Hatred : Eleven


Ducati Panigale V4 berwarna hitam berhenti tepat didepan sebuah club yang baru saja buka hari ini. Kedatangan motor tersebut membuat seluruh mata tertuju padanya. Sang pemilik motor pun turun lalu melepaskan helmnya. Ia menatap kearah pintu masuk club tersebut. Terlihat begitu ramai dan antriannya pun cukup panjang.

Kateryn pun menghela napas. Sebelumnya ia sengaja datang agak malam agar menghindar dari acara grand opening club tersebut. Apakah ia harus berpindah tempat? Namun ia sangat bosan dengan suasana club lama dimana ia sering melepaskan penat. Tak lama seorang wanita keluar dari club dan berbincang pada security yang menjaga. Wanita tersebut melihat kehadiran Kateryn.

“Kateryn!” panggil wanita tersebut.

Kateryn pun menoleh lalu melihat wanita yang memanggil namanya. Ia pun tersenyum. Ia mengenalnya. “Yuri!”

Yuri pun menghampiri Kateryn, “Lo baru dateng?” tanya Yuri.

“Baru banget, lo ngapain disini? Bukannya lo di Berlin?” tanya Kateryn.

“Gue kesini buat grand opening club gue, ini punya gue hehe, ayo masuk! Nanti lo duduk di meja gue, emang udah full sih didalem,” Yuri mengajak Kateryn untuk segera masuk.

“Wah pas banget gue dateng haha,” Kateryn pun mengikuti Yuri, tak lupa ia memberikan kunci motornya pada petugas vallet.

Keduanya pun sudah berada didalam club. Kateryn melihat lautan manusia sedang berpesta pada dance floor. Tak hanya manusia saja, ia dapat mencium beberapa vampire. Salah satunya adalah Yuri. Mereka berjalan ke meja dimana Yuri duduk. Meja itu kosong namun sudah ada beberapa botol dan gelas dimeja.

“Lo sendiri?” Kateryn menjatuhkan bokongnya pada sofa dihadapan Yuri.

“Harusnya ada temen gue disini, tapi nggak tau kemana, eh lo mau minum apa? Gue yang traktir,” tanya Yuri sembari menuangkan vodka pada gelasnya.

“Gue mau cognac terbaik yang lo punya,” ucap Kateryn.

“Pas banget! Gue baru restock cognac Frapin XO, lo mau?” tanya Yuri.

“Boleh, dua ya,” Kateryn menyandarkan tubuhnya. Pandangannya menyebar sekeliling. Walaupun sangat ramai namun ia terhibur dengan banyaknya wanita cantik menari di dekat meja yang ia tempati.

Yuri memanggil salah satu waiter. Ia menyuruh waiter untuk membawakan pesanan Kateryn segera. Sang waiter pun mengangguk dan berlalu pergi. Mata Kateryn mengekori kemana waiter itu pergi. Sampai tidak terlihat kembali ia menatap Yuri penuh tanda tanya.

“Kenapa?” tanya Yuri.

“Sejak kapan lo jadi vampire?” tanya Kateryn penasaran.

“Kapan ya,” Yuri menyandarkan badannya dan menyilangkan kakinya sembari berpikir.

“Umm, nggak lama sih setelah gue pensiun jadi Hunter, tahun berapa tuh? Dua puluh tahun yang lalu kali,” lanjut Yuri.

“Gila udah lama juga ya, siapa master lo?” tanya Kateryn.

Hendak menjawab pertanyaannya, Yuri terhenti ketika waiter datang membawa pesanan Kateryn lalu menaruhnya dimeja. Kateryn mengeluarkan dompet lalu memberikan dua lembar uang 200 GEL pada sang wiater.

“Thank you ma’am,” ucap sang waiter setelah menerima uang dari Kateryn.

*“Ada yang dibutuhkan lagi ma’am?” *tanya sang waiter.

“Tidak ada, kamu boleh pergi,” ucap Yuri.

“Baik ma’am,” waiter pun pergi.

Drrttt! Drrttt! Drrttt!

