Hatred : Nine
Tok tok tok
Pintu kamar terbuka. Membuat sang pemilik kamar menoleh ke arah pintu. Terlihat Arine berjalan masuk menghampiri si pemilik kamar yang masih terbaring di atas kasur.
“Good morning love,” ucap Arine yang kini sudah duduk di pinggir kasur sembari mengusap lembut kepala si anak sulung.
“Good morning mom,” Kateryn pun tersenyum.
“Masih ada yang sakit? Atau kamu mimpi buruk lagi?” Arine mengusap lembut pipi Kateryn.
Mendengar kata ‘mimpi’ membuatnya teringat kejadian kemarin. Kateryn pun menjawab dengan gelengan kepala. Lalu ia memegang tangan Arine.
“Mom,” ia sangat ragu untuk melontarkan pertanyaan yang ada didalam kepalanya sekarang.
“Hm? Kenapa?” tanya Arine.
“Apa aku pernah membunuh satu kota?” tanya Kateryn membuat Arine sedikit terkejut.
“Kenapa kamu nanya seperti itu? Kamu mimpi itu lagi hum?” tanya Arine.
“Just asking mom,” ucap Kateryn.
“No baby, kamu anak yang baik, kamu nggak pernah membunuh seperti didalam mimpi mu, kamu hanya kelelahan aja, ya sometimes kamu membunuh orang-orang jahat, tapi tidak sebanyak itu,” jelas Arine.
“Tapi–”
“Udah kamu istirahat ya, mama bilang kamu untuk sementara waktu off dulu di sekolah, sampai kamu siap mengajar lagi,” Arine membenarkan selimut Kateryn.
“Mama udah berangkat?” tanya Kateryn.
“Baru aja berangkat, kenapa?”
Kateryn pun menggelengkan kepala kemudian Airne mengecup keningnya, “Istirahat ya, mommy mau tempatin sarapan buat kamu, mommy udah masak steak kesukaan kamu,” Arine pun bangkit lalu pergi keluar untuk mengambil sarapan Kateryn.
Kateryn hanya diam menatap kepergian Arine. Kenapa ia sangat tidak puas dengan jawaban ibunya. Ia merasa ada yang ditutupi oleh Arine. Tak lama Arine kembali membawa meja lipat berisikan sarapan untuk anak sulungnya. Kateryn pun perlahan duduk dan menyandarkan tubuhnya pada kepala kasur. Arine menaruh meja tersebut di atas pangkuan Kateryn.
“Abisin ya, mommy mau beresin dapur dulu, kalau ada apa-apa panggil mommy,” ucap Arine.
“Makasih mom,” ucap Kateryn mengangguk tersenyum.
Arine pun pergi dan tak lupa menutup pintu kamar. Kateryn menghela napas kemudian ia menatap ke arah daging steak. Ia pun mengambil pisau dan garpu lalu memotong perlahan daging tersebut. Seketika ia teringat kejadian ujian kemarin.
“Yang nusuk gue siapa ya?” gumamnya sembari mengingat wajah siswi yang sudah berhasil membuatnya tumbang.