah apa yang mereka bicarakan ia sangat sulit fokus untuk mendengar lebih jauh. Matanya pun membulat terkejut melihat Kateryn ditikam oleh wanita tersebut lalu membawanya pergi begitu saja.</p>

<p><em>“Sayang?”</em></p>

<p>Willma terbangun dengan wajah dipenuhi oleh keringat. Napasnya tersengal-sengal.</p>

<p><em>“Mimpi buruk hm?”</em> tanya Kateryn sembari mengusap lembut kepalanya.</p>

<p><em>“Mimpi sialan…,”</em> gumamnya.</p>

<p><em>“Kamu kok udah bangun? Vervainnya udah hilang?”</em> tanya Willma sembari memeriksa setiap inci tubuh Kateryn yang sudah duduk bersandar pada kepala kasur.</p>

<p><em>“Aku udah bangun dari sejam yang lalu, tapi kamu lagi tidur nyenyak jadi nggak aku bangunin,”</em> jelas Kateryn.</p>

<p>Benar saja, bisa-bisanya ia tertidur disebelahnya ketika sedang menjaga Kateryn. Ia pun menghela napas. <em>“Kamu lapar? Atau haus? Mau aku ambilin kantung darah lagi?”</em></p>

<p><em>“Nggak perlu, yang aku butuhin sekarang istri aku,”</em> Kateryn menarik tangan Willma agar berpindah duduk di pangkuannya.</p>

<p>Willma pun pindah pada pangkuan Kateryn lalu menaruh kedua tangan pada pundaknya, <em>“By the way kita belum nikah tau,”</em> ucap Willma.</p>

<p><em>“Secepatnya kita akan nikah,”</em> ucap Kateryn.</p>

<p><em>“Kenapa sih kamu dari dulu selalu bikin aku malu,”</em> protes Willma.</p>

<p><em>“Loh bikin malu kenapa?”</em> tanya Kateryn penasaran.</p>

<p><em>“Nggak tau!”</em> Willma menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Kateryn.</p>

