Hatred : Seven
Berlin
Kini Willma sudah sampai di club milik Yuri. Sebenarnya club tersebut miliknya, namun ia menyerahkannya pada Yuri karena jadwalnya yang sangat padat tak sempat mengurus club miliknya.
Terlihat club sangat ramai pengunjung. Kebanyakan dari mereka merupakan vampire. Tentu saja Willma mengenal mereka semua. Indera penglihatannya menyebar mencari keberadaan Yuri. Selangkah demi selangkah ia lewati kerumunan vampire yang sedang berpesta malam ini.
Mendadak tubuhnya tertarik. Lalu ia menatap tajam pada pelaku yang berani menariknya begitu saja. Matanya yang berubah warna menjadi biru akhirnya meredup ketika sang pelaku merupakan orang yang dia cari. Yuri.
“Easy love,” ucap Yuri menyeringai lalu mengecup lembut pipi Willma. Tak lupa tangannya melingkar pada pinggang Willma dengan erat.
“You scared me!” protes Willma. Lalu ia meletakan kedua tangannya pada bahu Yuri.
“What are you thinking huh? Sampai sulit mencari keberadaan ku,” Yuri mengusap lembut wajah Willma lalu menatapnya.
“So many things, sorry,” Willma tersenyum.
“Kalau gitu kamu harus relax malam ini,” Yuri menarik dagu Willma. Ia mengecup bibirnya dengan lembut.
Willma terpejam dan membalas ciumannya tak kalah lembut. Tangannya meraba pada tengku Yuri dengan seduktif. Ciuman mereka semakin bergairah. Yuri dengan sengaja menggigit bibir bawahnya. Willma pun mengerti perlahan ia membuka mulutnya membiarkan lidah Yuri masuk kedalam dan menjilati lidahnya penuh nafsu. Tangannya pun tak hanya diam. Yuri meraba-raba tubuh Willma hingga kedua tangannya berada pada dua payudaranya. Ia pun meremas kedua payudaranya membuat Willma semakin terangsang.
“Mmmhhh,” Willma mendesah lalu melepaskan tautan bibir mereka. Ia pun menatap Yuri penuh gairah sembari menggigit bibir bawahnya.
Yuri terkekeh pelan saat melihat pupil mata Willma berubah menjadi biru, “Easy love,” ia menyeringai. Kemudian ia menjentikan jari memberi isyarat pada seseorang yang sedari tadi berdiri di dekat bar.
Willma pun melihat seorang wanita muda menghampiri mereka dengan tatapan kosong. Seorang manusia yang sudah dihipnotis oleh Yuri agar tidak merasakan rasa sakit ketika menjadi santapan hangat para vampire.
“Aku baru lihat dia,” ucap Willma.
“She’s new, come on I know you hungry love,” ucap Yuri sembari menyibak rambut wanita muda untuk mempermudah Willma mengigit lehernya.
Willma menurut. Perlahan ia mendekati leher sang wanita muda lalu ia mengeluarkan taringnya dan menancapkannya pada kulit leher menyebabkan darah segar keluar dengan deras ke dalam mulutnya. Setelah darah masuk ke dalam tenggorokannya, rasa laparnya pun menguasai pikirannya. Ia semakin nafsu menyedot luka gigitan agar semakin banyak darah yang masuk ke dalam mulutnya. Tangan kanannya meraba dada sang wanita muda. Hendak menusukan tangannya di dada wanita tersebut, dengan cepat Yuri menahan aksinya.
“Not her heart, I still want her stay alive,” bisik Yuri membuat Willma melepaskan taringnya dari leher wanita muda. Ia menatap kesal pada Yuri. Dengan cepat tangannya mencekik leher Yuri dengan kuat sampai tubuhnya terangkat dengan mudah.
“This is my place! She’s mine! I’m your master! You cannot to stop me!!” geram Willma membuat Yuri terdiam.
“Okay! Okay! She’s your! But not here,” Yuri pun mengalah.
Willma pun menurunkannya membuat Yuri bernapas lega. Satu detik kemudian Willma menusukan tangannya tepat di dada sang wanita muda lalu mengambil jantungnya membuat sang wanita mati seketika. Ia menyeringai menatap Yuri kemudian ia memakan jantung yang berada di tangannya dengan lahap.
“Jason, burn her body and get a new one,” ucap Willma pada Jason yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari Willma.
“Yes ma’am,” ucap Jason lalu membawa jasad wanita muda untuk dibakar di ruangan khusus yang sudah disediakan oleh Willma untuk menghilangkan jejak agar tidak tercium oleh polisi.
Yuri hanya dapat menghela napas. Baru saja ia mendapatkan karyawan untuk dijadikan santapan para vampire di clubnya. Namun lagi dan lagi Willma selalu membunuh mereka karena ingin memakan jantung mereka.