Hatred : Twenty Five
Dain dan Bluu kini sudah sampai di kediaman pack Dalton. Terlihat seluruh penduduk tengah bersiaga akibat kemunculan vampire liar yang mencoba mengusik ketenangan pack mereka. Perlahan Dain membawa Bluu menuju rumahnya. Sebenarnya Dain dan Bluu sudah berteman sejak mereka kecil. Saat ayah Bluu sedang berburu ditengah hutan beliau menemukan Dain yang baru saja berumur tiga bulan. Beliau tidak dapat menemukan orang tuanya kemudian memutuskan untuk membesarkannya. Saat Dain sudah menginjak remaja, ayah Bluu mendaftarkan Dain pada Saint Dawson Academy. Karena ia seorang manusia, ia harus dapat membela diri dari serangan para vampire liar.
“Dimana yang lain?” tanya Dain sembari pandangannya mengidar mencari anggota rumah yang lain.
“Mungkin lagi diluar,” ucap Bluu.
“Kamu tunggu sini, aku ambil perban dulu,” Dain mendudukan Bluu di sofa ruang keluarga. Kakinya bergegas mencari perban dan obat merah. Setelah didapat ia kembali pada Bluu lalu membersihkan lukanya dengan perlahan.
“Aw sakit!” ringis Bluu.
“Gitu aja sakit, lemah banget,” sindir Dain.
“Gimana gak sakit, tadi kamu muterin pisaunya ya!” protes Bluu.
Dain memukul kepala Bluu dengan gemas, “Bisa diem nggak?!”
“I-iya diem, galak banget,” dumal Bluu.
Dain kembali melanjutkan mengobati luka Bluu kemudian ia menutupnya dengan perban. Perlahan ia melilitkan perban pada tubuhnya. Bluu hanya diam menatap wajah Dain sedari tadi tanpa berkedip.
“You okay?” tanya Bluu.
“Kenapa nanya begitu, I’m okay,” ucap Dain.
“Kamu menggunakan vervain, aku bisa menciumnya,” ucap Bluu.
“Aku nggak apa-apa,” Dain tersenyum.
“Apa perlu aku bunuh dia?” tanya Bluu.
“Nggak usah aneh-aneh ya!” Dain mencubit perut Bluu.
“Aw iya ih galak!” ringis Bluu.
“Lo kenapa?” tanya seseorang baru saja datang.
“Abis di gigit kelinci,” ucap Bluu mendapat tatapan tajam dari Dain.
“Loh lo nggak ke Academy?” tanya orang tersebut merupakan kakak Bluu. Bebe Dalton.
“Gue abis nolongin serigala kecil abis digigit kelinci, agak ngerepotin emang,” ucap Dain.
“Yaudah lo disini aja, jagain serigala kecil sama penduduk lain, biar gue sama ayah ke Academy bantu Hunter lain,” ucap Bebe.
“Maaf ya kalau ngerepotin,” ucap Dain.
“Haha nggak masalah, gimana pun lo masih keluarga kita, kalau gitu gue pergi sekarang,” Bebe mengusap kepala Dain kemudian segera pergi bersama yang lain menuju SDA.
“Cih keluarga apanya, nama belakangnya aja nggak pake nama ayah,” ledek Bluu.
“Mau digigit lagi bukan?” tanya Dain.
“Mau tapi disini,” Bluu menunjuk lehernya.
Malas menanggapi lelucon Bluu. Dain memutuskan untuk bangkit dan segera keluar dari rumah untuk memeriksa keadaan sekitar. Namun semua itu gagal, karena Bluu menahannya. Bluu menarik tubuhnya hingga terjatuh di pangkuan dirinya.
“Aku serius, kamu nggak apa-apa?” tanya Bluu dengan tatapan serius.
Dain mencoba untuk tidak terbawa suasana, namun air matanya tidak dapat terbendung. Ia menitihkan air mata membasahi kedua pipinya. Bluu mengerti perasaan Dain saat ini. Ia memeluknya dan membiarkannya menangis.