Hatred : Fourteen
Tok tok tok
“Masuk,” ucap Shalgie.
Tak lama pintu terbuka menampilkan Kateryn tengah menatap Shalgie yang berada dimeja kerjanya, “Manggil?”
“Duduk,” ucap Shalgie menyuruh Kateryn untuk duduk disofa.
Kateryn pun menurut. Setelah menutup pintu ia segera menuju sofa untuk duduk. Shalgie bangkit dan berpindah duduk berhadapan dengan Kateryn. Ia menatap sang anak sulung dengan tatapan serius.
“Kenapa?” tanya Kateryn.
“Semalem kamu abis dari mana?” tanya Shalgie.
“Club,” jawabnya singkat.
“Ketemu siapa kamu disana?” tanya Shalgie kembali.
“Dain, kenapa sih?” Kateryn mulai risih ketika Shalgie meintrogasi dirinya.
“Yakin Dain aja?” Sahlgie menaikan alis kananya.
“Iya,” jawab Kateryn.
“Mama tau kamu ketemu Willma,” ucap Shalgie.
“Yaudah kalau udah tau kenapa nanya?” tanya Kateryn.
“Kenapa kamu nggak bilang ke mama kalau kamu ketemu dia?”
Kateryn menghela napas, “Pertama aku lagi off jadi nggak ada urusan sama dia, kedua aku nggak kenal dia, ketiga mama sendiri yang suruh aku off,” jelas Kateryn dengan malas.
Shalgie diam sejenak. Benar juga perkataan Kateryn. Memang ia yang menyuruhnya untuk cuti menjadi hunter dan seharusnya dia ingat kalau Kateryn dapat bertingkah masa bodo dengan targetnya ketika ia sedang cuti.
“Lalu apa yang dia katakan?” tanya Sahlgie.
“Nothing, dia kabur setelah menyerangku, itu aja nggak ada yang lain,” ucap Kateryn.
“Tapi kamu nggak apa apa kan?” tanya Shalgie.
“Haruskah aku jawab?” Kateryn pun bangkit dari sofa.
“Aku sibuk, kalau mau nanya nanya lagi nanti aja,” Kateryn melangkah menuju pintu. Ia segera memutar kenop dan membuka pintu.
“Malam ini semua bergerak mencari dia, kamu mau ikut atau tidak?” tanya Shalgie membuat langkah Kateryn terhenti.
Kateryn diam sejenak untuk berpikir, “Males.”