Rose 2 : Fifteen
Setelah perjuangan membeli makanan dan obat di tempat yang berbeda, kini Jerico sudah sampai di rumah Kellin. Ia memarkirkan motornya di garasi rumah Kellin. Tak lama sang pemilik rumah membuka pintu lalu melemparkan senyuman pada Jerico yang baru saja melepas helm.
“Fffuuuhhh panas, nih makan dulu abis itu minum obatnya,” Jerico memberikan pelastik kantung berisikan makanan dan obat pada Kellin.
“Hehe makasih Coco,” Kellin tersenyum lebar lalu ia melihat bungkus makanan hanya terdapat satu porsi. “Loh kamu nggak beli?”
“Aku bawa bekel di tas,” Jerico telah selesai melepaskan jaket dan sepatu. Lalu menaruhnya pada kursi teras.
“Ayo masuk,” Kellin mengajak masuk Jerico ke dalam rumah dan membiarkan pintu rumah terbuka. Ya kalian tahu bagaimana sensitifnya kuping-kuping para tetangga di Indonesia seperti apa.
“Aku ke kamar mandi dulu ya,” ucap Jerico.
“Iya,” Kellin yang berada di meja makan tengah sibuk memindahkan makanan pada mangkuk. Kemudian ia menyiapkan makanan dan minuman pada meja ruang tamu.
Melihat bakso di mangkuk membuat perutnya berbunyi. Sedari pagi perutnya belum di masukan makanan satupun. Bukannya tidak lapar. Melainkan ia tidak sanggup untuk mengolah makanan terlebih dahulu dikarenakan ia sibuk mondar-mandir ke kamar mandi.
Ketika sedang mencicipi kuah bakso Jerico keluar dari kamar mandi lalu menghampiri dirinya. “Ini punya kamu?” tanya Jerico sembari memegang sebuah benda kecil berbentuk seperti spidol. Test pack.
Kellin mendengakkan kepalanya lalu melihat apa yang Jerico pegang, kemudian ia mengangguk dengan santainya. “Kenapa emang?” Kellin melanjutkan menyuap bakso dengan lahap.
“K-Kamu hamil? Hamil anak aku?” tanya Jerico.
Kellin kembali mengangguk, “Siapa lagi kalau bukan kamu.”
Melihat Kellin dengan santainya menjawab membuat Jerico panik bukan main. Ia menatap Kellin dengan heran yang tengah asik dengan makanannya.
“Kamu kok nggak kasih tau aku? Terus kenapa kamu santai banget begitu?” tanya Jerico.
“Buktinya kamu udah tau kan, ngapain juga panik, lagian aku begini juga karena ulah aku juga kan,” jawab Kellin.
Jerico semakin tidak abis pikir. Ia mengacak-ngacak rambutnya. Napasnya sedikit tersengal. Rasanya ia ingin marah. Namun pada siapa.
“Sini duduk dulu, ayo,” ucap Kellin sembari menarik tangan Jerico.
Jerico menurut lalu ia duduk tepat di sebelahnya. Kellin mencoba untuk menenangkan Jerico. “Ayo makan dulu kamu belom makan siang kan,” ucap Kellin.
“Aku bakal tanggung jawab, aku bakal bilang sama orang tua aku buat nikahin kamu,” ucap Jerico.
Kellin menggelengkan kepalanya, “It’s okay, aku percaya kamu bakal tanggung jawab makanya aku tenang aja, tapi aku nggak mau menghalangi kebahagian kamu,” Kellin mengusap lembut pipi Jerico lalu ia tersenyum.
“I know you don’t love me, you loved Wira, kamu terlalu baik untuk aku sampai berkorban nemenin aku sampai sekarang, aku nggak mau memaksa kamu untuk menikahi aku karena aku hamil, aku bisa mengurusnya sendiri, kalau kamu mau nemenin aku ngurus anak kita aku masih memperbolehkan, ya karena emang udah seharusnya sih nanti anak kita kamu nafkahin hehe,” lanjut jelasnya kemudian mengecup pipi Jerico.
Jerico sudah tidak tahan. Ia menitihkan air mata. Ia sangat marah pada dirinya sendiri. Ia sudah gagal untuk menjaga Kellin. Perlahan ia turun dari sofa dan berlutut di hadapan. “M-Maafin aku, maafin aku karena gagal jagain kamu, gara-gara aku kamu jadi begini, seharusnya aku bisa tahan waktu itu, maafin aku,” kepalanya tertunduk tidak berani menatap wajah Kellin.
“Hey look at me,” Kellin mengangkat dagu Jerico agar ia menatap dirinya.
“Jangan salahin diri kamu, ini kesalahan kita berdua, aku juga tidak terpaksa kan waktu itu, stop salahin diri kamu ya, aku nggak suka, maaf kalau selama ini bikin kamu terbebani, dan makasih udah jagain aku selama ini juga, kalau nggak ada kamu mungkin aku nggak akan bertahan sampai saat ini, you’re a good man,” Kellin menghapus air mata Jerico di pipinya.
“Aku bakal perbaiki ini semua, aku janji,” ucap Jerico membuat Kellin kebingungan.
Six Years Ago
Sudah seperti biasa ketika jam istirahat berbunyi Kellin memilih untuk menghabiskan waktu istirahat di tempat favoritnya. Di bawah pohon rindang tepat disebelah lapangan basket. Menghabiskan bekal lalu kembali belajar itu lah hal yang di lakukannya. Tentunya sembari menanggapi kejailan anak laki-laki yang sedang bermain basket.
Sebenarnya tempat tersebut bukanlah tempat yang aman untuk belajar. Pertama sangat berisik dengan suara anak laki-laki dan kedua ia selalu di jaili oleh anak laki-laki. Namun dari semua itu ia tetap bertahan dikarenakan ia ingin melihat seseorang yang ia sukai. Wira Muljadi.
Wira selalu bermain basket di saat waktu istirahat. Ya ia menyukai Wira ketika pertama kali ia masuk di SMA Kwangya. SMA Elite yang dipenuhi oleh anak-anak pejabat dan pengusaha kaya raya. Termasuk Wira dan Jerico.
Namun ada hal ia sadari ketika berada di bawah pohon untuk memperhatikan Wira. Yaitu Jerico. Ia telihat sangat sabar jika menghadapi kelakuan Wira yang selalu menganiaya dirinya. Sampai waktu Wira terjatuh akibat ulahnya memanjat tiang basket. Jerico sangat sigap membantu Wira sedangkan teman-temannya yang lain sibuk menertawakan Wira. Saat itu ia tersadar jika Jerico menyukai Wira. Tidak hanya SMA saja, sampai mereka masuk jenjang kuliah pun Kellin dapat merasakan kalau Jerico sangat tulus mencintai Wira sampai ia merelakan waktunya hanya demi sandiwara yang Wira ciptakan.