Hatred : Twenty
1658
Seorang gadis kecil berlari dengan sekuat tenaga menuju tengah hutan. Disana sangatlah minim cahaya. Hanya bulan lah yang menjadi sumber cahaya di kegelapan hutan. Dengan napas yang tersengal-sengal, gadis tersebut akhirnya berhenti di suatu pohon tumbang berukuran raksasa melintang menutupi sebagian jalur setapak.
Begitu banyak noda darah terlihat di baju dan kedua tangannya. Gadis kecil itu merasa ketakutan. Ia menjatuhkan diri tepat disamping pohon tumbang lalu memeluk kedua kakinya. Tak lama suara tangis terdengar dengan jelas.
“Jangan menangis,” suara tersebut membuat sang gadis terlonjak kaget. Ia melihat seorang wanita bertubuh tinggi tengah berdiri di hadapannya. Ia pun mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah wanita di hadapannya. Matanya pun membulat.
“Tolong! Jangan bunuh saya! Aku mohon!” gadis kecil bersujud dan memeluk kaki sang wanita memohon agar mengampuni dirinya.
Wanita itu perlahan melepaskan pelukan si gadis kecil pada kakinya. Ia berjongkok untuk menyeimbangkan pandangan mereka. Sang wanita tersenyum kemudian mengusap kepala si gadis dengan lembut.
“Untuk apa saya membunuh mu? Kamu sudah mati sayang,” ucap sang wanita membuat si gadis kebingungan.
“Siapa nama mu?” tanya sang Wanita.
“W-Willma,” ucap si gadis bernama Willma.
“Nama yang cantik, seperti pemiliknya, perkenalkan nama saya Kateryn, mulai detik ini saya yang akan mengajari mu untuk memulai kehidupan baru sebagai vampire,” ucap Kateryn membuat Willma semakin kebingungan.
“Va-vampire?” tanya Willma.
“Kamu sudah mati dan sekarang kamu menjadi vampire, sama seperti ku, makhluk penghisap darah,” jelas Kateryn.
Willma terdiam. Kemudian ia menatap kedua tangannya penuh dengan noda darah yang sudah mengering. Lalu ia menatap wajah Kateryn kembali. “Kenapa nyonya tidak biarkan saya mati saja? S-saya tidak pantas untuk hidup kembali, kedua orang tua saya sudah mati, saya saya ingin bersama mereka,” ucap Willma dengan lirih.
“Tidak sayang, kamu masih pantas untuk hidup lebih baik, maka dari itu saya mengubah mu menjadi vampire,” ucap Kateryn mencoba untuk menenangkan Willma yang sudah bergetar ketakutan dan sekaligus berkabung atas kematian kedua orang tuanya yang dibunuh tepat didepan matanya.
“Maafkan saya tidak sempat menolong orang tua mu, tapi saya janji saya akan membuat hidupmu menjadi lebih baik, ayo ikut saya pulang, kamu harus membersihkan tubuh mu, tidak baik bila dilihat oleh manusia,” ucap Kateryn sembari mengulurkan tangannya pada Willma.
Willma diam menatap tangan Kateryn. Ia sangat ragu. Ia takut jika ia akan dimanfaatkan atau disiksa oleh Kateryn. Karena ia selalu mendapatkan perlakuan berbeda dari penduduk kota. Dipukul, ditendang, maupun dilecehkan sudah menjadi makanan Willma sehari-hari ketika mencari makanan sisa dari tempat sampah.
Kateryn mengerti mengapa Willma sangat ketakutan dan ragu untuk ikut dengannya. Namun ia harus tetap membantu Willma untuk mengendalikan nafsu laparnya dan mengajarinya untuk berkelahi apabila ada seseorang yang berniat jahat padanya. Dengan cepat Kateryn mengangkat tubuh Willma dengan mudah. Si gadis kecil pun terkejut dan refleks memegang kedua bahu Kateryn yang sangat kokoh menurutnya.
“Kita harus cepat, sebelum manusia melihat kita, pejamkan matamu, mungkin ini akan membuatmu takut,” ucap Kateryn. Willma mengangguk nurut.
Ia memejamkan kedua matanya dengan cepat. Kateryn terkekeh pelan melihat betapa lucunya Willma saat menuruti perintahnya. Kateryn pun berlari menuju rumahnya yang tidak jauh dari lokasi ia menemukan Willma.
Willma membuka matanya perlahan. Pandangannya sangat buram. Ditambah kepalanya terasa sangat pening. Ia mengerjapkan matanya untuk menormalkan pandangannya. Terlihat di hadapannya terdapat seseorang tengah berdiri memandang dirinya dengan tatapan tajam.
Willma sadar jika dirinya kini sudah menjadi tahanan para Hunter. Kedua tangannya di borgol pada kedua sisi tembok. Ia tersenyum sembari menahan rasa nyeri pada luka punggungnya yang tak kunjung pulih.
“Who are you?” tanya seseorang di hadapannya yang merupakan Arine.
“Me?” Willma menatap Arine lalu terkekeh pelan, “I’m Willma Dawson,” Willma menyeringai.
“You’re not Dawson,” ucap Arine.
“You’re always denying, it’s like denying your daughter is a monster,” sindir Willma membuat Arine marah.
PLAK
Arine menampar keras wajah Willma. Kemudian ia memegang kepalanya membuat Willma memberontak. “Get off your fucking hands from my head!” teriak Willma.
Gertakan Willma tidak digubris olehnya. Arine mencoba fokus untuk membaca memori Willma bersama Kateryn. Tidak membutuhkan waktu lama ia mendapat pandangan berupa putaran memori Willma ketika bersama dengan anaknya, Kateryn. Merasa ingatannya berhasil dilihat oleh Arine, Willma menendang tubuh Arine hingga terpental menghantam tembok dengan keras.
“I SAID GET OFF!!!”