Hatred : Twenty Three


Setelah mencari tahu keberadaan alamat yang diberikan oleh Kateryn, kini Dain sudah sampai di sekitar suatu rumah tua yang terletak di tengah hutan dan sangat jauh dari jangkauan penduduk kota. Dengan hati-hati ia bersembunyi untuk membaca situasi di sekitar rumah maupun dalam rumah dimana Kateryn berada.

Ia melihat beberapa Hunter vampire tengah berjaga di halaman rumah tua tersebut. Mereka merupakan senior yang ia kenal. Jantungnya berdegup cukup kencang. Ia takut. Namun ia harus membebaskan Kateryn. Perlahan ia mengatur napasnya untuk menenangkan detak jantungnya. Akhirnya Dain memberanikan diri untuk muncul dengan santai.

Kemunculan Dain membuat para Hunter kebingungan, “Ngapain kesini?” tanya salah satu Hunter.

“Tadi abis nyari angin aja, tau-tau ngeliat kalian disini,” ucap Dain.

“Balik ke asrama, ma’am Kateryn nggak ada disini,” ucap sang Hunter vampire.

“Ma’am Kateryn ada disini? Kok nggak bilang?” tanya Dain membuat para Hunter vampire bersiaga menghalau dirinya.

“Di bilang balik ke asrama!” salah satu Hunter hendak mendorong tubuh Dain, namun dengan cepat Dain menghindar lalu memberi pukulan keras tepat di wajahnya.

Melihat pemberontakan dari Dain, seluruh Hunter vampire yang berjaga menyerang dirinya dengan cepat. Sempat kewalahan dan mendapat serangan bertubi-tubi membuat tubuhnya melemah. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia harus segera menyelamatkan Kateryn.

Segera ia mengambil pisau lalu kembali menyerang para Hunter vampire dengan membabi buta. Ia tidak segan untuk menancapkan pisaunya tepat di leher para Hunter. Ia sudah tidak perduli lawannya kali ini. Berkat pisau yang dipakai memiliki vervain, tentu membuat para Hunter vampire terkapar lemah. Ia sengaja tidak membunuh mereka. Karena bagaimana pun mereka masih bagian dari anggota SDA.

Melihat seluruh Hunter vampire yang berada disana terkapar, Dain bergegas mencari Kateryn ke dalam rumah tua tersebut. Ruangan demi ruangan ia buka sampai akhirnya ia berkahir di basement. Begitu sangat kosong, tidak ada barang apapun selain sebuah peti mati berwarna hitam terletak tidak jauh dari Dain berdiri sekarang.

Tanpa basa basi Dain mendekat pada peti mati tersebut kemudian ia membukanya perlahan. Ternyata benar. Kateryn berada didalamnya bersama sebuah belati silver menancap di dadanya. Ia langsung melepaskan belati tersebut membuat warna tubuh Kateryn kembali normal.

“Sayang?” ucap Dain sembari mengusap wajah Kateryn dengan lembut. Perlahan Kateryn membuka matanya, lalu menatap Dain cukup lama.

“Hi,” Dain tersenyum.

Kateryn pun keluar dari peti mati, kemudian ia menggendong tubuh Dain dan segera pergi dari rumah tua tersebut. Ia berlari sangat cepat sampai akhirnya berhenti di tengah hutan yang cukup gelap. Ia menurunkan Dain lalu memeluknya dengan erat.

“Thank you for saving me baby,” ucap Kateryn.

“My pleasure babe,” Dain semakin mempererat pelukannya.

“Baby,” perlahan Kateryn melepaskan pelukannya. Lalu menatap wajah Dain dengan serius.

“Ya?”

Kateryn melirik pada kedua tangannya. Terlihat Dain mengenakan cincin Hunter di jari tengahnya. Ia perlahan melepaskan cicin tersebut membuat sang pemilik kebingungan.

“Kok dilepas?” tanya Dain.

Tidak membalas pertanyaannya. Kateryn menangkup kedua pipi Dain dan menatap tajam kedua matanya. “Lupakan memori singkat antara kita berdua, kita hanya murid dan mentor, tanpa adanya diriku kamu akan tetap bahagia, jangan pernah mencari tahu siapa diriku, apabila temanmu menanyakan tentang kita, katakan saja bahwa itu semua hanya kesalah-pahaman,” ucap Kateryn membuat pupil Dain membesar menandakan bahwa Dain sudah terhipnotis olehnya.

Sebelum Dain sadar, Kateryn segera pergi meninggalkannya ditengah hutan. Tak lupa ia menjatuhkan cincin Dain ke tanah sebelum ia meninggalkannya. Lima detik kemudian Dain tersadar. Ia terkejut. Mengapa ia berada di tengah hutan yang gelap. Ia pun segera mencari ponsel miliknya lalu menyalakan flash ponsel untuk menerangi pandangannya.

Hendak pergi mencari jalan keluar. Ia merasakan seseorang berjalan mendekat kearahnya. Tangannya segera mengambil pisau miliknya lalu melemparkannya ke arah belakang dimana sumber suara langkah berasal.

“ARGHH!!” pisau tersebut berhasil tertancap di bahu seseorang yang berada dua meter dari tempat ia berdiri.

Dain pun berlari menghampiri orang misterius tersebut. Kemudian ia menendang tubuhnya hingga terpojok pada pohon besar. Tangannya mencekik kuat leher orang misterius tersebut lalu menekan pisau miliknya yang tertancap membuat orang tersebut meringis kesakitan.

“AARGHH PLEASE STOP I’M NOT VAMPIRE!” ringis orang tersebut.

“WHO ARE YOU?!” bentak Dain.

“B-Bluu Dalton! I’m a werewolf!”

“Huh?!” perlahan ia menatap wajahnya dengan lekat.

“Oh my God!” segera ia melepaskan kedua tangannya.

Sang werewolf bernama Bluu meringis sakit pada bahunya. Perlahan ia mencabut pisau milik Dain lalu memberikan pada pemiliknya. “Astaga bisa-bisanya kamu melupakan aku, aahhh,” ucap Bluu.

“Maafin aku! Aku kira kamu vampire liar! Lagian siapa suruh berkeliaran di tengah hutan begini!” ucap Dain.

“Harusnya aku yang nanya itu ke kamu, kamu ngapain tengah malam ada disini? Ini daerah kekuasaanku kalau kamu ingat,” tanya Bluu.

“Aku nggak tau kenapa bisa ada disini, yang aku ingat tadi aku lagi tidur, terus bangun-bangun ada disini, aku nggak bisa liat jelas karena gelap banget disini,” jelas Dain.

Bluu sempat diam cukup lama menatap wajah Dain dengan lekat, “Lebih baik kamu sekarang ke Academy, mereka kedatangan banyak vampire liar, aku kesini untuk mencari vampire liar yang kabur karena sudah mengusik ketenangan pack ku,” ucap Bluu.

Dain diam mencerna apa yang dikatakan Bluu padanya. Namun ia teralihkan pada luka di bahu Bluu. Terlihat darah segar mengalir cukup banyak. Semua itu akibat dirinya. Tanpa berpikir panjang ia merobek kaos yang dikenakan Bluu lalu kaos tersebut ia gunakan untuk menyumbat aliran darah yang keluar dari lukanya.

“Kita ke pack mu, obati luka mu terlebih dahulu,” ucap Dain membuat Bluu terdiam.