Rose 2 : Nine


“Gimana kerjaan lo di London? Lancar?” tanya Ginata yang memulai pembicaraan.

“Lancar, lo gimana?” tanya Wira.

“Lancar juga,” jawab Ginata.

“Jadi lo berdua pacaran?” tanya Naomi dengan wajah tidak suka terutama pada Maulia.

Sempat diam sejenak. Wira merangkul bahu Maulia, kemudian ia mengangguk sembari matanya melirik ke arah Kellin. “Ya, dia yang bantu gue selama di London, jadi kita pacaran sekarang.”

Mendengar jawaban dari Wira membuat hati Kellin tersayat. Ia menghela napas. Ia sudah mulai tidak nyaman dengan situasi ini. Jerico menyadari jika Kellin sudah tidak nyaman.

“Are you okay?” bisik Jerico sembari memeriksa keadaan Kellin dengan menatap wajahnya dari dekat.

“I’m fine, don’t worry,” Kellin tersenyum lalu mengusap pipi Jerico.

Tentu saja Wira sedari tadi memperhatikan mereka dan berhasil membuat Wira cemburu. Hatinya terasa sangat panas. Ingin sekali ia menghajar Jerico namun ia sudah bukan siapa-siapa.

“Sayang kamu gerah?” tanya Maulia.

“Sedikit,” jawabnya.

Ketika Maulia ingin mengambil tisu yang berada di tengah meja, dengan sengaja ia menyenggol gelas hingga tumpah mengenai pakaian Naomi. Sontak Naomi berdiri dan melihat pakaiannya basah karena ulah Maulia.

“GILA YA LO! SENGAJA BANGET LO!” teraik Naomi.

“Ups sorry gue nggak sengaja, nih tissue buat ngelap,” Maulia menyodorkan tissue yang berada di tangannya pada Naomi. Namun tangannya di tepis dengan keras oleh Naomi.

“Ayo ke toilet bersihin dulu terus ganti,” ucap Kellin yang mengajak Naomi untuk pergi ke toilet.

Sementara Ginata, Jerico, dan Wira hanya diam menyaksikan pertikaian kecil anatara Maulia dan Naomi. “Gue ke kamar dulu deh, kayanya harus ganti si Naomi,” Ginata segera menyusul Naomi dan Kellin.

“Eh lo pada laper nggak? Gue mau mesen makanan,” ucap Jerico.

“Gue apa aja deh yang enak, kamu mau apa yang?” tanya Wira pada Maulia.

“Umm,” mata Maulia melirik ke meja sekitar lalu ia melihat makanan yang menurutnya menarik, “Gue mau yang itu deh boleh kan?” tanya Maul pada Jerico.

“Ya boleh lah asal lo bayar haha, yaudah gue pesenin dulu ya sekalian minta rapihin meja,” Jerico bangkit dari kursi lalu masuk ke dalam restaurant hotel.

“Kamu sengaja bukan numpahin minuman ke Naomi?” Wira menatap Maulia.

“Hum,” Maulia mengangguk.

“Abis ngeselin banget tiba-tiba mukul kamu terus nabrak aku gitu aja!” lanjutnya dengan wajah bete.

Wira tersenyum, “Haha maafin ya kalau temen-temen aku bikin kamu bete.” Wira mengusap kepala Maulia. Kemudian Maulia menjawabnya dengan anggukan kepala.

“Wir!” sapa seseorang dari belakang Wira dan Maulia.

Wira pun menoleh, “Eh Gas kenapa?”

“Biasa ngobrol bentar masalah bisnis,” ucap Bagas yang duduk disebelah Wira.

“Apa tuh?” Wira membenarkan posisi duduknya sedikit menghadap ke arah Bagas.

“Rencan nih, rencana ya, gue mau buka cabang hotel di Jakarta atau Bogor deh, kira-kira nih lo mau join kaga?” tanya Bagas.

Sebelum menjawab pertanyaan Bagas. Jerico muncul langsung menepuk keras kepala Bagas. “Wah bangsat gue nggak di ajak!”

“Anjing lo, lo aja baru muncul,” protes Bagas.

Jerico kembali duduk di tempat semula, kemudian ia mengambil gelas minuman miliknya lalu meneguknya, “Gue join! Gue join! Awas ye lo berdua bisnis nggak ngajakin gue! Gue somasi lo berdua!”

“Nah si Cocot join, lo join, makin bagus dah, bakal jadi cepet ini mah, dananya ngalirnya cepet juga haha,” ucap Bagas.

“Berapa dulu nih investnya?” tanya Wira.

“Gimana lo 45, Cocot 45, sisanya gue, gimana?” jelas Bagas.

“Ye bangsat itu mah lo minjem duit!” Wira menjitak keras kepala Bagas.

“Ya namanya juga usaha ya bang,” ucap Bagas sembari meringis kesakitan.