Ponsel Yuri bergetar menampilkan panggilan masuk dengan nama ‘Mommy’. Yuri pun segera mengambil ponselnya. “Ryn gue tinggal bentar ya, lo kalau mau mesen lagi tinggal panggil waiter aja okay,” ucap Yuri segera bangkit lalu pergi meninggalkan Kateryn.

Kateryn mengangguk. Ia membuka botol cognac lalu menuangkannya pada gelas. Ia meneguk cognac tersebut dikit demi sedikit sembari menikmati alunan lagu yang dibawakan salah satu DJ terkenal di Georgia.

Tiba-tiba saja datang wanita asing dengan pakaian seksi duduk disebelah Kateryn, “Ma’am ngapain disini?”

Kateryn terkejut melihat wanita asing tersebut merupakan Dain, “Kamu ngapain disini?”

“Nyari hiburan, bosen di asrama terus,” jawab Dain.

“Kamu mau?” tawar Kateryn.

“Apa itu?” Dain memajukan tubuhnya untuk melihat botol cognac yang dimaksud Kateryn.

“Cognac, suka nggak? Kalau nggak suka pesen yang lain aja,” ucap Kateryn.

“Boleh deh nyobain hehe,” Dain menyengir.

Kateryn mengambil gelas bersih lalu menuangkan sedikit cognac ke dalam gelas. Kemudian memberikannya pada Dain. “Cobain dulu,” ucap Kateryn.

“Terima kasih ma’am,” Dain menerima gelas pemberian Kateryn lalu ia mencobanya sedikit.

Kateryn sedari tadi menatap Dain tanpa berkedip menunggu reaksi Dain ketika mencoba minumannya, “Gimana?”

“Hmm enak juga ada pedas-pedasnya sedikit hehe,” ucap Dain.

“Haha dasar,” Kateryn menuangkan setengah gelas cognac pada gelas Dain.

“Kamu sendirian kesini?” tanya Kateryn.

Dain pun mengangguk, “Abis aku ajak yang lain nggak mau, yaudah sendiri aja kesini, soalnya aku udah booking dari bulan lalu hehe,” jelas Dain.

Kateryn pun mengangguk. Ia meneguk habis minumannya. DJ pun mengganti lagu yang cukup terkenal. Die for You, The Weeknd. Temponya sedikit lambat membuat orang-orang yang berada di dance floor menari berpasangan. Dain dengan semangat bangkit lalu menarik tangan Kateryn membuatnya terkejut.

“Ayo ma’am!” Dain menariknya.

Kateryn hanya bisa pasrah mengikuti Dain menuju dance floor. Ketika sudah berada ditengah kerumunan orang, Dain mulai menari sensual didepanya. Kateryn hanya diam menatap Dain yang asik menari menikmati alunan lagu. Kateryn dapat melihat senyum manis yang tergurat diwajah Dain. Sangat cantik. Terlihat berbeda ketika berada diruangannya tadi pagi. Perlahan Kateryn menarik pinggang Dian agar mendekat. Dain pun terkejut. Kedua tangannya diarahkan pada bahu Kateryn. Dain mengerjapkan matanya menatap Kateryn dari dekat.

Kedua mata mereka saling bertemu. Perlahan Kateryn memajukan kepala untuk mendekatkan bibirnya pada bibir Dain. Satu kecupan diberikan oleh Kateryn membuat Dain membulatkan matanya. Tidak ada protes yang dilontarkan. Kateryn pun melumat lembut bibir bawah Dain.

Sempat terdiam lama akhirnya Dain membalas lumatan Kateryn. Tangannya mengusap lembut tengku Kateryn. Ciuman mereka semakin dalam. Kateryn melumat bibir bawah Dain penuh gairah lalu mengigitnya perlahan lalu melepaskan tautan bibir mereka. Kateryn berpindah mencium leher jenjangnya yang mulus lalu meninggalkan beberapa jejak merah.

“Aahh,” Dain mendesah pelan dan menjambak rambut Kateryn.

Hendak melanjutkan aksinya, lagu pun berhenti. Sang DJ melanjutkan lagu dengan beat cepat membuat orang-orang di sekitarnya sedikit ricuh. Kateryn dan Dain mengatur napas mereka sembari menatap satu sama lain. Kateryn mengecup pipi Dain sebelum ia menariknya untuk kembali menuju meja. Dain tersenyum malu. Sampai di meja mereka, Dain pun duduk terlebih dahulu. Kateryn melepaskan jaket kulit miliknya lalu memakaikannya pada Dain.

