Hujan


Langit di pagi hari ini sangatlah gelap, tidak ada satupun cahaya matahari yang keluar dari celah celah awan. Satu dua rintik hujan sudah muncul mengenai jendela. Tidak lama kemudian menjadi ribuan rintik hujan yang turun secara bersamaan membasahi seluruh ibu kota. Tentu saja cuaca seperti ini membuat seseorang yang berada di balik selimut semakin tidak ingin terbangun dari zona nyaman nya. Namun ada sesuatu yang membuat tidur nyaman nya terusik, sebuah aroma makanan yang begitu lezat memasuki indera penciuman nya.

Ia membuka matanya dan melirik sekitar kamarnya yang masih gelap akibat gorden kamarnya yang masih tertutup. Ah mungkin saja ia bermimpi, pikirnya. Tapi matanya tertuju pada pintu kamarnya yang terbuka lebar. Kapan dirinya membuka pintu kamarnya? Apakah ia sempat terbangun? Atau ada orang yang masuk ke dalam apartemen nya?!. Segera ia bangkit dari tidurnya dan segera untuk turun dari kasur. Aktivitasnya terhenti saat ia menatap cermin yang berada di hadapannya. Ia melihat tubuhnya yang tidak memakai satu helai pakaian. ‘Oh shit!’ batinnya. Dengan panik nya ia mencari baju miliknya, yang ia temukan hanya kaos hitam besar yang berada di bawah tubuhnya, sepertinya baju tersebut sudah ada dari semalam. Tanpa pikir panjang ia memakainya. Sedikit kebesaran sampai menutupi setengah pahanya.

Langkahnya bergerak perlahan menuju dapur dimana ia melihat seseorang yang sedang memasak dalam keadaan hanya menggunakan sport bra dan celana jeans. Ia semakin ketakutan. ‘Siapa dia?’ pikirnya. Matanya mencari sebuah benda untuk melindungi dirinya, dan berakhir pada sebuah payung besar yang berada di sebelah sofa. Segera ia ambil dan menghampiri orang tersebut. Kini jarak mereka hanya ada 1,5 meter. Tangannya sudah siap untuk memukul orang misterius di hadapannya, namun ia di kejut kan saat orang tersebut berbalik badan dan menatapnya dengan heran.

“Ngapain?”, tanyanya dengan tenang.

“SEULGI!! NGAPAIN LO DISINI?! TERUS KENAPA LO GAK PAKE BAJU HEH?!!”, tanya Irene yang begitu panik melihat Seulgi berada di apartemen nya pagi hari.

“Masak, itu bajunya lo pake”, Seulgi menyelesaikan aktivitasnya dan menyiapkan sarapan pada meja makan. Irene hanya terdiam mematung. Bagaimana bisa.

“Mikirnya nanti aja, ayo sarapan dulu”, Seulgi menghampiri Irene dan mengambil payung yang berada di tangan Irene.