Hatred : Three


Tidak membutuhkan waktu lama Griselda dan Nicole sampai dikediaman keluarga Dawson. Mereka disambut hangat oleh Arine yang masih terjaga diruang keluarga.

“Mommy!” pekik Nicole yang berlari menghampiri Arine kemudian ia memeluknya.

“Astaga Nicole ngapain kamu malem-malem kesini? Terus itu masker kamu kenapa belum dilepas?” rentetan pertanyaan Arine membuat Nicole tersenyum malu.

“Aku lagi maskeran tadi terus Grisel ngajak meeting sekarang, karena nanggung jadi belom aku bersihin hehe,” jawab Nicole.

“Mom, mama Shalgie kemana?” tanya Griselda.

“Ada diruang kerjanya, samperin aja,” ucap Arine.

“Kalau gitu kita keruangan mama dulu ya mom, ayo yang,” Griselda menarik Nicole agar segera menemui Shalgie.

“Kalian mau makan apa?” tanya Arine pada Griselda dan Nicole.

“Steak medium rare mom!” teriak Nicole.

Arine pun beranjak dari sofa lalu menyiapkan makanan dan minuman untuk anak-anak dan istrinya. Sedangkan Griselda dan Nicole sudah berada didepan pintu ruangan dimana Sahlgie kerja.

“Masuk,” ucap Shalgie terlebih dahulu sebelum Griselda mengetuk pintu.

Griselda mendorong pintu ruangan. Kemudian terlihat didalam Shalgie tengah duduk disinggasananya berikut dengan Kateryn, Yeline, dan Raegan berada disofa. Mereka pun menatap Griselda dan Nicole.

“Muka kamu kenapa itu?” tanya Sahlgie pada Nicole.

“Masker mam hehe, ayo dimulai meetingnya jangan hiraukan wajah saya,” ucap Nicole.

Griselda dan Nicole pun masuk setelah menutup pintu. Kemudian Griselda memberikan sebuah file coklat pada Shalgie. “Itu profil tersangkanya, namanya Willma Deveraux, dia seorang model dari Jerman, semua bukti yang terkumpul, kematian para pengusaha kaya raya dan terkahir salah satu model dari Prancis semua mengarah pada Willma.”

“Tapi bukannya di TKP ketemunya DNA laki-laki bukan perempuan?” tanya Yeline.

“Itu–”

“Kaki tangannya,” potong Raegan.

“Maksudnya?” tanya Yeline masih tidak mengerti.

“Willma dalang dari semua kasus ini, dia nggak bekerja sendiri, ada kaki tangannya yang membantunya menghabisi para korban,” jelas Raegan.

“Dengan cara mencabut paksa jantung para korban dan DNA disetiap TKP berbeda-beda, sudah jelas Willma memiliki banyak budak vampire, sangat menarik,” jelas Shalgie.

“Serius mam?! Berarti ada seratus lebih budaknya dong?! Kok serem sih,” celetuk Nicole.

“Seratus dua puluh delapan yang terdeteksi, kita nggak akan tau berapa banyak budak yang dia punya,” jelas Shalgie.

“Oh ya informasi ini belum terdengar oleh polisi kan?” tanya Shalgie.

“Belum mam,” jawab Griselda.

“Good, kita usahakan jangan sampai bocor, biar kita yang urus, kita butuh pasukan cadangan, Raegan, Yeline, besok kalian list ada berapa banyak murid Hunter yang sudah siap untuk perang, Kateryn, Griselda, kalian pantau terus pergerakan Willma sampai kita siap untuk menangkap Willma,” jelas Shalgie lalu nama yang di sebutkan olehnya mengangguk terkecuali Kateryn.

Sedari tadi Kateryn hanya diam dengan mata terpejam, “Kateryn Dawson!” bentak Shalgie.

“I heard it,” ucapnya dengan malas.

Tak lama Kateryn membuka matanya, kemudian ia bangkit dari sofa, “Udah kan? Aku capek mam, good night,” ucap Kateryn berlalu meninggalkan ruang kerja Shalgie.

“Astaga itu anak!” dumal Shalgie.

“Ih terus aku ngapain?” tanya Nicole.

“Kamu maskeran aja,” jawab Shalgie.

“Mama! Ish! Nyebelin banget! Tau gitu aku nggak ikut!” dumal Nicole.