Hatred : Seventeen


Setelah semua Hunter berkumpul. Arine pun tiba di base tempat dimana para Hunter untuk menyusun strategi menangkap target mereka. Tak lama Shalgie pun datang. Ia sedikit terkejut ketika Arine datang ke academy.

“Udah berkumpul semua?” tanya Arine tanpa ekspresi.

“Sudah ma’am,” jawab Griselda.

“Rencana apa yang kalian punya untuk menangkap target kali ini?” tanya Arine.

“Kemarin Kateryn bertemu target di salah satu club baru, kemungkinan malam ini kita akan datang kesana untuk mencari informasi lebih lanjut keberadaan target,” jelas Griselda.

“Kalau gitu ambil sepuluh orang buat cari informasi disana, sebagian kalian cari di Berlin, Yeline dan Raegan yang memimpin, Griselda dan Nicole ikut saya ke Toulouse,” ucap Arine membuat bingung para Hunter, termasuk Griselda dan Nicole.

“Kenapa kesana ma’am?” tanya Nicole.

“Nanti juga kalian tau, prepare sekarang!!” ucap Arine.

“Kamu serius?!” Shalgie mengikuti Arine berjalan menuju lemari dimana seluruh senjata ditaruh.

“Iya,” Arine sama sekali tidak menatap Shalgie. Ia hanya fokus memilih senjata yang akan ia pakai.

“Biar aku aja yang pimpin okay? Kamu disini aja,” Shalgie memegang lengan Arine. Ia pun mendapat tatapan tajam dari sang istri.

“Aku nggak mau anak aku kembali seperti dulu! Aku sudah susah payah melatih dia! Jadi jangan halangi aku untuk membawa anak aku kembali!” Arine menepis tangan Shalgie.

“I know babe, but just let me–”

“YOU’LL NEVER KNOW!!!” bentak Arine membuat Shalgie dan seluruh Hunter terdiam. Terlihat Arine begitu sangat marah ketika Shalgie menahannya untuk menjemput Kateryn. Pupil matanya pun berubah menjadi biru.

“You’ll never understand how it feels to see your daughter turn into a monster!” ucap Arine penuh dengan penekanan pada Shalgie.


1670

Dengan sekuat tenaga Arine berlari menuju kota Toulouse. Kota dimana putrinya Kateryn menjalani hidupnya disana. Mereka sempat berpisah beberapa tahun. Bukan karena kemauan Arine. Melainkan Kateryn yang meminta sang ibunda untuk menetap di kota tersebut.

Kateryn mengatakan padanya jika ia sedang menyukai seseorang yang berada di kota Toulouse. Ia ingin memulai kehidupan barunya bersama orang yang ia sukai. Arine sempat ragu untuk mewujudkan permintaan sang anak. Namun umur mereka sudah dikatakan cukup untuk hidup mandiri. Akhirnya Arine pun menyetujui usul Kateryn. Ia pun pindah seorang diri menuju kota Georgia. Sebelumnya Arine dan Kateryn sudah terbiasa berpindah-pindah kota dan negara untuk menghindari kecurigaan orang-orang mengenai tentang mereka yang tidak akan pernah menua dan akan tetap hidup abadi.

Berkat kekuatan yang dimiliki oleh vampire itu sangat memudahkan mereka untuk berpindah tempat yang cukup jauh dengan waktu yang cepat dibandingkan menggunakan kendaraan. Hanya butuh waktu sejam Arine sampai di kota Toulouse yang jaraknya empat ribu kilometer lebih dari kota Georgia.

Sampainya di kota Toulouse. Suasana disana begitu sangat sepi. Tak hanya itu, banyak tubuh manusia yang berserakan di jalan membuat Arine merinding. Jujur saja ia baru melihat begitu banyak manusia yang tewas. Perlahan ia berjalan mengitari seluruh kota. Ia benar-benar tidak menemukan seorang pun disana. Sampai akhirnya ia berhenti di salah satu taman kota. Ia melihat sosok mengerikan tengah membunuh beberapa manusia dengan membabi buta. Ia pun segera mengambil batang kayu dengan ujungnya yang runcing di desain untuk sebagai senjata. Sepertinya penduduk seluruh kota ingin membunuh monster tersebut.

Perlahan Arine mendekat ke arah sosok mengerikan tersebut sembari matanya mengitari mencari keberadaan anaknya. Namun pergerakannya diketahui oleh monster tersebut. Mata mereka bertemu. Arine terkejut.

“K-Kateryn…,” ucap Arine.

Mendengar namanya disebut, Kateryn pun tersadar. Ia terkejut ketika melihat banyak tubuh manusia yang mati akibat ulahnya. Ditambah ia semakin ketakutan melihat tubuh dan tangannya dipenuhi oleh noda darah.

“M-mmom… mom… I didn’t do it! I-I swear mom!” ucap Kateryn yang panik.

Segera Arine menghampiri Kateryn. Bukannya mencoba untuk menenangkan sang anak melainkan Arine menusuk batang kayu tepat di dada Kateryn. Sontak sang anak terkejut.

“It’s time for us to left the city, baby,” bisik Arine seraya memeluk tubuh Kateryn yang lambat laun berubah warna menjadi abu-abu.

Ketika Kateryn sudah mati, Arine menatap seorang wanita muda di kejauhan tengah menatapnya sedih. Ia tidak tahu siapa wanita tersebut. Namun ia pastikan wanita muda itu merupakan vampire.