The Devils : My Lady
Setelah mengantarkan Yeri ke sekolah, kini Seulgi dan Irene sedang menuju ke arah Hannam-Dong. Selama di perjalanan, tidak ada percakapan yang keluar dari mulut Irene maupun Seulgi. Irene tengah sibuk menikmati pemandangan jalanan kota Seoul yang begitu ramai dengan orang-orang yang ingin berangkat kerja. Sampai lamunan Irene terusik pada suasana jalanan yang menurutnya bukan lah arah menuju kantor. Mau kemana Seulgi? Perasaannya mulai tidak enak.
Tak lama mobil Seulgi berhenti di depan gerbang rumah yang berukuran besar. Seulgi membunyikan klakson mobilnya. Seorang pria yang di duga adalah security berlari menuju gerbang dan membukakan gerbang tersebut. Setelah terbuka, Seulgi melajukan mobilnya ke dalam halaman rumah tersebut. Irene termenung kagum akan besarnya rumah ini, tidak ini bukan rumah, tapi sebuah istana yang berada di tengah kota, menurutnya.
Setelah memarkiran mobil di depan rumah, Seulgi langsung turun dari mobil dan berlari menghampiri pintu penumpang depan. Tangan Seulgi membukakan pintu penumpang tersebut dan membantu Irene untuk turun dari mobil.
“Ini rumah siapa?” tanya Irene.
“Rumah kamu, ayo masuk,” Irene mematung saat mendengar jawaban Seulgi. Tidak mungkin, pasti Seulgi hanya bercanda.
“Irene? Kenapa diem aja? Ayo sini,” Seulgi mengulurkan tangannya untuk membantu Irene menaiki anak tangga depan rumah. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Irene langsung meraih tangan Seulgi dan berjalan menaiki tangga menuju pintu utama rumah tersebut yang berukuran sangat besar. Dengan sedikit dorongan Seulgi, pintu besar tersebut berhasil terbuka lebar dan menampilkan isi rumah yang bernuansa eropa bak istana kerajaan. Sudah jelas kalau Seulgi hanya bercanda, tidak mungkin rumah sebesar ini akan menjadi milik seorang Bae Irene, lulusan sarjana manajemen bisnis dengan ipk 3,31 yang sudah menganggur selama satu tahun lebihnya dan hanya memiliki pengalaman berkerja part time sebagai barista kopi di Coffee Shop milik sahabatnya, Kim Jennie.
“You like it?” tanya Seulgi yang berhasil memecahkan lamunan Irene.
“Hah?”
“Ini rumah milik kamu, saya sudah janji jika kamu bekerja dengan saya, saya akan mencukupi kehidupan mu berikut dengan adikmu,” jelas Seulgi.
“Tapi ini terlalu berlebihan Seulgi.”
“Berlebihan bagaimana?”
“Ya ini menurutku sangat berlebihan, bagaimana bisa saya menerima semua fasilitas yang kamu berikan tapi saya pun belum sama sekali melakukan tugas saya,”
“Hahaha Irene Irene kenapa kamu begitu sangat polos.”
“Kok malah ketawa?” Irene memanyunkan bibirnya membuat Seulgi ingin sekali menciumnya. Namun ia tahan, jangan sampai Irene membenci nya karena hal bodoh.
“Abisnya kamu itu lucu, saya pun memberikan semua ini bukan semata mata hanya memberi tapi saya juga ingin melindungi mu dari seluruh musuh saya,” Seulgi melangkah menuju lemari yang berisikan botol-botol minuman beralkohol tinggi. Tangannya mengambil sebotol whiskey dan sebuah gelas kosong, lalu ia menuangkan whiskey ke dalam gelas.
“Musuh?”
“Ya,” Seulgi meneguk whiskey dan menatap Irene dengan intens ”Banyak yang ingin menjatuhkan saya, maka dari itu saya ingin melindungi mu dan juga adik mu”
“Tapi….”
“Nanti sore kamu jemput adikmu dan kemasi baju kalian, saya mau malam ini kamu sudah pindah ke sini,” tentu saja Irene sudah tidak bisa berbuat apa-apa selain pindah ke istana ini.
“Ikut saya…,” kini Seulgi melangkah menuju lantai dua di ikuti Irene di belakangnya. Di atas terdapat banyak sekali pintu dan terdapat sebuah pintu besar yang berbeda terletak di ujung lorong. Seulgi masuk ke dalam ruangan tersebut. Lagi-lagi Irene terlihat takjub dengan keindahan design interior ruangan ini.
“Ini ruang kerja kamu nanti, saya sudah belikan perangkat untuk kamu bekerja,” Irene masih terdiam mencerna setiap kata Seulgi yang masuk ke otaknya.
“Satu lagi,” Seulgi mengambil sebuah kotak kecil yang berada di atas meja kerja, membukanya, lalu memperlihatkan sebuah kalung. Seulgi melangkah mendekati Irene dan berdiri di belakangnya. Kemudian Seulgi memakaikan kalung tersebut di lehernya, Irene dapat merasakan napas Seulgi pada lehernya yang membuat dirinya merinding geli.
“Jangan di lepas,” bisik Seulgi seraya tangannya merapihkan rambut Irene. Seketika pipi Irene terasa panas, ada apa dengannya?
“T-terima kasih Seulgi...,” ucap Irene terbata-bata karena salah tingkah. Segera Seulgi menjauh, dirinya sudah merasa pusing akibat aroma vanilla yang kuat berasal dari tubuh Irene.
“It's my pleasure my lady.”