Hatred : Eight
Georgia
Ujian seleksi hari ini berjalan sengit. Sudah ada beberapa siswa siswi yang tumbang ketika melawan Yeline, Reagan, dan Griselda. Namun sejauh ini jumlah yang lolos cukup banyak dibandingnya yang tumbang.
Matahari sudah berada di atas kepala, menandakan waktu siang sudah tiba. Giliran Griselda sudah selesai dan kini giliran Kateryn. Siswa siswi yang di uji oleh Kateryn sudah terbagi menjadi lima kelompok. Untuk kelompok mana yang akan maju di tentukan oleh Kateryn sendiri.
“Semangat sayang,” ucap Arine pada Kateryn yang tengah bersiap maju ke tengah lapangan. Kateryn hanya menjawab dengan senyuman manis pada sang ibu.
Ketika sudah siap ia pun berjalan maju ke tengah lapangan. Semua mata tertuju padanya. Termasuk para Eldest. Selene dan Joelle. Ia merenggangkan otot-ototnya untuk memanaskan tubuhnya.
“Kelompok tiga maju!” ucap Kateryn.
Perlahan kelompok tiga pun maju di hadapannya. Kemudian mereka mengatur posisi untuk siap menyerang sang penguji. Kateryn sudah dikepung oleh sepuluh calon hunter yang sudah siap membunuh dirinya. Semuanya sudah siap sampai Shalgie melepaskan tembakan ke udara menandakan waktu sudah dimulai.
Dengan gerakan cepat, hunter vampire menyerang kateryn terlebih dahulu. Namun dengan mudahnya Kateryn menghindar dari serangan tiga hunter vampire. Salah satu hunter vampire merupakan seorang wanita. Dengan sengaja Kateryn menarik tubuh wanita tersebut lalu mencium pipinya membuat wanita tersebut terkejut dan lengah. Saat itu lah kesempatan Kateryn untuk melumpuhkannya. Ia mematahkan lehernya dengan cepat lalu kembali menghindar dari serangan hunter lainnya.
“So weak!” ucap Kateryn.
Pertarungan Kateryn dengan empat kelompok begitu sangat sengit. Sejauh ini baru dua kelompok yang lolos karena telah mengalahkan Kateryn. Pakaian Kateryn sudah dipenuhi darah dan sobekan akibat terkena senjata para hunter.
Saat ini kelompok satu yang akan maju. Kelompok terakhir yang akan melawan Kateryn. Ia ingin segera mengakhiri sesi ini. Sudah satu jam lebih ia melawan empat puluh hunter.
DOR!
Tembakan pun berbunyi. Pertarungan kembali dimulai. Kali ini Kateryn akan mengeluarkan seluruh tenaganya. Dengan gerakan cepat ia mencakar tubuh setiap hunter. Cipratan darah pun berceceran hingga mengenai wajah dan tubuhnya. Hendak melumpuhkan satu wanita hunter ia melirik sekilas tangannya yang dipenuhi oleh darah segar. Saat itu pun pandangannya buram.
Ia terjatuh. Matanya terpejam sesaat. Samar-samar ia mendengar suara seseorang yang memanggil namanya. Saat ia membuka matanya, di hadapannya sudah terdapat begitu banyak tubuh manusia yang sudah tidak bernyawa. Tak hanya itu tubuhnya kini berada di genangan darah yang berwarna merah pekat. Ia pun segera bangkit. Entah mengapa kini ia berada di tengah kota yang terlihat seperti empat abad yang lalu.
“Kateryn!” suara tersebut kembali terdengar namun kali ini semakin jelas. Ia pun mengenali suara tersebut.
“M-Mmom?” matanya mencari keberadaan ibunya.
“Kateryn!” seseorang menarik tubuhnya dari belakang membuat tubuhnya berbalik. Ia terkejut melihat Arine dan sekaligus senang karena ibunya masih hidup.
“M-Mmom, what happen?” tanyanya dengan suara bergetar.
“You killed the whole city,” ucap Arine membuat Kateryn terkejut tidak percaya.
“No way! I didn’t do it mom, I-I swear,” ucap Kateryn panik.
“Look your hands love,” Kateryn pun menunduk lalu melihat tangannya dipenuhi oleh darah segar.
“I-It’s not me mom–”
Kateryn terdiam ketika sadar Arine sudah tidak ada dihadapannya. Ia pun semakin panik lalu mencari keberadaan Arine.
“M-Mom?”
“M-Mom?!!”
“MOM!!!”
“MOM!!!” Kateryn membuka matanya.
“Kateryn!!” Arine yang sedari tadi berada disebelahnya langsung memeluk tubuh Kateryn dengan erat. Badannya bergetar dan dipenuhi oleh keringat. Arine mencoba untuk menenangkan Kateryn yang masih terlihat panik.
“It’s okay baby, mommy’s here,” ucap Arine. Mendengar suara Arine membuat Kateryn sedikit tenang. Ia memeluk Arine tak kalah erat. Lalu membenamkan wajahnya pada bahu sang ibu.