Rose 2 : Five
“I’m home,” ucap Wira yang baru saja sampai di kediaman Maulia.
“Sayang!” Maulia berlari menghampirinya lalu memeluknya dengan erat.
“Ugh! Ada apa?” tanya Wira kebingungan.
“Nggak apa-apa, cuma kangen aja,” Maulia semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya pada ceruk leher Wira.
“Tumben, di kantor juga kan ketemu,” Wira membalas pelukannya tak kalah erat.
“Ehem!”
Wira terkejut melihat kemunculan Jessica dari dapur. “Huh?”
“Kamu udah makan malam belum?” tanya Jessica pada Wira.
“Ih kan tadi aku udah bilang mami,” protes Maulia.
“Belom kok mam hehe, belom kenyang maksudnya,” ucap Wira sembari cengengesan.
“Loh? Tadi katanya kamu abis makan malam sama temen,” Maulia menatapnya heran.
“Porsinya dikit,” bisik Wira.
“Yaudah ayo makan bareng, mami abis angetin rendang, kemarin mami masak rendang banyak,” Jessica kembali menuju dapur dan menyiapkan makanan pada meja makan.
“Iya mam!” sahut Wira.
“Kok kamu nggak bilang mami udah pulang sekarang? Katanya besok?” bisik Wira.
“Ih aku juga nggak tau, tadi pulang juga udah dirumah, ayo makan lagi mami bawain emping tau,” ucap Maulia lalu menarik Wira menuju meja makan.
Sebenarnya Wira memang tidak kenyang namun ia tidak berselera untuk makan banyak. Karena ibu Maulia sudah datang ia harus menghormatinya telah membawakan atau memasak untuk makan malam bersama. Ia merasa tidak enak jika menolaknya. Karena Jessica sudah membantu banyak dirinya selama ia pindah ke London, termasuk menerimanya di perusahaan miliknya. Wira sangat berutang budi pada ibu Maulia. Hitung-hitung ia kembali merasakan kehadiran sosok ibu yang sudah lama hilang semenjak ia masih duduk ke bangku sekolah dasar.
Semuanya sudah berada di meja makan dan memulai menikmati makanan yang dibawa Jessica dari Indonesia. “Um! Aku kangen banget sama rendang!” seru Maulia yang riang ketika merasakan masakan ibunya.
“Enak nggak? Ada yang kurang nggak?” tanya Jessica.
“Masakan mami mana ada yang nggak enak, enak semua hehe,” ucap Wira.
“Syukurlah, soalnya mami bawanya banyak buat stock kalian kalau mau makan tinggal angetin di microwave,” ucap Jessica.
“Paling seminggu juga udah abis sama anak mami,” ledek Wira sembari melirik Maulia.
“Ish!” Maulia mencubit kecil pinggan Wira. “Aku nggak serakus itu ya!”
“Haha padahal yang suka gadoin dirumah juga kamu,” ledek Jessica.
“Nggak ya! Enak aja! Lagian mami kenapa bawain rendang sih, kalo aku gendut salahin mami ya!” protes Maulia.
“Suka-suka mami lah, Wira aja nggak protes,” ucap Jessica.
“Oh iya kamu kapan mau ke Indonesia? Kemarin mami baru aja ngejenguk papi kamu,” ucap Jessica.
“Ngejenguk?”
“Loh kamu nggak tau? Papi kamu masuk rumah sakit kemarin, jantungnya kumat lagi karena ke capek-an,” jelas Jessica.
“Oh gitu, iya nanti aku atur jadwal dulu mam,” Wira tersenyum tipis lalu melanjutkan aktivitas makannya.
“Besok atau lusa kamu berangkat aja, kasian papi kamu,” ucap Jessica.
“Iya mam, tapi di kantor banyak kerjaan, aku selesain dulu, lagian ada kak Sella,” ucap Wira.
“Masalah kantor kamu bawa aja, wfh kan bisa, udah kamu pulang aja dulu, Sella juga pasti sibuk ngurusin kantor juga kan, kamu ajak aja Maul, mami masih lama kok disini,” perintah Jessica.
“Tumben banget nyuruh aku ikut Wira biasanya nggak boleh,” celetuk Maulia.
“Dari pada mami pusing, huhu mami aku kangen Wira, huhu mami aku pengen ketemu Wira, mami kenapa aku nggak boleh ikut Wira, huhu mami, huhu mami,” ledek Jessica.
“Ih! Mana ada ya aku begitu!” protes sang anak.
“Jadi nggak mau ikut? Yaudah.”
