Kebenaran
Cuaca hari ini sangat lah dingin. Terlihat jelas dari jendela hujan sedang turun dengan lebatnya. Sesekali muncul beberapa kilatan petir dengan suara yang bergemuruh memecahkan keheningan kamar inap VIP rumah sakit. Dalam kamar tersebut terdapat Seulgi yang terbaring lemah dengan begitu banyak kabel dan selang pada tubuhnya. Tidurnya begitu tenang hanya dapat terdengar suara monitor yang menampilkan grafis detak jantung.
Tak lama pintu kamar terbuka dan muncul sosok wanita yang masuk ke dalam dengan tangan yang penuh dengan belanjaan makanan. Wanita tersebut lah yang selama ini merawat Seulgi. Irene. Sudah seminggu semenjak kejadian kecelakaan, Seulgi masih tak kunjung sadar. Dokter mengatakan butuh waktu yang sangat lama untuk Seulgi dapat siuman dari koma nya. Bagaimana tidak, kejadian minggu lalu hampir saja merenggut nyawanya. Tubuhnya hampir saja hancur. Sama halnya dengan Irene yang berada di sebelah nya saat ini. Hatinya begitu hancur saat mendengar kabar bahwa Seulgi mengalami kecelakaan sama halnya seperti pak Kang. Namun tuhan mendengarkan doanya. Seulgi masih dapat bertahan hingga saat ini. Walau dalam keadaan koma. Bunyi dering ponsel memecahkan keheningan dan juga lamunan Irene. Tangannya meraih ponsel nya dan menjawab panggilan masuk dengan cepat.
”Halo kenapa Yer?”
”Masih belum sadar, kayanya kakak bakal lama disini…”
”Udah kamu di rumahnya Seulgi aja, fokus belajar aja ya, kakak bisa sendiri kok”
”Iya nanti kakak makan, baru aja sampe beli stock makanan… kamu udah makan?”
”Humm…” Irene melirik pada jam dinding, sudah jam 7 malam.
”Kamu jangan begadang besok sekolah… yaudah kakak matiin ya… telp kakak kalo butuh sesuatu… humm ya” Irene mengakhiri panggilan tersebut dan menaruh ponsel nya di atas nakas. Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dan masuk dua orang yang Irene kenal. Jennie dan Kai.
”Hi kak…” Jennie memeluk Irene.
”Hi Jen… Kalian datang berdua aja? Dimana Sehun?” tanya Irene pada Jennie dan Kai. Mereka saling tatap satu sama lain memberi isyarat siapa yang akan bicara.
”Umm.. dia sibuk kak hehe” jawab Kai.
”Oh iya kak ini ada buah buat Seulgi, tapi kayanya buat kakak aja” ucap Jennie sembari melirik Seulgi yang masih terbaring lemah di ranjang.
”Wah sampe repot repot segala, ayo duduk Jen, Kai” Irene mengambil buah pemberian Jennie dan Kai dan menaruhnya pada nakas di sebelah ranjang Seulgi.
”Kabar kak Irene gimana? Pasti capek ya ngurusin Seulgi sama perusahaan keluarganya?” tanya Kai.
”Haha ya gitu deh mau gak mau kan, siapa lagi yang bakal ngurusin Seulgi sama perusahaannya kalo bukan aku” jelas Irene sembari menyiapkan minum untuk Jennie dan Kai. Lalu menaruh minuman tersebut di meja hadapan mereka.
”Oh iya saya tuh dari kemarin mau nanya tapi lupa terus, pacarnya Seulgi kemana ya? Kok saya belum liat dia datang kesini? Apa gak tau kabarnya Seulgi? Tapi nggak mungkin sih, kan ada di berita juga” Jennie dan Kai kebingungan harus menjelaskan pada Irene dari mana.
”Jadi gini kak, sebenarnya Seulgi sama Jisoo itu udah putus kak” jelas Jennie hati-hati pada Irene.
”Putus? Kok bisa? Kapan?” Irene kebingungan.
”Putusnya pas sebelum berita papanya Seulgi keluar…” Jennie melirik Kai dan menyenggol lengannya untuk melanjutkan penjelasannya.
”Putusnya gara gara Jisoo selingkuh sama Sehun kak, dan saat itu juga Seulgi ngeliat berita…” Entah mengapa mendengar cerita tersebut membuat hati Irene terasa sakit. Andaikan saat itu dirinya langsung mencari Seulgi. Pasti Seulgi tidak akan seperti ini. Tanpa sadar air mata Irene jatuh membuat Jennie dan Kai merasa bersalah telah menceritakan hal tersebut.
”Kak kita minta maaf udah ceritain ini” ucap Jennie.
”Kak aku dan Jennie selaku temannya Sehun mau minta maaf kak, karena dia Seulgi jadi begini” ucap Kai. Irene langsung menghapus air matanya lalu tersenyum.
”It’s okay, saya kan jadi tau alasannya, tidak apa kalian melakukan hal yang benar, terima kasih sudah bertahan sebagai temannya Seulgi sampai hari ini”