“Aku ke toilet sebentar, kamu tunggu sini,” ucap Kateryn.

Dain pun mengangguk. Kateryn pun meninggalkannya. Tiba-tiba saja suhu di ruangan tersebut terasa panas. Ia mengipasi wajahnya dengan ponsel miliknya.

“Shit gerah banget,” gumamnya. Ia pun meneguk cognac miliknya hingga kandas.

Sampai di toilet Kateryn mencuci wajahnya berkali-kali. Ia pun merasa gerah akibat ciumannya dengan Dain. Ia menghela napas lalu menatap dirinya pada cermin. Ia terkejut ketika melihat seseorang berdiri di dekat pintu masuk tengah menatapnya tajam. Ia terdiam.

“Gimana rasanya ciuman sama manusia?” orang tersebut menyeringai.

“What do you want Willma?” Kateryn membalikan badannya lalu menatap Willma tanpa ekspresi.

Willma mengunci pintu masuk toilet lalu berjalan mendekati Kateryn. Ia menangkup wajah Kateryn. “Kamu datang kesini untuk mencariku atau untuk bersenang-senang hm?” tanya Willma sembari mengusap lembut pipinya.

“Aku sedang tidak bertugas, kalau kamu merasa terancam silahkan pergi, aku sedang tidak mood mengejarmu,” jelas Kateryn.

Willma pun tertawa keras, “Lagi pula kamu tidak akan bisa mengejarku sayang,” ucap Willma membuat Kateryn bingung.

Kateryn menghela napas, sebenarnya ia sedang tidak ingin bertikai dengan siapa pun dan juga ia sedang tidak bertugas malam ini. “Terserah, tunggu saja waktu pengejaran mu dengan yang lain,” ucap Kateryn melepaskan kedua tangan Willma dan berjalan menuju pintu.

Sebelum Kateryn menggapai kenop pintu. Willma dengan cepat menarik baju Kateryn lalu menghempaskan tubuhnya pada cermin dengan keras. Suara pecahan cermin pun terdengar nyaring. Dengan cepat Kateryn bangkit lalu mendorong tubuh Willma pada tembok lalu mencekiknya dengan kuat.

“I SAID I’M NOT IN THE MOOD!!” Kateryn menggeram membuat Willma terdiam. Kedua pupil matanya berubah menjadi biru.

Willma tersenyum, “Oh love, I missed your anger like that.”

Kateryn pun melepaskan cekikannya. Willma batuk-batuk akibat tersedak. Kemudian ia menarik wajah Kateryn lalu melumat bibirnya. Kateryn terkejut lalu mencoba untuk mendorong tubuh Willma. Namun seketika pandangannya buram.

Pandangannya pun kembali normal. Ada yang asing. Ia tidak berada di toilet. Kini ia berada di suatu kota yang sama seperti mimpi buruknya kemarin. Namun agak berbeda. Situasi kota tersebut sangatlah sepi. Tak ada seorangpun disana hanya ia seorang diri.

Tidak lama ia mendengar jeritan orang-orang yang berasal dari belakang gedung-gedung pertokoan. Kemudian muncul orang-orang yang berlari keluar dari sebuah gang antar gedung menuju kearahnya. Kateryn pun terkejut. Tak hanya itu. Ia melihat sosok yang menyeramkan tengah mengigit para warga hingga nyawanya hilang. Ia mengenali sosok tersebut.

“That’s the real you are love, full of anger and hatred, I love this monster a lot,” bisik Willma.

“If you want to know who you are, hunt me down alone, see you another time my love,” lanjut Willma.

Pandangan Kateryn pun kembali normal. Ia terdiam menatap tembok toilet. Willma sudah pergi. Ia berhasil membuat Kateryn kebingungan. Bagaimana Willma dapat memutar mimpi buruknya yang berbeda dari sebelumnya. Kepalanya terasa sangat pusing. Sepertinya ia harus segera pulang.