Rose 2 : Eighteen


Dokter menyuruh Kellin untuk bed rest selama beberapa hari dan memindahkannya dari UGD ke kamar inap. Wira minta suster untuk menaikan kelas kamar menjadi VIP. Wira tidak mau Kellin terganggu oleh orang lain.

Tidak lama usai pemindahan kamar. Jerico pun datang dengan wajah panik dan sedikit tersengal napasnya akibat berlari mencari ruang dimana Kellin dirawat.

“Apa kata dokter?” tanya Jerico pada Wira.

“Kellin stress, kandungannya jadi melemah jadi dokter saranin buat bed rest beberapa hari,” jelas Wira.

“Terus bayinya?” tanya Jerico kembali.

“Baik-baik aja, untung gue langsung bawa ke sini,” ucap Wira.

“Pake apa? Kan lo pake motor tadi,” Jerico mengambil kursi lalu ia duduk tepat disebelah ranjang Kellin.

“Ada tetangga lewat pake mobil langsung gue stop, minta anter ke rumah sakit, di bawanya kesini,” Wira menghela napas sembari menatap wajah Kellin. Sesekali ia mengusap tangannya.

“Thank God,” Jerico bernapas lega setelah mendapat jawaban yang selama perjalanan ia di hantui oleh rasa takut jika terjadi hal yang tidak di inginkan pada Kellin, terutama dengan kandungannya.

“Ummmhhh.”

Wira dan Jerico menatap Kellin yang sudah siuman. Keduanya berdiri secara bersamaan lalu menatap Kellin dari dekat. “Kellin?” ucap Wira.

Perlahan mata Kellin terbuka. Ia mencoba untuk mentralkan pandangannya yang sedikit buram. Dua wajah yang ia kenal berada di hadapannya. Ia menatap aneh pada mereka. “Kalian ngapain disini?” tanya Kellin.

“Kamu tadi pingsan Lin, sekarang lagi di rumah sakit,” jelas Jerico.

“Hah?” Kellin menatap keduanya bingung.

“T-Terus bayinya?!” Kellin panik.

Wira menggenggam tangan Kellin untuk menenangkannya, “Bayinya sehat kok, kamu disuruh bed rest sama dokter.”

Kellin menatap Wira agak lama, lalu ia menepiskan tangannya agar terlepas darinya. Ia mengingat kejadian tadi siang ketika ia berdebat dengan Wira.

“Oh iya udah urus administrasinya belom?” tanya Jerico.

“Belom, dari tadi gue nungguin Kellin,” ucap Wira.

“Yaudah biar gue–”

“Gue aja, lo disini temenin dia,” potong Wira. Ia tersenyum simpul lalu pergi untuk mengurus administrasi Kellin.

“Sekarang udah ada orangnya kenapa di ketusin?” tanya Jerico.

“Nggak apa-apa masih sebel aja, aku haus Co, mau minum,” ucapnya.

“Oh iya, bentar,” segera Jerico mengambil gelas minum dan sebuah sedotan. Lalu ia mengarahkan sedotan pada mulut Kellin.

“Nanti orangnya pergi lagi, nangis, nggak mau makan,” ledek Jerico.

Plak!

“Aaahh!”

“BISA DIEM NGGAK?!” Kellin memukul wajah Jerico sedikit keras.

“Wah emang gini kali ya bumil, sensitif banget mana kuat lagi padahal lagi sakit,” gumam Jerico.