Point of View
Sudah beberapa tempat Rose dan Irene datangi untuk sekedar mencicipi jajanan sepanjang jalanan Puncak. Waktu sudah hampir tengah malam, Rose dan Irene sedang berada di suatu warung yang cukup sepi pengunjung. Rose memang sengaja memilih yang sepi agar dapat berbincang dengan Irene tanpa harus terganggu dengan banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka. Saat ini mereka menikmati segelas teh hangat sembari menatap pemandangan kebun teh yang tentu tidak terlihat karena tidak ada penerangan lampu di sana.
“Rene...” panggil Rose dengan tatapan mengarah ke depan tak berani menatap Irene yang berada di sebelahnya.
“Hm? Kenapa Je?” Irene menoleh ke arah Rose dan menatap Rose penasaran.
“Gue mau ngomong sesuatu sama lo” kini Rose memberanikan diri untuk menatap Irene.
“Duh apa nih? Jangan serius serius gitu dong Je merinding gue haha” Irene mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, asalkan tidak menatap Rose.
“Haha maaf ya, tapi gue harus bilang ke lo tentang perasaan gue ke lo” Rose menarik napas panjang.
“Perasaan lo? Bukannya lo udah tau jawabannya Je?” Irene menatap Rose dengan lekat.
“Iya gue tau”
“Terus?”
“Gue mundur Rene” Irene terkejut dengan ucapan Rose. Irene tak bisa berkata apa pun hanya dapat menatap Rose tak percaya.
“Sekarang gue mau ubah cara pandang gue ke lo itu sebagai teman, bukan lagi sebagai crush” Rose menatap wajah Irene, terlihat raut wajah Irene berubah seketika.
“Oh? Teman? Ya, bagus, gue dukung keputusan lo, ayo pulang Je gue udah ngantuk” Irene bangkit dari kursi, lalu meninggalkan Rose menuju parkiran.
“Rene? Tunggu Rene!” Rose mengejar Irene, tak lupa ia membayar minuman yang di pesan. Sampai nya di parkiran, terlihat Irene sudah menunggu di sebelah mobil Rose dengan badan yang menggigil kedinginan. Begitu mobil terbuka, Irene langsung saja masuk ke dalam mobil, lalu di ikuti Rose.
“Lo kenapa?” tanya Rose.
“Gak apa apa, ayo pulang gue udah capek banget, besok gue masuk pagi” ucap Irene dengan nada ketus.
“Gue tanya lo kenapa? Kenapa lo marah dengan keputusan gue tadi?” Rose masih saja menatap Irene yang tengah sibuk dengan ponselnya.
“Gue gak marah”
Merasa ada yang tak beres, Rose mengambil ponsel Irene secara paksa dan memasukannya pada saku celana. “Gue disini bukan di ponsel lo, udah jelas jelas lo marah” Irene menghela napas panjang.
“Gue gak marah, gue cuma sedikit kecewa, udah kan? Puas lo?”
“Kecewa kenapa?”
“Ya gue udah ngerasa lo berubah dan ternyata emang benerkan lo berubah, ya udah jelas sekarang kan? Udah deh Rose cepet pulang gue capek”
“Apa sih lo gak jelas gitu jawabannya, gue berubah dimananya? dan lo kenapa kecewa dengan pernyataan gue tadi? harusnya lo seneng”
“Ya karena... temen deket gue berubah...” air mata Irene kini lolos begitu saja membasahi pipinya. Rose merasa bersalah. Seharusnya dirinya tidak mengatakan yang sebenarnya. Rose menangkup kedua pipi Irene dan menatapnya lebih dekat.
“Hey... hey... listen to me, gak ada yang berubah Rene, gue cuma mengubah tujuan gue, cara pandang gue, selebihnya masih sama dan akan tetap sama. Lebih baik menjadi teman dari pada menjadi orang yang pernah lo sayang dan akan berakhir menjadi orang yang lo benci... Gue gak mau kaya gitu Rene... Gue gak mau kehilangan lo, biarkan gue jadi teman lo, ya? hm?” Jemari tangan Rose kini menghapus air mata Irene dengan lembut. Melihat Irene menangis membuat hatinya terasa sakit. Seharusnya dia yang sedih, seharusnya dia yang menangis, bukan Irene.
“Gue belom bisa jadi teman yang baik Je...”
“It's okay, gue juga belom tentu jadi teman yang baik buat lo, udah ya jangan nangis, gue masih disini, masih di tempat yang sama, masih bisa lo temui gue semau lo, gua akan selalu ada buat lo Rene, gue harap lo bisa mengerti keputusan gue saat ini” tiba tiba saja Irene memeluk erat Rose.
“Maafin gue...” ucap Irene dengan lirih.
“Don't be sorry Rene, lo gak salah, maafin gue bikin lo kecewa...” Rose mengecup kepala Irene dengan lembut dan berhasil membuat air matanya jatuh yang sedari tadi ia tahan.