Hatred : Eighteen
Toulouse
Kateryn dan Willma pun sampai di rumah mereka. Terlihat bangunannya begitu sangat kuno namun masih berdiri kokoh sampai saat ini. Kateryn hanya diam menatap rumah di hadapannya. Ia mengingat saat Willma menangis ketika ia melamarnya untuk pertama kali.
“Kamu mikirin apa?” tanya Willma.
“Kamu,” ucap Kateryn berhasil membuat Willma tersipu malu. Sudah sangat lama sekali ia merindukan sosok Kateryn yang ia kenal. Walau sangat mengerikan ketika ia marah. Namun Kateryn sangatlah perhatian dan penuh kelembutan ketika bersama orang yang dicintainya.
“Lama nggak ketemu masih aja gombal ya,” ucap Willma.
“Aku nggak gombal, aku hanya mengingat saat aku melamar mu disini, kamu terlihat menggemaskan ketika sedang menangis,” ucap Kateryn.
Willma menghampirinya lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher Kateryn, “Jadi, kamu sekarang udah ingat siapa aku?” tanya Willma.
Kateryn mengangguk lalu tersenyum, “You’re my wife,” ucap Kateryn seraya menarik dagu Willma lalu mencium bibirnya dengan lembut. Willma membalas ciumannya tak kalah lembut. Ia memeluk erat leher Kateryn. Ciuman mereka semakin dalam di ikuti deruan napas yang memburu membuat nafsu mereka memuncak.
DOR!
“AKH!!”
Sebuah peluru berhasil masuk ke dalam tubuh Willma. Keduanya pun terkejut. Terutama Willma. Ia meringis kesakitan saat merasakan timah panas menembus punggungnya.
Kateryn dengan cepat mencari pelaku yang sudah menembak Willma. Sampai akhirnya dua sosok muncul dari kejauhan. Nampaknya seperti mengenal mereka. Dua sosok tersebut berjalan menghampiri Kateryn dan Willma.
“Mau ngapain lo kesini?!” tanya Kateryn.
“Bawa lo pulang,” ucap Griselda.
“Coba aja kalo lo bisa,” Kateryn segera berlari menuju Griselda. Dengan cepat ia menyerang Griselda dengan tangan kosong. Namun dari serangan yang ia berikan selalu ditangkis oleh sahabatnya.
Satu sisi Willma tengah berjuang menangkis serangan Nicole yang datang bertubi-tubi. Ia masih merasakan sakit akibat luka tembak di punggungnya tak kunjung menutup.
“Fucking vervain!” Willma mendumal kesal.
“Sakit ya? Ups sorry!” ledek Nicole membuat Willma semakin kesal.
Sekuat tenaga Willma mencoba untuk menjatuhkan Nicole. Namun kekuatannya semakin menurun ketika ia menerima luka sayatan yang diberikan oleh lawannya.
“Nyerah aja Ryn! Ayo kita pulang!” ucap Griselda.
“Bacot!” Kateryn semakin marah. Matanya pun berubah.
Kateryn meloncat ke atas pohon. Ia mematahkan ranting pohon. Kemudian ia melempar cepat ke arah Griselda. Ranting pohon pun menancap tepat di dada Griselda.
“Arghh!” Griselda meringis kesakitan.
Melihat Griselda lengah, Kateryn pun turun untuk menyerang Griselda. Namun langkahnya terhenti ketika seseorang secara tiba-tiba muncul di hadapannya lalu menusukan sebuah belati pada dadanya. Kateryn pun terkejut. Ia terjatuh saat sebuah belati menancap di dadanya. Pelakunya merupakan Arine.
“NOOO!!!” teriak Willma ketika melihat Kateryn jatuh tidak berdaya.
“WHY YOU KILL MY WIFE?!!!” Willma murka. Ia berlari menuju Arine untuk menyerangnya. Namun Shalgie datang menghentikan aksi Willma dengan mematahkan lehernya dengan mudah.
Willma pun tersungkur ke tanah tidak sadarkan diri. Shalgie menghampiri Arine yang sedari tadi diam menatap wajah Willma. “Sayang?”
Arine pun tersadar dari lamunannya kemudian ia menatap Shalgie dengan bingung, “Huh?”
“Ayo pulang,” ucap Shalgie. Arine pun mengangguk.