<p>Kateryn pun terkekeh melihat tingkah lucu Willma. Kemudian ia memeluk tubuhnya dengan erat.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://noubieau.writeas.com/hatred-twenty-eight</guid>
      <pubDate>Fri, 09 Jun 2023 14:43:09 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Hatred : Twenty Seven</title>
      <link>https://noubieau.writeas.com/hatred-twenty-seven?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[---&#xA;&#xA;“Mau ngapain kesini?” tanya Willma pada kemunculan seseorang yang ia kenal. Arine.&#xA;&#xA;“Melepaskan mu,” Arine menghampiri Willma kemudian ia melepaskan kedua borgol di tangannya.&#xA;&#xA;Willma menatap aneh padanya, “Untuk apa?”&#xA;&#xA;“Menyelamatkan Kateryn dari anak buah mu,” jawab Arine. Willma terkejut.&#xA;&#xA;“Pergilah, selamatkan Kateryn, bawa Kateryn bersamamu, dan jangan pernah kembali ke Georgia,” ucap Arine membuat Willma semakin bingung.&#xA;&#xA;“CEPAT PERGI!! SEBELUM SAYA BERUBAH PIKIRAN!” teriak Arine.&#xA;&#xA;Tanpa bertanya apapun, Willma menuruti perintah Arine. Ia segera pergi untuk menyelamatkan Kateryn. Arine pun terjatuh lemas. Ia merasa tidak berguna sebagai ibu dari Kateryn.&#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;Few Days Ago&#xA;&#xA;Arine merebahkan tubuh Kateryn yang terbujur kaku di sebuah peti mati. Ia menatap wajah sang anak begitu lama. Kemudian ia memegang kepala Kateryn untuk membaca memori sang anak untuk beberapa abad yang lalu.&#xA;&#xA;1670&#xA;&#xA;Hari ini Kateryn baru saja selesai menjual beberapa tanaman herbal yang ia tanam sendiri kepada para ilmuwan dan dokter untuk dijadikan obat. Karena pada saat itu sangat maraknya penyakit mematikan membuat para dokter dan ilmuwan membutuhkan begitu banyak herbal. Walaupun sangat merepotkan, namun ia bertekad untuk mencari uang dengan cara yang lazim untuk membahagiakan calon istrinya. Willma.&#xA;&#xA;Karena jarak dari rumah dengan rumah sakit cukup jauh. Menyebabkan Kateryn pulang telat. Sebenarnya ia bisa saja berlari dan sampai di rumah tepat waktu. Namun ia diberi tumpangan oleh pihak rumah sakit untuk diantarkan pulang menggunakan kereta kuda.&#xA;&#xA;Sebelum kereta kuda sampai di depan rumah. Kateryn melihat rumahnya penuh dengan kobaran api cukup besar. Sontak ia meminta untuk berhenti lalu berlari menuju rumahnya untuk menyelamatkan Willma.&#xA;&#xA;“WILLMA!!” teriak Kateryn.&#xA;&#xA;“Itu dia teman si vampire!!” Kateryn terkejut ketika melihat begitu banyak penduduk kota tengah ramai membawa senjata tajam dan juga obor.&#xA;&#xA;“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!!” tanya Kateryn.&#xA;&#xA;“Beraninya kau menyimpan seorang monster di kota ini!!” ucap salah satu pria.&#xA;&#xA;“Sudah bunuh saja sekalian dia!! Dasar pembawa sial!!!” pekik seseorang membuat seluruh orang-orang berseru lalu beberapa dari mereka melepaskan tembakan pada Kateryn hingga mengenai tubuhnya.&#xA;&#xA;“Akh!” Kateryn tersungkur. Namun tak lama ia kembali bangkit membuat seluruh penduduk terkejut dan sekaligus takut.&#xA;&#xA;“Beraninya kalian mengusik kehidupan keluarga saya! KALIAN AKAN TERIMA AKIBATNYA!!!” pupil matanya berubah menjadi biru terang. Taringnya pun mencuat keluar terlihat begitu sangat tajam.&#xA;&#xA;Emosinya sudah di puncak. Ia sangat murka pada seluruh penduduk yang telah mengusik kehidupan dirinya dengan Willma. Tanpa berpikir panjang Kateryn secara membabi buta membunuh penduduk kota yang berada di hadapannya. Sebagian berlari ketakutan menuju kota. Namun Kateryn tetap mengejarnya. Ia terus saja membunuh manusia yang ada di hadapannya sampai lautan mayat manusia berserakan diseluruh kota.&#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;Arine menarik napas begitu dalam. Melihat putaran memori yang di alami Kateryn membuat hatinya begitu sakit. Bagaimana bisa ia tidak mengetahui hal tersebut. Ia hanya fokus untuk membuat Kateryn melupakan kejadian buruk tersebut dan tidak memikirkan bagaimana perasaan Willma saat itu.&#xA;&#xA;“Maafkan mommy nak,” Arine menitihkan air mata.&#xA;&#xA;1437&#xA;&#xA;“Ayo makan, mommy udah masakin kesukaan kamu,” ucap Airne pada Kateryn.&#xA;&#xA;Kateryn tidak menyahutnya. Bahkan ia tidak menatap sang ibu sama sekali. Ia memilih untuk duduk di pojok ruangan dengan kedua tangannya yang di borgol.&#xA;&#xA;“Kalau kamu tidak makan, kamu tidak akan memiliki tenaga,” ucap Arine.&#xA;&#xA;“Sudah aku bilang aku tidak mau makan!! Aku hanya ingin darah manusia!!” pekik Kateryn mendapat tamparan keras dari sang ibu.&#xA;&#xA;“Kendalikan nafsu mu!! Makanan kita memang darah! Namun bukan berarti kita membunuh manusia! Dahulu pun kita manusia!” Arine membentaknya.&#xA;&#xA;“Makan!! Atau jangan harap kamu bisa minum darah hewan dua minggu kedepan!” ancam Arine membuat Kateryn segera menghabiskan makanan yang dibuatnya dengan lahap.&#xA;&#xA;Ia tidak mau menahan rasa lapar akan darah untuk beberapa hari. Karena sebelumnya ia harus menerima hukuman tidak menyantap setetes darah pun hingga berbulan-bulan. Tentu saja Kateryn sudah dikurung oleh Arine hampir setahun lamanya. Tujuan Arine hanya satu. Untuk melatih anaknya mengendalikan nafsu laparnya akan darah manusia agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.&#xA;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<hr/>

<p><em>“Mau ngapain kesini?”</em> tanya Willma pada kemunculan seseorang yang ia kenal. Arine.</p>

<p><em>“Melepaskan mu,”</em> Arine menghampiri Willma kemudian ia melepaskan kedua borgol di tangannya.</p>

<p>Willma menatap aneh padanya, <em>“Untuk apa?”</em></p>

<p><em>“Menyelamatkan Kateryn dari anak buah mu,”</em> jawab Arine. Willma terkejut.</p>

<p><em>“Pergilah, selamatkan Kateryn, bawa Kateryn bersamamu, dan jangan pernah kembali ke Georgia,”</em> ucap Arine membuat Willma semakin bingung.</p>

<p><em>“CEPAT PERGI!! SEBELUM SAYA BERUBAH PIKIRAN!”</em> teriak Arine.</p>

<p>Tanpa bertanya apapun, Willma menuruti perintah Arine. Ia segera pergi untuk menyelamatkan Kateryn. Arine pun terjatuh lemas. Ia merasa tidak berguna sebagai ibu dari Kateryn.</p>

<hr/>

<p><strong><em>Few Days Ago</em></strong></p>

<p>Arine merebahkan tubuh Kateryn yang terbujur kaku di sebuah peti mati. Ia menatap wajah sang anak begitu lama. Kemudian ia memegang kepala Kateryn untuk membaca memori sang anak untuk beberapa abad yang lalu.</p>

