Hatred : Twenty One


“DAIN!” teriak seseorang dari luar kamar.

Tak lama pintu kamar terbuka lebar menampilkan sosok yang ia kenal. Velo. “Mau ikut nggak ke kamar Byan?” tanya Velo.

Dengan malas Dain menggelengkan kepalanya sembari menatap ke arah jendela kamar. Ia sama sekali tidak menoleh pada sahabatnya. Velo menghela napas. Ia mengetahui bahwa Dain sedang dilanda kesedihan akibat pacar barunya menghilang tidak memberi kabar dalam beberapa hari.

“Ngapain sih galau? Lagi sibuk kali dia, ayo mending ikut dari pada lo dikamar sendiri,” bujuk Velo.

“Enggak Vel, gue ngantuk, lo aja nggak apa-apa, gue mau tidur,” ucap Dain sembari ia mengubah posisi untuk siap tidur.

“Ah nggak asik lo, mending lo tidur tuh di peti mati lo,” ucap Velo.

“Matiin lampunya dong tolong sama tutup pintunya,” ucap Dain.

“Nyuruh lagi si kampret, yaudah gue ke kamar Byan dulu ya,” Velo mematikan lampu dan menutup pintu kamar Dain sebelum ia pergi ke kamar temannya. Dain menghela napas panjang. Perlahan ia mulai memejamkan matanya.

“Sayang.”

Dain membuka matanya. Ia mendengar suara yang ia kenal. Kateryn. Matanya pun mencari keberadaan kekasihnya. Terlihat samar-samar Kateryn tengah berdiri di dekat jendela kamar.

Cahaya dari luar jendela menyinari sebagian wajah Kateryn. Sontak Dain mengubah posisi menjadi duduk. “Kateryn?”

“Yes baby, come here,” ucap Kateryn sembari melebarkan kedua tangannya.

Dengan cepat ia turun dari kasur lalu berlari menghampiri sang kekasih. Tak lupa ia memeluk erat tubuh Kateryn. “Hnngg kemana ajaaaaaa? aku kangenn,” ucap Dain sembari mendusalkan wajahnya tepat di dada Kateryn.

“Maaf ya sayang bikin kamu nunggu lama, tapi aku mau minta bantuan kamu,” ucap Kateryn membuat Dain bingung lalu menatap wajahnya.

“Bantu apa?” tanya Dain.

Kateryn memberikan secarik kertas pada Dain, “Aku minta kamu datang malam ini ke alamat di kertas itu,” ucap Kateryn.

Dain pun melihat alamat pada kertas tersebut, “Buat apa?” tanyanya kembali.

“Aku minta kamu untuk cabut belati yang ada di dada aku sekarang,” ucap Kateryn.

Pandangannya pun turun melihat ke arah dadanya. Terlihat sebuah belati tengah menancap di dada Kateryn membuat Dain terkejut.

“Sayang!!”

Dain terbangun. Badannya dipenuhi oleh keringat dan napasnya pun tersengal-sengal. Ia sangat terkejut sekaligus kebingungan. Segera ia menyalakan lampu kamar untuk mencari keberadaan Kateryn. Nihil. Ternyata hanya mimpi. Ia mengusap wajahnya kasar dan menghela napas. Mimpinya sangat terasa nyata sehingga membuat tenggorokannya terasa kering. Ia memutuskan untuk mengambil air di dapur. Ketika ia membuka pintu kamar, matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di lantai. Ia melihat secarik kertas berada didekat kakinya. Tangannya pun mengambil kertas tersebut.

“Oh shit.”

Dain bergegas mengganti baju dan tak lupa ia membawa alat senjata tajam apabila ia bertemu dengan vampire liar diluar sana. Ternyata itu bukan sekedar mimpi biasa, namun merupakan pesan yang disampaikan oleh Kateryn padanya. Kateryn dalam bahaya. Ia harus menyelamatkan kekasihnya. Ketika sudah dirasa siap, ia keluar melalui jendela kamar agar tidak terlihat oleh penjaga asrama dan teman-temannya.