Into your Arms : Part Two – Four


22 January 2022 – 8 AM

’Ting tong~ ting tong~’

Tak lama pintu terbuka dan menampilkan sosok anak kecil yang terlihat gembira saat melihat seseorang yang datang ke rumahnya, “MAMI!”

“Hi sayang~ aduh kangen ya?” Karina dengan cepat memeluk Joohyun dan menganggukkan kepalanya.

“Gemesin banget sih kamu, eh mama kamu mana?” Karina melepaskan pelukan nya dan menatap wajah Joohyun.

“Mama baru aja bobo, tadi badannya geter-geter gitu, kasian mama,” Karina memanyunkan bibirnya.

“Duh pasti gara-gara kemarin ke hujanan, oh iya kamu udah makan belom sayang? Mami bawain bubur,” Joohyun memperlihatkan kantung yang berisikan bubur untuk Seulgi dan Karina.

“Asik bubur, aku belom makan soalnya mama sakit jadi nggak ada yang masak,” ucap Karina.

“Yaudah ayo makan dulu, mami tempatin ya?” Karina hanya mengangguk nurut dan berlari menuju dapur yang di ikuti Joohyun.

Joohyun menyiapkan dua mangkuk bubur untuk Karina dan Seulgi, sedangkan Karina sudah duduk rapih di meja makan, “Kamu bisa makan sendiri kan? Mami mau ke kamar mama dulu ya? Pasti mama belom makan sama minum obat.”

“Aku bisa makan sendiri mami,” jawab Karina yang langsung menyantap bubur miliknya.

“Oh iya, kamar mama dimana?” tanya Joohyun.

“Ada diatas sebelah kamar mandi,” jawab Karina.

“Mami keatas dulu ya,” Joohyun membawa bubur dan minum untuk Seulgi ke lantai dua.

Saat dilantai dua, Joohyun menoleh kanan kiri untuk mencari dimana kamar Seulgi berada, terlihat salah satu pintu terbuka sedikit. Ia melangkah menuju ruang tersebut dan mengintip ke dalam. Terlihat di dalam Seulgi yang tengah tidur dengan posisi meringkuk. Tidak ingin membangunkannya, Joohyun masuk secara perlahan dan menaruh mangkuk bubur dan segelas air putih pada nakas kecil sebelah kasur Seulgi.

Joohyun mencoba untuk memeriksa suhu tubuh Seulgi menggunakan punggung tangannya yang ditempel kan pada kening Seulgi. Panas, “Astaga badan kamu panas banget Gi, kita ke dokter ya?”

“Hmm…,” Seulgi menggelengkan kepalanya pelan.

“Nanti kamu keterusan Gi, biar diperiksa dokter, mau ya?” Joohyun mengusap perlahan keringat yang berada di kening Seulgi.

Seulgi menarik tangan Joohyun yang berada di kening nya lalu ia menggenggam tangan Joohyun, sang pemilik tangan hanya diam tak dapat berkata-kata, “Nanti juga sembuh, kamu kan dokter nya~” ucap Seulgi yang sedikit melantur.

’Tolong siapapun, gue lemes banget!’

“Y-ya-yaudah kalo nggak mau ke dokter, makan dulu aku udah beliin bubur,” ucap Joohyun.

Namun tidak ada jawaban dari Seulgi. Joohyun melirik wajah Seulgi. Ternyata sudah kembali tidur dengan tangan Joohyun yang di genggam erat oleh Seulgi. Joohyun mencoba untuk mengatur jantungnya yang berdebar sangat kencang saat Seulgi melantur dan menggenggam tangannya. Joohyun akan menunggu sedikit lama agar Seulgi tidak terbangun saat ia melepaskan tangannya, walaupun saat ini ia tidak bisa bergerak bebas.

Mata Joohyun melirik sekeliling kamar Seulgi yang berdominasi warna abu dan hitam. Warna yang sesuai dengan sang pemilik kamar, yang misterius. Saat melihat-lihat barang yang berada di sekeliling, matanya membulat ketika melihat sebuah figura kecil yang terpajang di atas nakas sebelah mangkuk bubur.

’Gak mungkin!