“Ih! Mau mami!”
“Jadi lo pacaran sama Maulia?”
“Kata siapa?”
“Gue liat sendiri lo sering jalan berdua sama dia.”
“Gue nggak pacaran, just FWB,” jelas Wira.
“Oh gitu,” ucap Jerico.
“Jadi lo mau ketemu gue cuma mau nanyain itu?” tanya Wira.
“Nggak juga sih, udah lama juga gue nggak nongkrong sama lo,” ngeles Jerico.
“Dua tahun ya? Lama juga ya, kaya baru kemarin gue ninggalin lo haha,” ucap Wira.
“Oh iya lo kok nggak ngundang gue ke acara tunangan lo?” tanya Wira.
“Tunangan?”
“Kan kemarin lo tunangan kan sama Kellin?” tanya Wira kembali.
“Oh, oh iya, sorry gue lupa, lagian juga acaranya cuma keluarga inti doang,” jelas Jerico.
“Gila gue dilupain gitu aja, jahat banget lo anjing,” Wira menendang kaki Jerico hingga meringis kesakitan.
“Akh anjing sakit! Maaf elah! Ngedadak juga itu, ide nyokap,” jawab Jerico.
“Kamu beneran mau pulang? Kalo masih berat jangan dulu juga nggak apa-apa,” Maulia mengusap perlahan kepala Wira yang terbenam di dalam pelukannya. Mereka sudah berada di ranjang.
“Aku nggak apa-apa,” jawab Wira.
“Mau aku pesenin tiket kapan? Lusa ya? Mau?” tanya Maulia kembali.
“Terserah kamu,” Wira semakin mengeratkan pelukannya dan mendusalkan wajahnya pada dada Maulia.
“Okay besok aku pesenin, good night sayangku,” Maulia mengecup pucuk kepala Wira. Tak ada balasan, sepertinya Wira sudah tertidur lelap.
Maulia mengusap lembut punggung wanita kesayangannya. Ia belum mengantuk. Lebih tepatnya ia tidak dapat tidur. Banyak hal yang memenuhi pikirannya. Termasuk Wira.
Few Months Ago
“Wira kayanya ketiduran deh,” Maulia melihat jam tangan yang melekat di pergelangan tangannya menunjukan pukul 5 sore.
Ia sedang berada di lobby apartemen Wira. Maulia memiliki janji dengannya akan makan malam di restaurant terkenal. Sebenarnya mereka sudah memesan meja untuk hari ini dari beberapa bulan lalu, dikarenakan sangat ramainya pengunjung yang datang kesana.
Sudah dua puluh menit lamanya ia menunggu akhirnya ia memutuskan untuk menuju lantai apartemennya. Setelah sampai, ia menekan tombol bel. Dua kali ia menekan namun tak ada jawaban. Sebenarnya ia sudah tahu password pintu apartemen Wira. Hanya saja ia ingin menjadi tamu biasa. Yang menunggu sang pemilik membukakan pintu untuknya.
Prank!! Haarghhhh!!
Terdengar jelas suara pecahan kaca dan teriakan seseorang berasal dari dalam apartemen Wira. Dengan panik Maulia membuka pintu tersebut lalu mencari keberadaan Wira. Terlihat di dalam begitu berantakan dengan barang-barang yang pecah berserakan dilantai.
“W-Wwira?”
Saat ia sudah berada di ruang tengah, ia melihat Wira tengah meninju tembok berkali-kali hingga mengeluarkan bercak darah begitu banyak di tangan maupun tembok. Sempat termenung. Kemudian ia segera sadar dan berlari menghampirinya.
“WIRA! KAMU KENAPA?” Maulia menahan aksinya agar tidak meninju tembok kembali.
Wira menghiraukannya. Namun Maulia tetap menahan dirinya. Ia menangkup kedua wajah Wira. “Hey! Hey! Look at me! What happened?”
Wira akhirnya berhenti lalu menatap wajah Maulia. Ia menunduk. Ia sudah tidak kuat. Ia menangis. Maulia segera menarik tubuhnya lalu memeluknya dengan erat. Matanya teralihkan pada ponsel Wira yang tergeletak di lantai. Layarnya menampilkan sebuah postingan sosial media. Disana terdapat foto seorang wanita mengenakan dress hitam. Terlihat cantik. Dan ia melihat captionnya hanya sebuah emoticon cicin. Ia mengerti. Lalu ia segera menenangkan Wira yang masih saja terisak.
“It’s okay! You did well, it’s okay, I’m here for you.”