Hatred : Sixteen


“Wake up love.”

Terdengar samar-samar suara seseorang. Perlahan Kateryn membuka kedua matanya. Kepalanya terasa pening. Ia membutuhkan waktu beberapa detik untuk menormalkan pandangannya yang sedikit kabur. Ia melihat Willma tersenyum berdiri di hadapannya. Tak hanya Willma, ia pun melihat seorang wanita muda berdiri dibelakang Willma. Ia terdiam mencerna apa yang telah terjadi.

“Are you ready to bring back your memories?” tanya Willma sembari mengusap wajah Kateryn dengan lembut.

Kateryn menatapnya dengan bingung. Hendak menepis tangan Willma, ia terkejut saat mengetahui kedua tangannya di rantai ke dua sisi tembok kanan kiri. Ia pun sadar kalau wanita muda di belakang Willma merupakan seorang penyihir.

“What are you doing?!” Kateryn mencoba untuk menarik kedua rantai yang mengikatnya sekuat tenaga.

“Sshhh relax baby, tidak akan sakit tenang saja,” Willma mengecup pipi Kateryn. Ia memberi tanda pada sang penyihir muda untuk memulai ritualnya.

“Lepasin gue!! Fuck!!” Kateryn masih berusaha untuk melepaskan rantai di kedua tangannya. Namun tenaganya tidak cukup untuk melepas rantai tersebut.

Penyihir muda pun memulai ritualnya. Ia menghampiri Kateryn lalu memegang kepalanya dengan kedua tangannya lalu mengucapkan mantra. “Rompre le charme, pour lui rendre la mémoire, rompre le charme, pour lui rendre la mémoire, rompre le charme, pour lui rendre la mémoire.”

“AARGHHHH!!!” Kateryn merasakan sakit yang luar biasa pada kepalanya. Rasanya seperti tertusuk dan terbakar pada kepalanya.

Kedua matanya terpejam kuat. Taring giginya pun keluar. Kateryn meringis kesakitan. “AARRGGHHHH!!!”

“Rompre le charme, pour lui rendre la mémoire, rompre le charme, pour lui rendre la mémoire, ROMPRE LE CHARME, POUR LUI RENDRE LA MÉMOIRE!!”

“AARGHHHH FUCK!!!” Kateryn membuka kedua matanya. Terlihat pupilnya berubah warna menjadi biru. Wajahnya terlihat sangat marah. Satu hentakan di kedua tangannya berhasil membuat rantai terputus dengan mudahnya.

Dengan cepat Kateryn mencekik penyihir muda di hadapannya sampai tubuhnya terangkat. Sempat memberontak namun tenaganya sangat lemah dibandingkan oleh tenaga Kateryn. Tubuhnya pun dengan mudah terlempar sampai menghantam keras pada tembok. Kateryn berlari menghampiri sang penyihir lalu mengigit lehernya. Ia pun meminum darah sang penyihir lalu mencabut jantungnya hingga membuat sang penyihir tidak bernyawa. Ia menghancurkan jantung yang berada di tangannya dengan mudah sampai darah menciprat mengenai tubuh dan wajahnya.

“Kateryn?”

Kateryn pun menoleh kebelakang. Ia melihat Willma sedang berdiri menatapnya. Ia terkejut. “W-Willma?”

Willma perlahan menghampiri Kateryn. Lalu ia menatap lekat wajahnya yang dipenuhi oleh cipratan darah. Senyuman lebar tergurat di wajahnya. Matanya berbinar. Kedua tangannya menangkup kedua pipinya. “Hi love.”

“Are you okay? What happened?” tanya Kateryn.

“I’m okay baby, aku hanya rindu dengan dirimu yang lama,” ucap Willma sembari memeluk erat Kateryn dan membenamkan wajahnya pada ceruk lehernya.

Kateryn masih mencerna apa yang terjadi. Mengapa ia berada di tempat asing. Mengapa ia sangat marah pada penyihir muda hingga membunuhnya. Dan juga mengapa ia sangat merindukan wanita di hadapannya seperti ia sudah sangat lama tidak bertemu dengannya.

“It’s okay baby,” ucap Willma lalu ia melepaskan pelukannya dan menatap wajah Kateryn.

“Aku tau kamu butuh waktu untuk mengingat semuanya, yang terpenting kamu sudah kembali menjadi dirimu sayang,” lanjutnya.

“Apa aku baru terbangun? Mengapa pakaian mu sangat berbeda?” tanya Kateryn.

“Tidak, aku baru saja melepaskan mantra hipnotis di kepala mu,” ucap Willma.

“Siapa yang mencoba mehipnotis ku?” tanya Kateryn.

“Kamu akan tau itu saat ingatanmu pulih seutuhnya,” ucap Willma.

“Ayo pulang,” lanjut Willma.

“Pulang?” tanya Kateryn bingung.

“Iya pulang, ke rumah kita,” ucap Willma.


1665

“Maju dua langkah lagi ayo.”

“Kamu mau nunjukin apa sih, aku nggak bisa ngeliat tau.”

“Udah sampai,” ucap Kateryn sembari membuka kain yang menutupi mata Willma.

Segera Willma memfokuskan pandangannya. Di hapannya terdapat sebuah rumah yang begitu besar. Ia kebingungan lalu menoleh ke arah Kateryn seperti butuh penjelasan darinya.

“Rumah siapa ini?” tanya Willma.

Kateryn tersenyum. Ia membelokkan pandangan Willma menuju rumah di hadapannya. Kemudian ia memeluk tubuh mungil Willma dari belakang. “Rumah impian kita,” bisiknya membuat Willma terdiam.

“Kamu serius?!” tanya Willma tidak percaya.

“Yes love, kamu kan selalu memimpikan memiliki rumah, lantas aku segera membangun rumah ini untuk keluarga kecil kita,” jelas Kateryn.

Willma berbalik badan, ia menatap Kateryn bingung, “Maksud kamu apa keluarga kecil?”

“Aku mau kamu menjadi istri ku, menjadi ibu dari anak-anak kita kelak, dan menghabiskan waktu bersama di rumah impian kita selamanya, lantas apakah kamu bersedia menjadi istriku?” Kateryn mengeluarkan sebuah kotak kecil lalu membukanya. Terlihat sebuah cincin berlian didalamnya.

Willma menutup mulutnya. Ia tidak menyangka kalau dirinya akan dilamar oleh Kateryn. Matanya berkaca-kaca. Entah apa yang ia lakukan sebelumnya sampai ia dapat menemukan sosok Kateryn di kehidupannya yang sangat jauh dibilang dari kata malang. Dengan cepat ia memeluk erat tubuh Kateryn lalu ia menangis didalam pelukannya.

“Hey sayang kenapa nangis hm?” bisik Kateryn.

“Aku nangis karena aku senang,” ucap Willma pelan.

“Astaga aku kira kenapa, jadi kamu mau kan?” tanya Kateryn.

Willma hanya mengangguk kecil membuat Kateryn terkekeh pelan melihatnya begitu menggemaskan. Ia pun melepaskan pelukan Willma. Kemudian ia menyematkan cincin berlian pada jari manisnya.

“I love you Willma Deveraux,” Kateryn mengecup kening Willma.

“I love you too Kateryn.”