Hatred : Twenty Eight
Berlin
BYUR!
Kateryn terbangun ketika ia merasakan dinginnya air membasahi seluruh tubuhnya. Kedua tangannya diikat ke atas membuatnya sulit bergerak. Ditambah kantung infus berisikan vervain disalurkan menuju tubuhnya. Rasa terbakar menjulur keseluruh tubuh membuat tubuhnya tidak berdaya.
BUK!
Pukulan keras mendarat di wajah Kateryn. Yuri memukulnya menggunakan pipa besi membuat wajah Kateryn babak belur. “Dimana Willma lo sembunyiin?!” tanya Yuri.
“Lo nggak bisa menemukannya,” Kateryn terkekeh membuat Yuri semakin marah.
Bertubi-tubi Yuri melayangkan pipa besi mengenai wajahnya. Darah segar mengalir darah dari mulut Kateryn. Bukannya merasakan sakit melainkan ia tertawa membuat Yuri kebingungan.
“Why you so obsess with her?” tanya Kateryn.
“I don’t know, I just like her,” ucap Yuri. Kateryn tertawa mendengar jawabannya.
“Dimana Willma sekarang bajingan!!” Yuri sudah melayangkan pipa besi untuk memukul Kateryn kembali. Namun besi tersebut tertahan kuat membuat Yuri kebingungan.
“I’m here,” ucap Willma membuat Yuri terkejut.
“Mom! Where are you–”
Willma merebut pipa besi dari genggaman Yuri. Kemudian ia manancapkannya pada dada Yuri hingga menembus punggungnya.
“Akh!”
Yuri terjatuh lemas. Ia menahan rasa sakit luar biasa akibat pipa besi menusuk mengenai jantungnya.
“Beraninya kamu melukai istriku,” Willma menatap Yuri dengan penuh amarah.
Yuri berusaha untuk melepaskan besi yang tertancap di dadanya. Namun semua itu sia-sia, karena Willma menarik kepala Yuri hingga terputus dari tubuhnya. Seluruh vampire yang berada disekitar menatap takut pada Willma.
“Ada lagi yang berani menyentuh istri saya?! JAWAB!!!” teriak Willma membuat para vampire liar tunduk.
Jason sang asisten pun berlutut di hadapannya, “Maafkan kami ma’am, kami hanya mengikuti perintahnya saja dan kami tidak mengetahuinya.”
“Sampai dari kalian ada yang berani menyentuh istri saya, habis kalian semua, PAHAM?!!” teriak Willma.
“Paham ma’am!!” ucap seluruh vampire serempak.
Willma melemparkan kepala Yuri pada Jason, “Urusi dia.”
“Baik ma’am,” ucap Jason.
Kini Willma melepaskan ikatan pada tangan Kateryn. Segera ia menopang tubuhnya agar tidak terjatuh lalu membawanya pergi menuju rumahnya. “Kamu terlihat seksi saat marah,” bisik Kateryn.
“Kamu lagi begini bisa-bisanya ngegombal,” dumal Willma.
Kateryn tersenyum, “Maaf.”
“Maaf untuk apa?” tanya Willma.
“Maaf karena telah meninggalkan mu saat itu,” ucap Kateryn sebelum ia tidak sadarkan diri.
1670
“Kateryn tolong aku…,” lirihnya sembari memeluk kedua kakinya bersembunyi dibawah meja.
Ia sangat ketakutan akan amarah dari penduduk kota yang mencoba membunuh dirinya. Namun beberapa detik kemudian para penduduk melempari bom molotov sehingga timbulnya kobaran api begitu besar melahap rumah yang dibangun oleh Kateryn untuk Willma.
Willma berteriak ketakutan dan menangis, “Kateryn tolong aku!”
“WILLMA!!”
Ia mendengar suara yang ia tunggu-tunggu. Kateryn. Seperti mendapat kekuatan hanya mendengar suara sang kekasih membuat keberanian Willma muncul. Ia bergegas keluar dari rumah walau sesekali terbentur oleh reruntuhan kayu namun ia berhasil keluar melalui pintu belakang.
“…KALIAN AKAN TERIMA AKIBATNYA!!!” Willma terkejut melihat Kateryn menyerang penduduk kota dengan brutal.
“Kateryn…,” hendak menahannya namun ia sangat takut melihat amarah Kateryn sebegitu besar sampai seisi kota ia lenyapkan dalam sekejap.
Willma terus saja mengikuti kemana Kateryn pergi dari kejauhan. Sampai dimana Kateryn berhenti ketika menatap seorang wanita yang baru saja datang ke kota Toulouse. Entah apa yang mereka bicarakan ia sangat sulit fokus untuk mendengar lebih jauh. Matanya pun membulat terkejut melihat Kateryn ditikam oleh wanita tersebut lalu membawanya pergi begitu saja.
“Sayang?”
Willma terbangun dengan wajah dipenuhi oleh keringat. Napasnya tersengal-sengal.
“Mimpi buruk hm?” tanya Kateryn sembari mengusap lembut kepalanya.
“Mimpi sialan…,” gumamnya.
“Kamu kok udah bangun? Vervainnya udah hilang?” tanya Willma sembari memeriksa setiap inci tubuh Kateryn yang sudah duduk bersandar pada kepala kasur.
“Aku udah bangun dari sejam yang lalu, tapi kamu lagi tidur nyenyak jadi nggak aku bangunin,” jelas Kateryn.
Benar saja, bisa-bisanya ia tertidur disebelahnya ketika sedang menjaga Kateryn. Ia pun menghela napas. “Kamu lapar? Atau haus? Mau aku ambilin kantung darah lagi?”
“Nggak perlu, yang aku butuhin sekarang istri aku,” Kateryn menarik tangan Willma agar berpindah duduk di pangkuannya.
Willma pun pindah pada pangkuan Kateryn lalu menaruh kedua tangan pada pundaknya, “By the way kita belum nikah tau,” ucap Willma.
“Secepatnya kita akan nikah,” ucap Kateryn.
“Kenapa sih kamu dari dulu selalu bikin aku malu,” protes Willma.
“Loh bikin malu kenapa?” tanya Kateryn penasaran.
“Nggak tau!” Willma menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Kateryn.
Kateryn pun terkekeh melihat tingkah lucu Willma. Kemudian ia memeluk tubuhnya dengan erat.