Kejutan
Mendapat pesan singkat dari Jennie, Rose segera menyelesaikan pekerjaannya, dan segera pulang. Perasaannya mengatakan kalau Jennie akan membahas perihal vas bunga miliknya yang di beli pada pelelangan yang di selenggarakan di Italia. Selama perjalanan Rose merasakan badannya sangat gerah, padahal AC pada mobilnya terasa dingin. Rose meminta sang supir untuk menaikkan suhu AC pada mobilnya.
Setelah berjuang pada suhu di dalam mobil, akhirnya Rose sampai di rumahnya. Segera ia masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan sang istri. Rose sempat bertanya pada maid yang bekerja di rumahnya dimana Jennie, dan maid mengatakan Jennie sedang berada di dalam kamar. Tidak ingin membuat sang istri menunggu lama, ia segera menuju ke kamar. Saat pintu di buka, ia melihat Jennie sedang duduk di atas kasur sambil mensenderkan tubuhnya pada headboard.
Jennie melihat Rose yang sudah pulang lalu menyuruhnya untuk duduk di hadapannya tanpa berkata satu kata pun hanya memberikan isyarat menggunakan dagu dan matanya. Rose menelan ludahnya. ‘Alamat tidur di luar lagi…’ batinnya. Kini Rose sudah duduk di hadapan Jennie sang istri tercinta.
“Hi sayang… Kamu mau ngomongin apa?”, ucap Rose dengan berhati-hati.
“Buka”, Jennie memberikan sebuah kotak kecil yang membuat Rose kebingungan.
“Apa ini?”, tanya Rose yang mengambil kotak pemberian Jennie.
“Banyak nanya ih!”, protes Jennie.
“Hehe maaf sayang, aku buka ya”, Rose membuka perlahan kotak tersebut.
Di dalam terdapat 2 alat kecil, baju bayi, dan kaos kaki bayi. Rose berpikir sejenak. Matanya terfokus kan pada tulisan di sebuah alat yang bernama testpack. Tulisan tersebut menampilkan tanda positif. Rose menatap Jennie dan testpack bergantian. Rose tidak bisa berkata apapun, bibirnya sangat sulit untuk berbicara.
“Kok kamu kaya nggak seneng gitu sih?”, tanya Jennie yang kecewa melihat reaksi Rose biasa saja.
“Aku… aku nggak tau mau ngomong apa…”, Rose menatap Jennie. Jennie terkejut melihat mata Rose yang sudah berkaca kaca.
“Kok kamu nangis”, Jennie menangkup kedua pipi Rose dan menghapus air mata Rose yang terjatuh pada pipinya. Tak ingin berlarut, Rose menarik tubuh Jennie kedalam pelukan nya. Ia memeluk Jennie dengan erat.
“Makasih sayang… aku seneng banget…”, ucap Rose lirih.
“Hehe aku juga seneng banget akhirnya aku bisa hamil juga”, Jennie mendusalkan wajahnya pada bahu Rose. Tak lama Jennie mendorong pelan tubuh Rose dan menatapnya.
“Ayo say hi sama little baby”, Jennie sedikit mengangkat bajunya dan memperlihatkan perutnya yang masih terlihat rata.
“Halo little baby, welcome to mommy’s tummy”, Rose mengecup beberapa kali perut sang istri. Kecupan Rose membuat Jennie sedikit menggeliat geli.
“Hi… umm nanti baby manggil kamu apa ya?”, tanya Jennie.
“Kamu mami, aku mama”, jawab Rose yang masih fokus pada perut Jennie dengan sesekali ia menggosokan hidungnya pada perut Jennie.
“Hi mama! Jangan ngeselin tiap hari ya!”, Jennie meniru kan suara baby.
“Hahaha iya sayang mama janji!”, Rose membenarkan baju Jennie dan menarik dagu Jennie, lalu ia mengecup bibirnya.
“Kamu bau…”, ucap Jennie.
“Kan belom mandi hehe”, ucap Rose.
“Oh iya aku mau nanya, kamu liat vas bunga aku nggak yang waktu itu beli di Italia, aku mau ganti bunganya tapi kok ilang sih”, DEG! Rose diam seketika.
“Umm nggak tau, aku mandi dulu ya”, melihat tingkah Rose yang berubah, Jennie memincingkan matanya menatap Rose curiga. Saat Rose ingin bangkit dari kasur, dengan cepat Jennie menarik kerah kemeja belakang Rose.
“Mau kemana?”, Jennie menatap Rose dengan tatapan membunuh.
“A-aku mau mandi yang”, jawab Rose dengan terbata-bata.
“Dimana vas bunga aku?”, tanya Jennie.
“Ada kok ada!”, Rose tidak berani menatap wajah sang istri.
“D.I.M.A.N.A?”, tanya Jennie kembali membuat bulu kuduk Rose meremang.
“Ada yang di tong sampah… Maafin aku… tadi pagi nggak sengaja kesenggol pas lagi ambil tas… Aku janji bakal ganti vasnya…”, Rose memohon ampun pada Jennie.
“Keluar…”, Jennie melepaskan cengkramannya pada kerah kemeja Rose.
“Ampun yang jangan usir aku…”, Rose membalik badannya dan memohon mohon pada Jennie dengan menciumi punggung tangan Jennie.
“Keluar ish!! Kamu bau! Aku mau rapihin kasur”, Rose seketika menatap Jennie tidak percaya. Apakah ia tidak di usir?
“Jadi aku nggak di usir?”, tanya Rose.
“Kali ini aku maafin, lagian aku juga udah bosen sama modelnya”, jawab Jennie.
“YES! Makasih sayang, aku sayang banget sama kamu”, Rose mengecupi beberapa kali pipi Jennie.
“Ish udah sana bau!”, Jennie mendorong badan Rose.
Merasa senang karena tidak di usir oleh Jennie, Rose bersenandung seraya berjalan menuju lemari untuk menaruh perhiasan yang ia pakai. Saat ia membuka lemari, sebuah benda terjatuh dari dalam lemari, dan menimbulkan suara pecahan beling yang begitu nyaring. Saat di lihat ternyata botol perfume milik Jennie. Rose terkejut dan menatap pecahan botol yang berada di lantai. Jennie melihat ke arah Rose dengan tatapan sulit di artikan.
“Keluar kamu PARK CHAEYOUNG!!”, kini Jennie sudah hilang kesabaran.
“Bukan aku yang sumpah itu jatuh sendiri!”, jelas Rose.
“KELUAAAAR!!”, Jennie melemparkan bantal pada Rose.
“Ampun yaaaaang”, Dengan cepat Rose menghindar dan segera keluar dari kamar sebelum dirinya menjadi sasaran empuk benda melayang.