Hatred : Twenty Nine
“ARINE! APA LO UDAH GILA?! BISA-BISANYA LO NGELEPASIN WILLMA!!” teriak Selene.
Arine sudah malas berdebat, ia mendekati Selene lalu memegang kedua kepalanya untuk mempersilakan Selene melihat apa yang sudah ia lihat dalam memori Willma dan Kateryn. Arine melepaskan kedua tangannya lalu menatap Selene dengan malas.
“Semua gara-gara gue, kalau lo mau nangkap gue, silahkan,” ucap Arine.
“Kenapa lo baru kasih tau sekarang? Kalau dari awal lo kasih tau, semuanya nggak akan begini!” bentak Selene.
“Hukum gue,” ucap Arine.
“Sayang, kita bisa bicarakan baik-baik,” ucap Shalgie.
Selene mengambil sebuah belati silver kemudian ia menusukannya tepat di jantung Arine, “Lo gue hukum dua puluh tahun di peti mati,” ucap Selene.
Warna tubuh Arine pun berubah menjadi abu-abu. Dengan sigap Shalgie memeluk tubuhnya yang sudah mulai kaku. “Sampai bertemu nanti sayang,” bisik Arine sebelum ia benar-benar mati.
“Sayang…,” Shalgie menangis menatap wajah Arine begitu sangat pucat. Kemudian beberapa Hunter membawa tubuh Arine untuk diletakkan pada peti mati yang akan dikunci oleh Selene.
“Gue harap lo dapat belajar bertanggung jawab atas perbuatan lo sendiri, Griselda akan menggantikan posisi lo untuk ke depannya, selama lo pensiun gunakan waktu untuk bermeditasi sampai istri lo bebas, jangan coba-coba buat bawa kabur Arine atau lo akan berakhir seperti dia,” jelas Selene sebelum meninggalkan Shalgie di ruangannya.
Setelah perang usai. Beberapa Hunter yang tersisa membantu mengurusi mayat dari vampire liar maupun anggota Hunter yang telah gugur. Adapun sebagian membantu menyembuhkan anggota pack Dalton yang terluka. Bersyukurnya tidak ada korban jiwa dari anggota werewolf. Kalau tidak semua akan rumit dan akan terjadi perang selanjutnya anatara vampire liar dengan werewolf.
“Minum dulu,” ucap Bebe sembari memberikan botol minuman pada Ji yang ia temukan dari kantin.
“Thanks,” Ji menerima botol minum tersebut lalu meneguknya hingga kandas.
“Easy girl, nggak akan direbut kok, masih banyak,” Bebe terkekeh.
“Haus tau!” dumal Ji.
“Eh? Kamu luka? Sini aku obatin,” ucap Ji ketika melihat luka sayatan cukup dalam pada pergelangan tangan Bebe.
“Nggak perlu, nggak seberapa kok ini,” ucap Bebe.
“Nggak usah ngeyel! Werewolf healingnya cukup lama!” Ji mengambil perban darurat pada saku celananya. Ia menarik tangan Bebe yang terluka perlahan lalu melilitkan perban untuk menutupi lukanya.
Bebe hanya diam menatap wajah Ji dari dekat. Mendadak ia mengecup bibirnya membuat Ji terpaku. “You’re so cute, what’s your name?” tanya Bebe.
“Ji–Ji Kylie Halstead…,” ucap Ji.
“I’m Bebe Dalton, alpha of Dalton’s pack, you scent is intoxicating,” ucap Bebe.
“Okay nice info, urus sendiri ya perbannya, a-aku mau ke toilet, bye!” Ji segera bergegas pergi.
“Haha cute.”
“Woy Ji! Lo mau kemana?! Anjrit bukannya bantuin gue ngurusin vampire bau!” dumal Marfel.
“Sini gue bantuin,” Bebe segera membantu Marfel memindahkan tubuh vampire pada tumpukan mayat vampire yang akan siap dibakar nantinya.
“Ada yang ngeliat Dain kaga? Jangan bilang dia gugur?!” tanya Byanata.
“Dain? Ada di desa gue, dia yang jagain pack gue selama gue sama yang lain disini,” jelas Bebe.
“Ah anjrit tuh anak kapan matinya?! Peti mati yang gue pesen udah berdebu!” omel Velo.
“Jual lagi aja ke admin, kayanya sekarang lagi butuh banyak peti mati,” ucap Byanata.
“Ide bagus!” Velo segera mengambil ponselnya lalu menghubungi admin base SDA untuk menjual kembali peti mati yang sudah ia beli untuk Dain.
“Heh! Bantuin dong jangan main ponsel aja lo,” protes Marfel.
“Apa?! Lo?! Lo gue sekarang?!” Velo menatap tajam pada Marfel.
“Eh iya maaf sayang keceplosan!” Marfel yang sedang membawa mayat vampire dilepas begitu saja membuat Bebe hampir tersungkur karena terbawa oleh berat mayat.