<p><strong><em>1670</em></strong></p>

<p>Hari ini Kateryn baru saja selesai menjual beberapa tanaman herbal yang ia tanam sendiri kepada para ilmuwan dan dokter untuk dijadikan obat. Karena pada saat itu sangat maraknya penyakit mematikan membuat para dokter dan ilmuwan membutuhkan begitu banyak herbal. Walaupun sangat merepotkan, namun ia bertekad untuk mencari uang dengan cara yang lazim untuk membahagiakan calon istrinya. Willma.</p>

<p>Karena jarak dari rumah dengan rumah sakit cukup jauh. Menyebabkan Kateryn pulang telat. Sebenarnya ia bisa saja berlari dan sampai di rumah tepat waktu. Namun ia diberi tumpangan oleh pihak rumah sakit untuk diantarkan pulang menggunakan kereta kuda.</p>

<p>Sebelum kereta kuda sampai di depan rumah. Kateryn melihat rumahnya penuh dengan kobaran api cukup besar. Sontak ia meminta untuk berhenti lalu berlari menuju rumahnya untuk menyelamatkan Willma.</p>

<p><em>“WILLMA!!”</em> teriak Kateryn.</p>

<p><em>“Itu dia teman si vampire!!”</em> Kateryn terkejut ketika melihat begitu banyak penduduk kota tengah ramai membawa senjata tajam dan juga obor.</p>

<p><em>“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!!”</em> tanya Kateryn.</p>

<p><em>“Beraninya kau menyimpan seorang monster di kota ini!!”</em> ucap salah satu pria.</p>

<p><em>“Sudah bunuh saja sekalian dia!! Dasar pembawa sial!!!”</em> pekik seseorang membuat seluruh orang-orang berseru lalu beberapa dari mereka melepaskan tembakan pada Kateryn hingga mengenai tubuhnya.</p>

<p><em>“Akh!”</em> Kateryn tersungkur. Namun tak lama ia kembali bangkit membuat seluruh penduduk terkejut dan sekaligus takut.</p>

<p><em>“Beraninya kalian mengusik kehidupan keluarga saya! KALIAN AKAN TERIMA AKIBATNYA!!!”</em> pupil matanya berubah menjadi biru terang. Taringnya pun mencuat keluar terlihat begitu sangat tajam.</p>

<p>Emosinya sudah di puncak. Ia sangat murka pada seluruh penduduk yang telah mengusik kehidupan dirinya dengan Willma. Tanpa berpikir panjang Kateryn secara membabi buta membunuh penduduk kota yang berada di hadapannya. Sebagian berlari ketakutan menuju kota. Namun Kateryn tetap mengejarnya. Ia terus saja membunuh manusia yang ada di hadapannya sampai lautan mayat manusia berserakan diseluruh kota.</p>

<hr/>

<p>Arine menarik napas begitu dalam. Melihat putaran memori yang di alami Kateryn membuat hatinya begitu sakit. Bagaimana bisa ia tidak mengetahui hal tersebut. Ia hanya fokus untuk membuat Kateryn melupakan kejadian buruk tersebut dan tidak memikirkan bagaimana perasaan Willma saat itu.</p>

<p><em>“Maafkan mommy nak,”</em> Arine menitihkan air mata.</p>

<p><strong><em>1437</em></strong></p>

<p><em>“Ayo makan, mommy udah masakin kesukaan kamu,”</em> ucap Airne pada Kateryn.</p>

<p>Kateryn tidak menyahutnya. Bahkan ia tidak menatap sang ibu sama sekali. Ia memilih untuk duduk di pojok ruangan dengan kedua tangannya yang di borgol.</p>

<p><em>“Kalau kamu tidak makan, kamu tidak akan memiliki tenaga,”</em> ucap Arine.</p>

<p><em>“Sudah aku bilang aku tidak mau makan!! Aku hanya ingin darah manusia!!”</em> pekik Kateryn mendapat tamparan keras dari sang ibu.</p>

<p><em>“Kendalikan nafsu mu!! Makanan kita memang darah! Namun bukan berarti kita membunuh manusia! Dahulu pun kita manusia!”</em> Arine membentaknya.</p>

<p><em>“Makan!! Atau jangan harap kamu bisa minum darah hewan dua minggu kedepan!”</em> ancam Arine membuat Kateryn segera menghabiskan makanan yang dibuatnya dengan lahap.</p>

<p>Ia tidak mau menahan rasa lapar akan darah untuk beberapa hari. Karena sebelumnya ia harus menerima hukuman tidak menyantap setetes darah pun hingga berbulan-bulan. Tentu saja Kateryn sudah dikurung oleh Arine hampir setahun lamanya. Tujuan Arine hanya satu. Untuk melatih anaknya mengendalikan nafsu laparnya akan darah manusia agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://noubieau.writeas.com/hatred-twenty-seven</guid>
      <pubDate>Fri, 09 Jun 2023 11:32:38 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>