The Devils : Ponsel


Rasanya ingin sekali Hojung pergi dari rumah ini, karena rencananya gagal untuk menggoda Irene. Seperti tidak ada tujuan Hojung berjalan mengitari sekeliling rumah. Sampai di halaman belakang, ia menangkap sosok wanita yang tengah duduk di pinggir kolam. Terlihat wanita tersebut tengah fokus pada benda kecil persegi miliknya. Seperti menemukan mangsa, Hojung bergegas menghampiri wanita tersebut. Sepertinya pergerakan nya tidak di ketahui olehnya. Dasar manusia bodoh, batinnya. Sudah beberapa menit Hojung berdiri di belakang wanita tersebut sembari memperhatikan jari wanita tersebut yang terus saja mengusap layar ponsel nya. Seperti ada yang memperhatikan, wanita tersebut menoleh ke atas dan melihat wajah Hojung tengah menunduk menatapnya diam. Wanita tersebut terkejut hingga ponsel nya terjatuh ke dalam kolam.

“Hahahahahaha nggak kakanya, nggak adiknya, sama sama penakut,” Hojung tertawa lepas melihat raut wajah Yeri yang kesal melihat ponsel nya terjatuh ke dalam kolam.

“Siapa sih lo?!! Ngeselin banget!! Hp gue jadi nyemplungkan! Ambil!!” kesal Yeri pada Hojung.

“Lo aja nggak kenal gue, enak banget main nyuruh gue, ambil aja sendiri, bye,” Hojung meninggalkan Yeri yang masih kesal.

Segera Yeri berdiri dan mengikuti Hojung dari belakang. Hendak menjambak rambut Hojung, dengan cepat Hojung membalikkan badan dan menepis tangan Yeri dengan pelan. Tepisan Hojung membuat Yeri terpeleset hingga terjatuh ke dalam kolam.

“Ambil tuh hp lo hahaha,” Hojung melihat Yeri seperti kesulitan berenang dan teriak ketakutan.

Namun ia menghiraukan nya dan meninggalkan Yeri yang masih berjuang untuk tidak tenggelam. Setelah beberapa menit Hojung sudah tidak mendengar suara Yeri. Hening. Ia hanya mendengar suara decakan yang berasal dari lantai 2. Perasaannya tidak enak. Segera ia kembali ke halaman belakang. Ia melihat tubuh Yeri mengambang di kolam.

“Oh come on!!! Itu satu meteeeeeeeerr… Aish! Bener bener nyusahin gue! Kalo nggak bisa berenang nggak usah sok sokan selfie di pinggir kolam, bodoh banget nih manusia satu!” Gerutu Hojung sembari mendekat ke arah kolam.

Dengan cepat Hojung segera masuk ke dalam kolam dan menggotong tubuh Yeri ke pinggir kolam. Hojung semakin panik karena ia tidak dapat mendengar detak jantung Yeri.

“Mati gue!” segera Hojung keluar dari kolam dan melakukan CPR agar jantungnya kembali berdetak.

Sudah semenit ia melakukan CPR namun ia masih tidak mendengar detak jantung Yeri. Ia semakin panik. Tanpa pikir panjang, ia merobek kulit pergelangan tangannya agar darah miliknya keluar. Lalu ia membuka mulut Yeri dan memasukkan darahnya ke dalam mulut Yeri.

“Come on bangun! Please jangan mati dulu! Nanti gue juga mati!” Hojung kembali melakukan CPR agar Yeri segera sadar. Tidak lama, Yeri tersadar dan mengeluarkan air kolam yang masuk ke dalam mulutnya lumayan banyak.

“Yes! Nggak jadi mati! Bangun lo! Nyusahin aja!” ucap Hojung. Yeri terlihat lemas dan kedinginan. Tubuhnya bergetar hebat.

“Tadi tenggelam, terus mati, sekarang menggigil, fix lo nyusahin,” kesal Hojung.

Ia menggendong tubuh Yeri dan segera menuju kamar Yeri. Saat hendak masuk ke dalam kamar Yeri, Hojung melihat dua orang yang sedari tadi berada di ruang kerja keluar dari ruangan tersebut dan menatap heran ke arah Hojung yang tengah menggendong Yeri dalam keadaan basah kuyup.

“Sssssttttt jangan berisik. Tolong lanjutkan di tempat lain gue ada urusan sama manusia ini,” segera Hojung masuk ke dalam kamar Yeri dan mengunci pintu kamar agar Irene tidak dapat masuk ke dalam kamar Yeri.

“Itu Yeri mau di apain hey?!!” teriak Irene panik.

“It’s okay, dia nggak bakal berani jahat sama adik kamu,” Seulgi mencoba untuk menenangkan Irene.

“T-tapi…,” segera Seulgi menangkup kedua pipi Irene dan menatapnya.

“Trust me okay?” Irene mengangguk pasrah.

“Good, sekarang masuk ke kamar, besok kamu udah mulai kerja,” Seulgi mengecup kening Irene.

“Good night, my lady,” bisik Seulgi.