Hatred : One
1658
“Ayah aku lapar,” ucap seorang anak perempuan bernama Willma pada ayahnya yang tengah mengacak-ngacak tempat sampah terletak disebelah gedung restaurant.
“Sabar ya nak ibu dan ayah belum menemukan makanan sisa yang layak,” ucap sang ibu mencoba menenangkan Willma.
Seketika sang ayah muncul sebuah ide. Ia menyuruh putrinya untuk tetap diam didekat tempat sampah kemudian ia menarik sang istri untuk pergi menuju toko buah yang tidak jauh dari restaurant. Willma hanya dapat diam melihat gerak-gerik orang tuanya dari kejauhan. Badannya sudah lemas tidak bertenaga.
Dor! Dor!
Suara tembakan timbul seperkian detik menimbulkan semua orang terdiam lalu melihat ke arah sumber suara. Dua orang tumbang tepat didepan toko buah. Sang putri terkejut ketika melihat ayah dan ibunya tertembak.
“A-Ayah… I-Ibu…,” lirihnya sebelum ia berlari menghampiri jasad kedua orang tuanya.
“Manusia miskin sialan! Berani-beraninya mencuri buah milik saya!” ucap pria tua sang pemilik toko buah.
“Ayah! Ibu!” Willma pun tiba lalu mencoba membangunkan kedua orang tuanya yang sudah tiada dengan luka tembak terdapat di kedua kepala mereka.
“Oh jadi kamu anaknya?! Sini kamu!!” si pria tua menarik rambut perempuan muda tersebut lalu menyeretnya menuju gang sempit yang gelap.
“Berani-beraninya orang tua mu mencuri buah saya! Kamu harus mengganti rugi!” bentaknya seraya mendorong tubuh Willma pada sudut tembok.
Willma sudah ketakutan. Ia bersujud pada pria tua dihadapannya. “M-Maafkan saya, orang tua saya hanya meminta satu apel saja karena kami belum makan, maafkan saya.”
“Enak saja kamu! Tidak ada yang gratis didunia ini! Sebagai gantinya kamu harus memuaskan nafsu saya!” ucap sang pria tua lalu ia menarik dagu Willma dan menatapnya.
“Dilihat wajahmu lumayan untuk ku jadikan istri, haha ayo ikut saya!” sang pria mencoba untuk menarik paksa Willma untuk masuk ke dalam tokonya melalui pintu belakang.
“Ampuni saya pak!” Willma memberontak.
Entah apa yang terjadi suasana menjadi hening. Willma tidak merasakan paksaan dari sang pria tua. Ia terdiam seperkian detik untuk mencerna apa yang terjadi dan ia tidak melihat sosok pria tua itu dihadapannya.
Bruk!
Suatu benda terjatuh lalu menggelinding ke arah kakinya. Willma melihat benda tersebut berhenti di depan kakinya. Ia sempat kebingungan karena ia tidak tau benda apa yang didekat kakinya. Bentuk dan warnanya sudah seperti buah apel yang di ambil oleh ayahnya sebelumnya. Pikirnya pun begitu.
Tak lama ia membalikan badannya. Ia sangat terkejut. Ternyata benda yang ada di kakinya itu adalah jantung dari pria tua pemilik toko buah. Bukan hanya itu. Ia semakin ketakutan melihat seorang wanita terlihat seumuran dengannya maju perlahan untuk mendekat ke arahnya. Terlihat tangannya dipenuhi oleh darah segar.
Willma berjalan mundur perlahan, “M-Maafkan saya, saya janji tidak akan mencuri lagi, t-tolong jangan bunuh saya….”
Semua itu sia-sia saja. Wanita di hadapannya dengan cepat menggigit leher Willma kemudian memutar kepalanya untuk mematahkan lehernya. Ia pun terkapar mati. Melihat luka gigit pada leher Willma menutup sang wanita pun menyeringai.
“Good luck love,” wanita itu pun pergi begitu saja.
Berselang sepuluh menit Willma terbangun dengan rasa panik dan takut menjadi satu. Napasnya tersengal. Ia mengingat jika tadi ia di gigit oleh seorang wanita. Ia pun meraba lehernya. Tidak ada rasa sakit akibat gigitan. Apakah ini hanya halusinasi ia saja karena rasa lapar? Tapi sepertinya tidak, ia melihat jasad pria tua masih tergeletak di depannya.
Melihat darah tergenang didepannya membuat rasa lapar semakin kuat. Perlahan ia mencolek darah tersebut lalu mengemutnya. Entah apa yang salah dengan dirinya namun darah tersebut begitu sangat nikmat. Instingnya pun menggerakan tubuhnya untuk menjilati genangan darah dengan lahap. Lalu ia mengambil jantung sang pria tua dan memakannya hingga kandas.