Hatred : Ten


Kateryn berhasil kabur dari pengawasan Arine. Ia sengaja datang ke Saint Dawson Academy tidak menggunakan kendaraan. Hanya berselang lima menit kini ia sudah berada di gerbang Saint Dawson Academy. Ia berjalan tanpa menghiraukan para murid yang menatap ke arahnya. Bagaimana tidak menjadi pusat perhatian. Saat ujian seleksi kemarin hanya Kateryn yang tidak sadarkan diri di lawan oleh calon hunter.

Saat ingin masuk ke dalam gedung, Shalgie melihatnya membuatnya bingung. Seharusnya Kateryn istirahat dirumah. Hendak menghampiri Kateryn, Shalgie tertahan oleh kemunculan Selene yang mendadak di hadapannya.

“Mau kemana?” tanya Selene.

“Huh?”

“Ayo keruangan lo, kita ngeteh,” ucap Selene seraya mendorong tubuh Shalgie menuju ruangannya yang berbeda gedung.


Setelah berjalan cukup jauh dari pintu masuk kini Kateryn sudah berada didepan ruang kantornya. Disana sudah ada Dain berdiri menunggu dirinya. Kateryn melirik jam tangan yang ia kenakan lalu menyeringai ke arah Dain. Jujur saja tatapan Kateryn membuat Dain semakin ketakutan.

Kateryn membuka pintu lalu menatap Dain yang menunduk, “Ayo masuk.”

Dain pun mengangkat kepalanya dan mengangguk, “Baik ma’am,” perlahan ia masuk ke dalam ruangan di ikuti oleh Kateryn.

Pintu pun di tutup membuat Dain bergetar gugup. Kateryn menyandarkan bokongnya pada pinggir meja lalu menyilangkan tangannya di dada sembari menatap Dain dari bawah hingga atas.

“Gimana rasanya mengalahkan saya?” tanya Kateryn.

Dain seketika berlutut, “Saya minta maaf ma’am! S-saya tidak bermaksud bikin ma’am tidak sadarkan diri! Mohon jangan bunuh saya!!” Dain pun menangis.

Kateryn mensejajarkan tubuhnya dengan berjongkok dihadapan Dain. Ia mengangkat dagu Dain perlahan lalu menatapnya. “Siapa yang mau bunuh kamu hm?” tanya Kateryn.

“Ma’am Kateryn,” ucap Dain sesegukan.

“Kalau saya tidak membunuh mu, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Kateryn.

“S-saya akan lakukan apa pun yang ma’am minta!!” ucap Dain.

“Apapun?” Kateryn menaikan alis kanannya. Dain pun mengangguk dengan cepat.

Kateryn diam sejenak. Ia pun berdiri. Lalu berjalan mengitari meja. Tangannya menarik laci meja lalu mengambil suatu benda dari dalam sana. Ia kembali berdiri dihadapan Dain dan menyodorkan benda tersebut padanya.

Dain terkejut ketika Kateryn memberikan sebuah pisau yang digunakan oleh para Hunter. Ia kebingungan dan menatap wajah Kateryn penuh tanda tanya.

“Take it,” ucap Kateryn.

Dain pun mengambil pisau tersebut lalu berdiri, “Ini buat apa ma’am?”

“Stab me like you did yesterday,” ucap Kateryn.

Dain membulatkan matanya terkejut, “I-I can’t….”

“You can.”

“I can’t ma’am! Nanti ma’am tidak sadarkan lagi!”

Kateryn terkekeh. Perlahan ia maju mendekat pada Dain. Ia menatapnya tajam membuat Dain melangkah mundur. “Why you so weak huh?”

“M-ma’am….”

“Kalau tidak bisa menusuk saya lebih baik kamu keluar dari Academy, jadi manusia yang lemah yang siap menjadi santapan para vampire liar!”

“…ma’am….”

“Steb me now.”

“I-I can’t….”

“STEB ME!!!”

Dain berhasil terpojok oleh Kateryn. Ia pun terpaksa menusukan pisau yang dipegang tepat didada Kateryn. Ia menangis. Kateryn terdiam. Ia mengeraskan rahangnya.

“Why it’s not working!” dengan cepat ia mencabut pisau tersebut lalu melemparnya hingga tertancap pada dinding.

“Y-you’re bleeding,” Dain menutup luka Kateryn dengan tangannya.

“It will be healed,” ucap Kateryn.

“Your wound it’s not heal stupid!” lontar Dain kemudian ia berlari mengambil pisau yang di lempar oleh Kateryn. Lalu ia menyayat pergelangan tangannya. Darah segar pun keluar. Ia mendekati Kateryn lalu menyodorkan pergelangan tangannya padanya.

“Minum biar vervainnya hilang,” ucap Dain.*

Kateryn menurut. Ia menjilati darah yang mengalir di tangan Dain. Sudah sangat lama ia tidak meminum darah manusia. Rasanya begitu nikmat. Namun ia harus menahan nafsunya agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Lukanya pun berangsur menutup lalu ia melepaskan tangan Dain. Luka dipergelangan tangannya pun menutup. Tentunya berkat cincin yang ia pakai. Cincin tersebut berguna untuk melindungi para hunter manusia. Mereka tidak akan mati selama cincin tersebut masih melingkar di jari mereka.

“Thanks and sorry for the last one,” ucap Kateryn.

“It’s okay ma’am,” ucap Dain.

“Kalau gitu kamu boleh pergi,” ucap Kateryn.

“Kalau gitu saya pamit ma’am,” Dain pun keluar dari ruangan. Kateryn menghela napas panjang. Kenapa rencana dia tidak berhasil.

“Bagaimana caranya gue bisa kembali ke mimpi itu,” gumamnya.


Vervain : sebuah cairan racun yang digunakan untuk melemahkan vampire. Efeknya akan membuat luka bakar pada permukaan kulit, memperlambat vampire untuk menyembuhkan luka-lukanya, dan membuat manusia tidak akan terkena hipnotis para vampire apabila memasukan vervain kedalam darah mereka melalui jarum suntik.