Hatred : Six


Pagi hari ini seluruh siswa dan siswi sudah berkumpul di lapangan untuk menunggu Shalgie membuka ujian seleksi tahun ini. Sudah menjadi rutinitas Saint Dawson Academy melakukan ujian seleksi untuk dijadikan anggota Hunter yang baru. Namun kali ini terlalu mendadak bagi para siswa siswi untuk mengikuti ujian tersebut. Karena pada tahun sebelumnya sudah dipastikan ujian seleksi terjadwal rapih.

Shalgie pun keluar dari gedung lalu berjalan menuju altar diikuti dengan para penguji. Suasana seketika menjadi hening ketika Shalgie sudah berada diatas podium. Seluruh siswa dan siswi menatap ke arah Shalgie dan para penguji.

“Selamat pagi semua, mohon maaf atas ketidak nyamanan kalian karena ujian seleksi ini diadakan secara mendadak, karena kami sedang membutuhkan Hunter cadangan segera mungkin,” ucap Shalgie membuat siswa siswi berbisik-bisik menanyakan apa yang terjadi.

“Awalnya kami hanya melakukan ujian seleksi pada beberapa siswa siswi yang siap untuk berperang, namun Eldest meminta seluruh siswa siswi mengikuti ujian ini agar mereka dapat melihat potensi kalian satu persatu,” jelas Shalgie membuat siswa siswi semakin riuh karena mendengar kata ‘perang’.

“SILENT!” teriak Selene membuat siswa siswi terdiam seketika.

Selene pun maju berdiri disebelah Shalgie. Ia menatap seluruh siswa siswi dengan wajah serius membuat situasi semakin menegangkan.

“Tidak perlu basa basi, saya dan Joelle akan memantau kalian selama berjalannya ujian seleksi, ujian dilaksanakan satu per satu dimulai dari rank terbawah yang diuji oleh Yeline Dawson, dari setiap penguji akan dibagi kembali beberapa kelompok, berhubung Yeline menguji tiga puluh lima siswa siswi maka akan dibagi menjadi tiga kelompok, dan sisanya akan dibagi menjadi lima kelompok,” jelas Selene.

Selene memberi isyrat pada salah satu anggota Hunter untuk naik ke altar. Anggota Hunter tersebut sudah lengkap dengan pakaian resmi Hunter berikut dengan senjata asli mereka berupa pistol, pisau, dan samurai.

“New rules! Ujian kali ini kalian akan menggunakan senjata lengkap pistol, pisau, dan samurai,” jelasnya kembali membuat siswa siswi terkejut.

Mendengar pernyataan Selene membuat Shalgie kebingungan, karena peraturan baru ini tidak pernah dibahas olehnya dan tentu Shalgie akan menolaknya. Hendak meinterupsi, Selene mengangkat tangannya memberi tanda agar Shalgie tidak membantah perintahnya.

“Peraturan ini akan berlaku untuk ujian tahun depan dan seterusnya, jadi saya harap kalian dapat semaksimal mungkin dalam ujian kali ini, jangan buat saya malu karena mengulang ujian ini dua kali, kalian paham?!” ucap Selene.

“Paham!!” ucap siswa siswi serempak.

“Kalau begitu kalian berpencar sesuai dengan penguji kalian lalu tentukan leader dan anggota kelompok, good luck!”