Four
8 January 2022 – 10.24 PM
Setelah berkunjung ke makam Irene, Seulgi mengajak Karina ke kedai es krim favorit saat Seulgi dan Irene masih pacaran dahulu. Tidak butuh waktu lama mobil Seulgi sudah berada di parkiran kedai es krim.
“Es krim, es krim, es krim,” Karina begitu senang ketika Seulgi membawanya ke kedai es krim. Mengapa Karina terlihat sangat mirip dengan Irene. Begitu senang jika di bawa ke tempat ini.
“Seneng banget kamu,” ucap Seulgi.
“Soalnya Kayin suka es krim hehe,” jelas Karina.
“Ayo turun,” Seulgi dan Karina turun dari mobil.
Karina menunggu Seulgi mengunci mobil, lalu menggenggam tangan Seulgi. Sudah kebiasaan Karina selalu menggenggam tangan Seulgi kemana pun itu, baik di luar maupun di dalam rumah. Seulgi pun tidak paham mengapa Karina seperti itu. Namun ia tidak menanggapinya dengan serius. Karina menggoyang-goyang kan tangan Seulgi. Hatinya begitu senang hari ini. Seulgi senang melihat Karina riang seperti. Baginya tawa dan senyum Karina adalah hal yang paling berharga. Ia tidak mau membuat Karina sedih. Ia sangat menjaga Karina dengan baik. Setelah membukakan pintu untuk Karina, Seulgi melirik kanan kiri untuk mencari meja kosong. Matanya menemukan meja kosong yang berada di pojok dekat jendela.
“Sayang kamu duduk duluan gih di situ, mama pesen dulu es krimnya,” Seulgi menunjuk meja yang di maksud.
“Matcha ya mah!” ucap Karina.
“Duh iya bawel mama tau, dah sana.”
Hendak maju mengantri memesan es krim, Seulgi menabrak seseorang yang tidak di kenal. Orang tersebut panik melihat baju Seulgi yang terkena es krim miliknya begitu banyak.
“Astaga! Maaf mbak! Salah saya nggak liat ada orang di belakang saya,” orang tesebut sibuk membersihkan baju Seulgi. Namun Seulgi hanya diam mematung menatap orang yang ada di hadapannya saat ini.
“I-Irene?” tanya Seulgi begitu pelan namun dapat terdengar.
“Huh? Maaf siapa?” tanya orang tersebut kebingungan.
“Ah!” Seulgi tersadar dari lamunannya. “Maaf saya kira orang yang saya kenal”,*
“Iya ngak apa apa, ngomong ngomong saya harus ganti baju anda, gara gara saya jadi kotor bajunya,” ucap orang tersebut.
“Hm?” Seulgi melirik ke bajunya, ternyata benar, bajunya terkena noda es krim coklat begitu banyak. “It’s fine, nggak perlu ganti.”*
“Jangan gitu! Pasti habis ini anda punya acara dan saya membuatnya kacau, saya minta maaf, saya boleh minta nomor anda mbak…?” tanya orang tersebut.
“Ah boleh, sebentar,” Seulgi mengambil dompet miliknya dan mengeluarkan kartu nama miliknya lalu memberikannya.
“Kang… Seulgi…,” orang tersebut membaca nama Seulgi pada kartu nama.
“Iya benar itu saya,” timpal Seulgi.
“Saya Joohyun, mungkin nanti saya akan hubungi anda secepat untuk mengganti baju itu,” ucap Joohyun.
“Tidak perlu saya abis ini juga pulang, tidak perlu sampai menggantinya,” ucap Seulgi.
“MAMIIIII~,” Karina tiba-tiba saja berlari ke arah Joohyun dan memeluk erat kakinya. Joohyun sedikit terkejut. Seulgi pun terkejut melihat Karina memeluk orang yang tidak di kenal.
“Eh Karina itu bukan mami sayang,” Seulgi mencoba melepaskan Karina dan menggendong nya.
“Terus kalo bukan mami, siapa dong? Tapi mukanya mirip mah,” Karina munujuk wajah Joohyun. Dengan cepat Seulgi menurunkan tangan Karina.
“Maafkan anak saya ya,” Seulgi membukuk berkali-kali pada Joohyun.
“Haha tidak apa, siapa nama kamu sayang?” tanya Joohyun sembari mengusap lembut pipi Karina.
“Nama aku Kang Jimin, tapi tante boleh manggil aku Kayin hehe muka tante mirip banget sama mami aku,” ucap Karina dengan polos.
“Namanya cantik kaya orangnya, kenalin nama tante Joohyun, tapi sayangnya tante bukan mami kamu sayang,” Joohyun mengusap kepala Karina.
“Iya nggak apa apa tante, lagian mami udah di surga,” Karina menujuk ke atas.
“Haha udah ya sayang, kayanya tantenya mau pulang itu,” timpal Seulgi.