Kebingungan

Setelah aksi pengejaran Seulgi, kini Irene sudah berada di ruang kerja Seulgi. Indera penglihatannya menelusuri seluruh ruangan. Sangat luas, bahkan melebihi luas rumahnya. Terlalu asik dalam pikirannya membuatnya tidak menyadari kalau Seulgi sedang berdiri di hadapannya sangat dekat. Seulgi menatap lekat wajah Irene, 'Sungguh cantik namun sangat ceroboh', pikirnya.

“Apa yang kamu pikirkan?” Irene langsung ter sadar dalam lamunan nya saat mendengar suara Seulgi.

“Hah? Ah… t-tidak, tidak ada bu” bagaimana bisa Seulgi berada di hadapannya tanpa ia sadari dan juga mengapa jarak mereka sangat dekat.

“Ah begitu…” Seulgi mengangguk seraya berjalan menuju sofa dan duduk. Irene masih saja diam tidak tahu harus berbuat apa.

“Apa kamu tidak lelah hanya berdiri di sana? Silahkan duduk”

“Baik bu, terima kasih” dengan malu-malu Irene duduk pada sofa di hadapan Seulgi. Tak lama Sohee masuk.

“Sohee kasih Bae Irene daftar pekerjaannya” Sohee mengambil sebuah map yang berisikan daftar pekerjaan dan memberikannya pada Irene.

“Maaf bu, ini buat apa ya?” tanya Irene heran.

“Itu daftar pekerjaan kamu nanti, baca dahulu, jika ada keberatan, bilang saja”

“Baik bu, saya baca terlebih dahulu” apa ini? Apakah dirinya di terima? Tapi bagaimana bisa?

Setelah bergelut dalam pikirannya, Irene mengeluarkan beberapa kertas yang berisikan daftar pekerjaannya. Di baca satu per satu, sampai matanya berhenti pada point yang tertulis ‘Seluruh karyawan Kangs Corp baik yang berada dalam negri maupun luar, akan menjadi tanggung jawab calon CEO baru Kangs Corp’. CEO baru? Apakah ini salah ketik?

“Maaf bu, untuk point 5 salah ketik sepertinya” tanya Irene.

“Nope” jawab Seulgi.

“Tapi bu saya kan melamar menjadi sekretaris…”

“Itu hanya umpan saja”

“Umpan?”

“Sebetulnya saya sedang mencari CEO baru yang akan menggantikan CEO lama saya yang sudah gugur” mengapa perasaan Irene semakin tidak enak.

“Tapi bagaimana bisa saya menjadi CEO sedangkan saya tidak memiliki pengalaman bekerja sama sekali”

“Bodoh sekali, dirimu hanya sebagai boneka Kang Seulgi yang akan berperan menjadi CEO baru Kangs Corp” celetuk Sohee.

“Selama kamu menuruti apa yang saya perintah, saya akan menjamin kehidupanmu berikut dengan keluargamu” ucap Seulgi.

“Tapi…”

“Take it or leave it?! Don’t waste our time!” sindir Sohee yang kesal karena menunggu lama jawaban dari Irene.

“Where’s your manner Han Sohee!!” Bentak Seulgi dengan suara beratnya membuat jantung Irene semakin berdebar kencang, rasanya seperti sedang di culik dan dirinya akan di bunuh.

“Ugh! Fine!” Sohee menganggalkan ruangan dengan kesal.

“Maafkan dengan tingkah kasar asisten pribadi saya, jadi bagaimana?” Irene sangat ragu untuk menerima pekerjaan ini. Namun apakah dirinya akan mendapat pekerjaan lain jika ia menolak kesempatan ini? Namun dirinya sangat membutuhkan pekerjaan untuk membiayai sekolah adiknya.

“Okay take your time, saya…”

“...saya terima” ucap Irene.

“Are you sure? Jika kamu sudah setuju, kamu tidak bisa mundur atau pun berhenti kapan saja sampai saya yang akan memberhentikan mu” jelas Seulgi membuat Irene semakin ragu untuk menerima pekerjaan ini.

“Umm… ya saya setuju… saya membutuhkan pekerjaan untuk membiayai sekolah adik saya…”

“Saya pegang jawabanmu, sekarang tolong kamu tanda tangani kontrak ini, untuk masalah itu kamu tidak perlu khawatir” Seulgi memberikan selembar kertas berisikan kontrak kerja untuk CEO baru. Lagi–lagi Irene di kejut kan dengan nominal gaji yang mencapai 25 juta won atau sekitar 300 juta rupiah dalam sebulan, nominal tersebut belum termasuk aset lainnya seperti rumah dan mobil. Apakah ia sedang mimpi? Rasanya begitu tidak nyata sampai dirinya tak percaya kalau ia sedang tidak bermimpi.

“Kenapa? Masih kurang? Katakan saja apa yang kurang, nanti saya akan tambah” ucap Seulgi lagi membuat Irene semakin panik.

“Tidak tidak! Ini sangat sangat lebih dari cukup, bahkan ini sangat berlebihan”

“Haha baru kali ini saya menemukan manusia seperti mu, tidak serakah”

“Manusia? Memang nya CEO sebelumnya bukan manusia bu?” tanya Irene.

“Lupakan, cepat tanda tangan, saya sudah haus”

“Ah iya maaf bu” segera Irene menanda tangani kontrak kerja lalu memberikannya pada Seulgi.

“Ibu mau minum apa? Biar saya yang ambilkan”

“You won’t find it, before you tear it up” Seulgi tersenyum, ucapannya membuat Irene semakin tidak mengerti.

“Forget it, ayo saya antar kamu pulang, kamu bisa bekerja esok hari”

“Ah baik bu”

“Satu lagi, jangan panggil saya ibu, panggil saya Seulgi saja”

“Emm ya... Baik.. Seul... gi”

“Good girl”