Hatred : Five
Berlin
Malam ini bergelar Fashion Week dari brand Gucci di kota Berlin. Salah satu brand ambasador terbaru mereka merupakan Willma Deveraux. Salah satu model terkenal di Eropa. Acara tersebut begitu meriah dikarenakan banyak fans Willma yang datang. Bahkan banyak artis yang menyukai kehadiran Willma sebagai brand ambasador baru Gucci.
Willma terlihat sangat ramah dan cepat berbaur dengan orang baru yang ia kenal. Salah satunya seperti pria pengusaha kaya dari Belanda. Ia sengaja datang hanya untuk melihat Willma dan ia sangat beruntung karena saat ini ia sedang berbincang dengannya.
“I’m very honored to talk with you, you look so gorgeous tonight,” ucap sang pria seraya mengecup punggung tangan Willma. Tak lupa dengan matanya tak ada hentinya menatap wajah cantik Willma.
“Thank you Mr. Dave,” ucap Willma yang tersipu malu.
Tak lama seorang pria bersetelan jas serba hitam datang menghampiri Willma lalu membisikkan sesuatu pada kuping Willma membuat Dave menatap bingung.
“Ma’am it’s time to go,” bisik sang pria merupakan bodyguard Willma. Jason.
Willma pun tersenyum pada Dave setelah Jason sedikit menjauh darinya, “Sepertinya saya harus pergi, senang dapat berkenalan dengan anda Mr. Dave,” ucap Willma.
“Wait! Apa saya bisa mendapatkan nomor mu?” tanya Dave sedikit ragu.
“Oh sure! Just give me your phone,” ucap Willma.
Dengan cepat Dave pun memberikan ponselnya. Willma mengetikan nomornya pada ponsel Dave lalu ia memberikannya kembali pada sang pemilik ponsel. “Sampai bertemu lain waktu Mr. Dave.” Willma mendekat lalu mengecup pipi Dave sekilas sebelum ia pergi bersama Jason menuju mobil.
Setelah pergi dari acara Fashion Week kini Willma sudah berada di kediamannya. Jason memberi tau jika ia kedatangan tamu. Ia pun segera menuju ruang kerja miliknya. Pintu besar pun terbuka. Terlihat didalam sudah ada beberapa bodyguard miliknya dengan salah satu pria muda dengan penampilan lusuhnya.
“Who are you little man?” Willma berjalan melewati pria tersebut lalu menyandarkan bokongnya pada meja kerja. Ia menatap sang pria tanpa eskpresi.
“P-Please ma’am s-saya akan bayar hutang saya! Beri saya waktu sebulan!” pria tersebut memohon sembari bersujud dihadapan Willma.
“Ahh sekarang saya ingat, kamu pria muda yang waktu itu meminjam uang untuk pengobatan ibumu kan? Benar kan?” tanya Willma dijawab oleh anggukan dari sang pria.
Willma tertawa keras, “Astagaaaaa kamu ini, sudah saya kasih bonus dari nominal yang kamu ajukan tapi kamu membiarkan ibu mu mati menderita di panti jompo,” Willma berjongkok lalu menjambak rambut sang pria agar melihat wajahnya dengan jelas.
“Dan uangnya kamu habiskan untuk berjudi, hahahaha, tapi nggak masalah, untung saja kamu berjudi di tempat saya, kalau tidak habis kamu,” lanjut Willma sembari menyeringai.
“B-Beri saya waktu ma’am, saya janji akan melunasinya,” mohon sang pria.
“Kamu mau melunasinya dengan apa sayang? Hm? Pekerjaan saja tidak punya,” Willma mengusap lembut wajah sang pria.
“S-Say–”
“Sssttt,” Willma menutup bibir sang pria agar berhenti berbicara.
“Ginjal kamu masih bagus kan? Bayar saja dengan ginjal mu lalu saya akan lunaskan utang mu, bagaimana?” ucap Willma.
Pria tersebut terdiam lama. Willma pun bangkit lalu memberi isyarat pada bodyguard untuk membawa pergi pria tersebut.
“M-Ma’am?! Mau apakan saya?! Lepasin! Ma’am! Beri saya waktu ma’am!!” pekik sang pria yang dibawa oleh dua bodyguard menuju suatu tempat.
“Bodoh, bisa-bisanya membiarkan ibunya mati sedangkan ia asik berjudi,” gumamnya menahan kesal menatap kosong kearah pintu.
“Jual semua organnya termasuk jantung, siapkan makan malam, saya sangat lapar,” Willma pun keluar ruangan.
“Baik ma’am,” ucap Jason.