Hatred : Fifteen
Toulouse
Setelah mendapatkan lokasi yang dituju, kini Kateryn sudah berada di Toulouse. Kota terbesar keempat di Prancis yang masih memiliki begitu banyak gedung kuno yang sudah berumur ratusan tahun lamanya. Udara pagi hari di sana sangatlah sejuk. Ditambah dengan sinar matahari yang sudah mulai menyinari kota Toulouse membuat suasana menjadi sedikit hangat.
Namun Kateryn tidak dapat merasakan kehangatan itu. Entah bagaimana perasaannya sangat berbeda ketika ia baru menginjak kota tersebut. Rasa amarah dan kesedihan tercampur menjadi satu membuat dadanya terasa sesak. Ia pun menghela napas panjang. Mencoba mengatur detak jantungnya yang berdebar lebih cepat. Apakah ia takut? Tentu saja. Ia sangat takut apabila mimpinya merupakan sebuah putaran memori yang tidak dapat ia ingat. Dengan kata lain mimpi tersebut merupakan kejadian nyata.
Suasana kota tersebut mulai ramai dengan orang-orang yang melakukan aktivitasnya di pagi hari. Kateryn dapat merasakan hampir seluruh orang yang ia lewati merupakan vampire. Tak hanya itu para vampire yang ia temui menatap tajam ke arahnya. Sepertinya kehadirannya membuat penghuni vampire kota Toulouse terusik.
Bagaimana tidak terusik. Kateryn sangat dikenal oleh kalangan vampire seluruh dunia. Si anak sulung dari keluarga Dawson pendiri academy untuk para Hunter. Tentu saja mereka sangat dibenci untuk kalangan vampire liar yang tidak suka dengan aturan baru Eldest, melarang untuk membunuh manusia hanya demi kepuasan semata.
Kateryn tidak menanggapi serius dengan semua vampire disana menatap tidak suka ke arahnya. Ia sedang tidak bertugas. Ia hanya ingin mencari tau siapa dia sebenarnya. Sampai akhirnya ia berhenti pada sebuah gang kecil yang minim dengan cahaya matahari. Aroma dan suasana disana begitu sangat familiar. Seperti ia pernah mendatangi jalan setapak ini. Namun entah kapan ia tidak mengingatnya. Terakhir yang ia ingat, ia kemari ketika mengejar vampire liar yang menjadi target para Hunter dan itu terjadi dua tahun lalu.
“Do you remember this place, love?” ucap seseorang tengah berdiri tak jauh di belakang Kateryn.
“No, but I can sense it,” Kateryn pun memutar tubuhnya. Ia menatap orang tersebut. Willma.
Willma berjalan menghampiri Kateryn. Ia mengalungkan tangannya pada leher Kateryn lalu tersenyum sembari menatap kedua matanya. Perlahan ia mengusap lembut wajah Kateryn. “Of course you can sense it love.”
Kateryn megenggam tangannya, “Just tell me who I am?”
Willma terkekeh kecil, “Oh love, you’re still the same, always impatient.”
Willma tersenyum. Tak lama ia mematahkan leher Kateryn membuatnya tidak sadarkan diri. Dengan cepat ia menahan tubuhnya agar tidak terjatuh ke tanah.
“I’m sorry love, soon you will know who you really are,” bisik Willma lalu dengan cepat ia membawa pergi Kateryn pada suatu tempat.