Keberuntungan
Beruntunglah Irene memiliki sahabat Jennie. Karenanya dirinya dapat menghemat ongkos hari ini. Sampainya di depan gedung Kangs Corp, Irene berpamitan dengan Jennie.
“Thank you so much Jendukieee~”
“Your welcome baby~ Relax okay?”
“Semoga aja bisa huh”
“Amin, dah sana udah jam 7.10 nih”
“OMG! Dadah Jennie gue masuk dulu”
“Dadah Irene”
Irene baru menyadari waktu menunjukan jam 7.10, sementara wawancara akan dimulai 5 menit lagi. Setelah keluar dari mobil Jennie, Irene segara berlari masuk dan menuju ruang auditorium yang berada di lantai 3. Sungguh awal yang tidak berjalan mulus. Kini dirinya berada di depan lift bersama para karyawan lainnya. Terlihat posisi lift saat ini berada di lantai 60 dan waktu yang tersisa 3 menit.
“Oh shit”
Tanpa berpikir panjang Irene berlari menuju tangga darurat. Sepatu hak miliknya membuat suara gaduh di lobby mata semua orang tertuju padanya. Jika saja ini bukan perusahaan terakhir yang ia coba untuk melamar kerja, sudah di pastikan dirinya akan pulang kembali. Awalnya saja sudah kacau, dengan pasti akan berakhir lebih kacau.
Setelah perjuangan menaiki puluhan anak tangga, kini Irene sudah berada di lantai 3. Ia melirik arloji miliknya menunjukan 7.14, satu menit lagi wawancara akan di mulai. Langkahnya semakin cepat menuju ruang auditorium yang berada di ujung lorong, terlihat dari kejauhan pintu ruang auditorium sudah di tutup. Seharusnya sudah jelas kalau dirinya telat dan tidak akan bisa masuk. Namun ini adalah wawancara terakhirnya dari sekian banyak perusahaan yang menolaknya. Ia memberanikan membuka pintu ruang auditorium dengan cepat. Seketika seluruh orang yang berada di dalam menatap dirinya, termasuk Seulgi dan Sohee yang berada di atas podium.
“M-maaf saya telat bu” Irene membukuk beberapa kali meminta maaf kepada Sohee dan Seulgi.
“Kamu tau ini jam berapa? Apa kamu sudah gila?!!” teriak Sohee yang membuat suasana auditorium menjadi mencekam.
“Saya minta maaf, saya mohon untuk ikut wawancara ini, saya mohon” Irene memohon kepada Sohee agar tidak di keluarkan. Seulgi sedari tadi hanya diam menatap Irene.
“Kelu…” Sohee belum sempat melanjutkan omongannya sudah di potong oleh Seulgi.
“Siapa namamu?”
“B-Bae Irene…”
“Jangan lakukan lagi, silahkan duduk” ucapan Seulgi membuat Sohee menatapnya tak percaya.
“Terima kasih banyak bu, terima kasih” Irene kembali membukuk berkali-kali dan segara menuju kursi kosong yang berada paling atas.
“Tapi gi…”
“Shut up” suaranya pelan namun dapat membuat Sohee diam seketika.
“Baik saya akan mulai”
Seulgi mengambil tumpukan kertas resume milik para calon pekerja yang melamar di perusahaanya sekitar 200 orang dan melihat satu persatu sampai berhenti pada resume milik Irene. Ia memisahkan resume milik Irene dari tumpukan resume lainnya. Lalu ia merobek tumpukan kertas resume tersebut, membuat orang-orang terkejut. Sohee hanya menahan tawa saat melihat reaksi para pelamar kerja yang begitu kaget dengan tindakan Seulgi.
“Bae Irene?” Merasa namanya di panggil, Irene langsung berdiri.
“Ya saya bu”
“Ikut saya” Seulgi langsung berjalan keluar dari ruang auditorium membuat orang-orang kebingungan, termasuk Irene.
“Ngapain kamu masih diam? Cepat ikuti bossmu!”
“I-iya bu…” Irene harus berlari kembali mengejar Seulgi yang menuju ruangannya. Setelah Irene keluar, Sohee tersenyum pada pelamar kerja di hadapannya.
“Terima kasih sudah melamar di perusahaan Kangs Corp, silahkan kalian keluar dan pulang”
“Tapi bu wawancaranya kan belum di mulai?” ucap salah satu pelamar.
“Well, sebenarnya kita tak membutuhkan wawancara, yang kami butuhkan hanya orang bodoh seperti Bae Irene, kalian terlalu pintar untuk bekerja dengan kami, so silahkan keluar, wawancara sudah selesai, have a nice day” Sohee tertawa renyah seraya meinggalkan ruang auditorium yang menjadi gaduh akibat kekesalan para pelamar karena merasa telah di permainkan.